Kapan Nyusul?

Kapan Nyusul?

Suatu hari, Ahmed menghadiri acara walimatul ‘ursy (bc: resepsi) pernikahan seorang temannya. Sebutlah namanya Sutrisno yang berhasil mempersunting gadis impiannya bernama Titin. Ahmed dan Sutrisno merupakan kawan karib sejak lama. Kedua orangtua mereka pun saling mengenal. Di tengah-tengah acara pesta resepsi, Ahmed bertemu dengan orangtua Sutrisno. Karena melihat Ahmed datang ke pesta pernikahan sendirian tanpa gandengan, maka ayah Sutrisno (pakdhe Supar) pun meledek Ahmed dengan sebuah pertanyaan bernada retoris. “Masih sendiri saja Med?” ujar pakdhe Supar.

Buruan nyusul Trisno (Sutrisno_pen) lah Med..! Nunggu apa lagi?” tambahnya dengan sedikit senyum tersungging dari wajahnya yang oval. Baca lebih lanjut

Award Pertemanan Antar Narablog

Award Pertemanan Antar Narablog

Sekitar pukul 22.40 WIB, ada ping link yang muncul di komentar cpanel blog. Blog dengan identitas “Hidup Itu Harus Dinikmati”. “Owh, si Asop. Ada apa kok ngelink blogku,” kataku dalam hati. Enam menit berselang, muncul komentar dari Asop. “Mas Ahmed, selamaaaat! Dapet award nih, monggo ke sini,” tulisnya di kolom komentar Hukuman Tertangkap Basah Merokok di Sekolah. Selain dari Asop, aku juga memperoleh Award ini dari Ladeva dan Sang Penjelajah Malam. Ya, seperti yang sudah-sudah, ada sebuah award yang diberikan kepada blog ini, blog yang mengusung jargon “Sometimes Words are Much Sharper Than Swords”.

Basically, aku cukup merasa senang atas penganugerahan award ini (halah). Penganugerahan suatu award memang bukanlah seperti kompetisi ala liga sepakbola, atau piala citra dalam FFI, atau award yang diberikan kepada para musisi yang digelar setiap tahun. Award dalam dunia blog (blogosphere) sebenarnya lebih terasa sebagai simbolisasi wujud pertemanan dan persahabatan antar blogger (narablog). Entah siapa yang pertama kali memulainya, ide seperti ini sangat bagus dalam menyambung tali silaturahmi (friendship) antar blogger. Baca lebih lanjut

Puri, Semoga Allah Memberimu Yang Terbaik….

Puri, Semoga Allah Memberikanmu Tempat Terbaik….

Sudah sekitar tiga bulan salah seorang kawanku yang cukup akrab di dunia maya tak pernah sekalipun muncul kembali. Tak ada satupun kabar tentangnya yang dapat kuperoleh. Tak ada lagi canda di Yahoo Massenger (YM) dan diskusi tentang Filsafat di Yahoo Answer lagi. Tak pernah lagi ada saling komentar di blog dan perdebatan lainnya. Tak ada lagi sebutan “kakak” untuk ku. Semuanya menjadi lebih sepi selama tiga bulan terakhir. Aku benar-benar kehilangan seorang sahabat.

Puri, demikian aku menyebut namanya. Aku lupa kapan pertama kali mengenal namanya di dunia maya. Seingatku, aku mengenalnya melalui blog Puri The Pink Octopus. Sebuah blog yang pada awalnya condong bertutur tentang filsafat. Aktivitas berkomentar, diskusi, dan perdebatan lah yang kemudian mengakrabkan kami sampai kami bisa bersahabat (di dunia maya). Namun kini, aku tak tahu dimana sekarang ia berada. Baca lebih lanjut

Ups..!! Ada ‘Cempaka’ di Rumahku……

Kemaren (28-30 Mei 2010) saat pulang ke rumah di Solo, aku dibuat tersenyum sendiri saat melihat pada sebuah taplak meja di kamar tamu rumahku. Pandanganku langsung saja mengarah ke Jember. Aku teringat dengan seorang blogger yang tengah kuliah di kota itu, Cempaka namanya. Lantas apa hubungannya Cempaka dan taplak meja? Apa Cempaka seperti taplak meja? 😀 Tentunya tidak, meskipun aku belum tahu dia seperti gimana. 🙂 Aku hanya reflek tersenyum sementara otakku memutar cepat rekaman file-file yg tersimpan dalam kepalaku, saat aku melihat gambar / foto di bawah ini saja.

Baca lebih lanjut

Tiga Hari Liburan Hanya di Rumah

Sumber gambar: azzahra08.wp.com

Sumber gambar: azzahra08.wp.com

Tiga Hari Liburan Hanya di Rumah

Tak seperti biasanya, liburan long weekend kali ini terasa tak seperti biasanya. Disamping karena kawan-kawanku di Solo yang sudah mulai meninggalkan kampung halamannya untuk merantau meretas karir pekerjaan demi penghidupan, liburan kali ini badanku merasa kurang bugar dan kurang sehat. Akibatnya, aku tidak mau mengambil resiko keluar jalan-jalan keliling Solo seperti liburan-liburan biasanya karena takut badanku justru bertambah parah sakitnya.

Bukan sakit yang berat sih memang, hanya saja aku merasa khawatir jika aku masih sakit atau justru bertambah sakit saat liburan berakhir sementara aku sudah harus kembali rutin dalam aktivitas kerja di kantor nantinya. Oleh karena itulah aku tidak berani mengambil resiko keluar jalan-jalan. Harapanku untuk ikut menonton film di acara Jifest 2010 yang berlangsung di kawasan Taman Sriwedari pupus sudah. Harapan bersilaturahmi ke rumah simbah Barid yang pernah ikut mengajariku bahasa Arab secara privat dan pak Joko Mulyono yang menjadi guru favorit Matematika di SMA juga mesti kuurungkan. Baca lebih lanjut

Sekilas Mengenal Irving Karchmar (Penulis Novel Master of The Jinn)

Irving Karcmar (sumber: OhMyNews.com)

Irving Karcmar (Penulis Novel Master of The Jinn)

Beberapa jam sebelum aku posting artikel ini, aku membaca blog Puri The Pink yang memposting sebuah artikel / tulisan Manusia Akan Celaka Jika Hanya Diadili Hanya Dengan Keadilan Belaka (terlalu banyak HANYA kalao kataku, hehehehe). Di dalam postingan itu ditampilkan sebuah potongan kisah dari sebuah novel favorit Puri, yang berjudul “Sang Raja Jin : Novel tentang Cinta, Doa, dan Impian”. Novel bagus itu ditulis oleh seorang penulis bernama Irving Karchmar. Bermodal informasi dari Cempaka yang komentar pada postingan itu, maka aku pun mencoba mencari tahu tentang sang penulis lebih lanjut.

Setalah search sana dan sini, akhirnya kuperolehlah informasi pendek tentang Irving Karchmar. Irving Karchmar ternyata adalah seorang anak keturunan Bani Israel (Baca: Yahudi) yang orangtuanya merupakan korban Holocaust (meskipun kebenaran Holocaust dalam sejarah masih perlu diperdebatkan_pen). Mantan pemeluk agama Yahudi ini, kemudian masuk Islam dan menjadi seorang sufi / darwis. Ia berbaiat masuk dalam aliran Tarekat Sufi Nimatullahi sejak tahun 1992 hingga sekarang. Baca lebih lanjut

Selamat Hari Lupus Se-Dunia !!!

Lupus Sering Disimbolkan Dengan Kupu-Kupu

Lupus Sering Disimbolkan Dengan Kupu-Kupu

Hari ini adalah tanggal 10 Mei 2010. Bagi sebagian besar orang, hari ini bukanlah hari yang nampak istimewa. Hanya hari Senin biasa yang berarti para pegawai mulai berangkat ke kantor kembali setelah menikmati liburan baik sejak Sabtu (bagi yang Sabtu libur) dan atau Ahad. Namun bagi sebagian kalangan di berbagai belahan dunia, 10 Mei adalah sebuah hari yang cukup istimewa, terutama bagi mereka para penderita (aku kesulitan mencari kata selain penderita) Lupus atau yang lebih dikenal dengan sebutan Odapus (Orang dengan Lupus). Tahukah kamu apa itu penyakit Lupus? Hmm,, setidaknya pernahkah kamu mendengar istilah penyakit Lupus ? 😦 Bukan salah kamu jika memang kamu baru mendengar penyakit yang satu ini.

Aku sendiri sebetulnya telah lama mendengar istilah penyakit Lupus sejak lama, sejak kelas 1 SMA (sekitar 10 tahun lampau). Aku memperoleh istilah Lupus pertama kali dari membaca surat kabar Republika yang dalam beberapa edisi di dalam rubrik kesehatan kerap menyinggung perihal penyakit Lupus. Sayangnya, ketika itu -entah kebodohanku entah gimana- aku merasa belum terlalu mengerti apa sih penyakit Lupus itu. Ketika itu aku hanya menangkap informasi -entah benar entah salah- bahwa Lupus adalah penyakit yang tidak menular namun sangat mematikan. Aku coba tanya ke orangtuaku, keduanya pun juga tidak terlampau paham apa itu penyakit Lupus. Saat itu, aku belum terlampau kenal dengan dunia internet, kecuali sekedar untuk chatting MIRC dan melihat berita Bola semata.

Pernah dalam suatu kesempatan sesi pertanyaan di kelas, ada seorang guru yang oleh banyak kawan-kawan dipuji-puji karena pengetahuannya yang luas dan bagusnya kala mengajar -meskipun aku tidak terlalu sepakat dengan kebanyakan pendapat kawan-kawan. Kebetulan, saat kelas tiga, aku diajar olehnya. Namanya sebut saja Fathi. Seorang guru Biologi. Dalam sebuah kesempatan pertanyaan bebas, aku beranikan diri untuk bertanya mengenai apa itu penyakit Lupus, bagaimana gejala-gejalanya, lalu bagaimana pula penanganan pertama yang harus dilakukan dan beberapa pertanyaan lainnya yang sedikit berhubungan.

Alangkah kecewanya aku dengan jawaban yang ia utarakan. Guru yang dianggap baik oleh kawan-kawan itu justru memberikan kesan buruk kepadaku. Ia mentertawakan materi pertanyaanku. “Mana ada penyakit kok namanya penyakit Lupus?” ujarnya. “Sindrom Lupus baru ada itu,” lanjutnya. Merasa penasaran, maka aku pun benar-benar memperhatikan uraianya selanjutnya. “Jadi, sebuah sindrom karena seseorang yang sangat pengin nonton film Lupus atau sangat terobsesi untuk menjadi tokok Lupus dalam film Lupus sehingga hidupnya menjadi terobsesi sepertinya, nah itu baru mungkin. Itulah sindrom Lupus. Kalau penyakit Lupus, seumur-umur saya baru mendengarnya hari ini tadi,” jawabnya samabil terseyum yang kemudian diikuti tawa geli kawan-kawan sekelas. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: