Kantor Tata Usaha Pikiran Rakyat

Kantor Tata Usaha Pikiran Rakyat - Bandung

Kantor Tata Usaha Pikiran Rakyat - Bandung

Kantor Tata Usaha Pikiran Rakyat

Sejarah harian Pikiran Rakyat berawal pada kisaran bulan Januari 1966 di Bandung. Sejumlah wartawan kota Kembang harus kehilangan pekerjaan karena surat kabar N.V. bernama Pikiran Rakyat tempat mereka bekerja harus berhenti terbit. Koran yang pertama kali terbit pada 30 Mei 1950 itu harus berhenti terbit karena terlambat memenuhi ketentuan peraturan pada saat itu yang mengharuskan setiap surat kabar untuk berafiliasi dengan salah satu kekuatan politik atau memilih bergabung dengan koran yang ditentukan oleh Departemen Penerangan. Sebuah regulasi yang aneh memang jika dilihat pada masa ini. Namun hal itu menjadi sebuah kebijakan umum pada konteks saat itu yang. Baca lebih lanjut

Kantor Pusat PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero)

Kantor Pusat PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero)

Indonesia memiliki beberapa perusahaan berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perkebunan. BUMN Perkebunan yang sampai saat ini masih eksis dan lestari ada sebanyak 15 perusahaan BUMN. Mereka adalah PT. Perkebunan Nusantara I, II, III, sampai dengan IV (biasa disebut dengan PTPN) dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia. Salah satu diantara perusahaan BUMN perkebunan itu adalah PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero) yang kantor pusatnya berkedudukan di Bandung. Baca lebih lanjut

Win-Win Solution

Sumber gambar silakan klik di gambar

Sumber gambar silakan klik di gambar

Win-Win Solution

Andi dan Iwan adalah dua orang siswa baru sebuah SMA yang tinggal dalam satu kamar asrama. Suatu saat, keduanya menghadapi ulangan pelajaran. Demi memperoleh nilai yang maksimal, keduanya menyiapkan diri dengan belajar di malam ulangan. Andi tipikal siswa pembelajar yang lebih merasakan mudahnya mencerna pelajaran sambil mendengarkan musik. Sementara Iwan merupakan tipikal siswa pembelajar di kesunyian. Iwan tak bisa mencerna pelajaran ketika suasana lingkungannya berisik.

Kedua orang siswa tersebut boleh dibilang memiliki tipikal pembelajar yang bertolak belakang. Mesti harus ada solusi buat keduanya. Setelah berunding dengan baik, akhirnya dicapailah sebuah kesepakatan antara Andi dan Iwan agar saling mendukung dan tidak saling merugikan. Karena Andi lebih mudah mencerna pelajaran sambil mendengarkan musik, maka Iwan rela meminjamkan walkman-nya kepada Andi. Sehingga dengan demikian, Andi tetap bisa mendengarkan musik untuk memudahkan pembelajarannya. Namun di sisi lain, Andi tidak mengganggu Iwan yang model pembelajarannya lebih suka dalam suasana yang tidak bising (sunyi). Baca lebih lanjut

Sarapan Soto, Mau?

Sarapan Soto, Mau?

Sarapan Soto, Mau?

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Kapan Nyusul?

Kapan Nyusul?

Suatu hari, Ahmed menghadiri acara walimatul ‘ursy (bc: resepsi) pernikahan seorang temannya. Sebutlah namanya Sutrisno yang berhasil mempersunting gadis impiannya bernama Titin. Ahmed dan Sutrisno merupakan kawan karib sejak lama. Kedua orangtua mereka pun saling mengenal. Di tengah-tengah acara pesta resepsi, Ahmed bertemu dengan orangtua Sutrisno. Karena melihat Ahmed datang ke pesta pernikahan sendirian tanpa gandengan, maka ayah Sutrisno (pakdhe Supar) pun meledek Ahmed dengan sebuah pertanyaan bernada retoris. “Masih sendiri saja Med?” ujar pakdhe Supar.

Buruan nyusul Trisno (Sutrisno_pen) lah Med..! Nunggu apa lagi?” tambahnya dengan sedikit senyum tersungging dari wajahnya yang oval. Baca lebih lanjut

The 13th Warrior, Kisah Ksatria Muslim di Bumi Utara

The 13th Warrior, Kisah Ksatria Muslim di Bumi Utara

Bismillahirrahmanirrahim

Menengok film-film produksi masyarakat Barat (Eropa) dan Amerika (Hollywood) yang ‘ramah’ terhadap dunia keislaman dan kearaban boleh dibilang cukup sulit. Kebanyakan film-film produksi Hollywood lebih sering menggambarkan prototipe kasar, ‘barbar’, bodoh, ketinggalan zaman, penghambur uang, atau penggemar wanita. Terlepas benar atau tidaknya dengan penggambaran itu secara sederhananya sulit untuk mencari film-film yang ramah terhadap dunia muslim atau Arab (karena seringkali Islam dikonotasikan dengan Arab).

Nah, diantara sekian banyak film-film Hollywood yang menyudutkan Islam, ada sebuah film yang sedikit memposisikan sosok seorang muslim dengan cukup objektif dan menjauhkan stigma-stigma negatif yang sering ditemui. The 13th Warrior, demikian judul film itu.

Bagi yang sangat tertarik menemukan secercah sinar Islam, ini adalah salah satu film yang layak untuk ditonton. Namun jika dari sudut pandang cerita, efek, pencahayaan, dan hal-hal teknis lainnya, jujur film ini sebetulnya kurang asyik untuk dinikmati. Mungkin karena sebab itu juga, film yang menghabiskan biaya mencapai 160 juta dollar AS ini tidak mampu mencapai BEP. Produser harus rela merugi karena pendapatan film hanya mencapai 60an juta dollar AS saja. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: