Namanya Lylo Sastro


Namanya Lylo Sastro;

Bangun tidur setelah semalam tidur nyenyak dari liburan seharian di Semarang sungguh menyenangkan. Agenda hari ini adalah pergi beli tiket kereta ke Stasiun Solo Balapan, lalu ke rumah mas Zaki Setiawan, mampir ke kantor Persada Privat, ke rumah Muhammad, dan ke Karanganyar ke rumah mas Samsuri – teman kostan.

Di tengah perjalanan, terlintas pikiran mampir ke kantor kawan kenalan baru. Lylo Sastro, demikian namanya yang tertulis di dalam situs jejaring sosial yang tengah digandrungi di seluruh dunia, Facebook. Ku mengenal namanya saat ku add dia pada tanggal 22 Juni 2009. Tak serta merta setelah ku add account-nya ia mengkonfirmasi permintaan kawan dariku. Beberapa hari kemudian tanggal 26 Juni 2009, barulah ia mengkonfirmasi permintaan perkawananku. Awal aku menemukan account namanya di jejaring FB dari group Alumni FH UNS 2004 yang di-create oleh sahabatku, Yudho. Karena kurasa semua yang tergabung dalam group ini merupakan kawan-kawan satu perjuangan dan satu angkatan saat duduk di bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret (baik yang kukenal maupun yang hanya kutahu, pernah lihat, pernah dengar namanya, pernah rasakan (kalau yang ini cuman guyonan saja, heheehe) atau yang sama sekali ku tak tahu nama dan fisiknya sama sekali) maka aku meng-add semua anggota group ini dan mengajukan penawaran menjadi kawan dalam daftar list FB ku. Diantara nama yang ku add ada sebuah account nama Hapsari Sastro (sekarang ganti nama menjadi Lylo Sastro).

Waktu berjalan mentakdirkan kami online di chat online FB dalam waktu yang bersamaan. Aku mengawali pembicaraan dalam bahasa tulis dengan kalimat, “Assalamu’alaikum, anak FH 2004 juga? Sekarang dimana?”. Demikian seterusnya, terjalinlah percakapan dan obrolan ngalor ngidul antara aku dan dia.

Saat itu dalam status hubungannya, ia menampilkan status Engaged (tunangan-dalam bahasa Indonesia). Hanya saja, ketika itu ia tidak menjelaskannya dengan siapa. Ketika kutanya kenapa ia sudah mau bertunangan pada usia yang relatif muda menurutku (20 th), ia menjawab “kalau bisa malah segera menikah aja mas..”. Dalam usia semuda itu telah siap untuk mengabdikan diri sebagai seorang istri dan calon ibu, dalam pandanganku merupakan suatu hal yang patut ku apresiasi. Terlebih lagi, salah satu alasan yang ia kemukakan adalah karena untuk apa berlama-lama berhubungan jika memang telah saling suka dan cinta. “Menikahlah solusinya meskipun masih muda karena muda bukan halangan untuk membangun rumah tangga,” ujarnya. Secara jujur aku memberikan apresiasi tersendiri kepada beberapa kawan yang berani melakukan langkah-langkah serupa, menikah dengan alasan yang menurutku cukup bijaksana.

But One day, dalam newsfeed yang muncul di laporan FB ku, muncul status Single dalam status hubungannya. Bagaimana bisa, tunangan yang ia katakan serta panjatkan dalam doanya agar segera terwujudkan hubungan yang lebih resmi dan jelas berwujud pernikahan dalam bulan Desember 2009 tiba-tiba terhapus. “Ah, tidak ada yang tidak mungkin dalam kekuasaan Allah” pikirku. Obrolan-obrolan, diskusi-diskusi, dan percakapan-percakapan diantara kami mulai lebih banyak terjadi. Banyak pula beberapa orang yang lain yang terhubung menjadi kawanku melalui media jejaring FB ini. Agaknya, suatu pertemanan kini mulai menemukan dimensi barunya dan modernisasi perkembangan.

Pada sebuah kesempatanku pulang ke Solo ini, tgl 11 dzulhijjah 1430 H, ku sempatkan untuk mengunjungi beberapa kawan yang sekiranya bisa kukunjungi sebagai bentuk silaturahmi. Terlintas dalam pikirku untuk mengunjungi Lylo Sastro, seseorang yang ku kenal dalam dunia maya, yang belum pernah kulihat secara tatap muka. Lewat komunikasi sms dari handphone yang nomornya kuperoleh setelah bertukar nomor dalam sebuah kesempatan, aku diberitahu lokasi alamat kantor kerjanya. Tak kusangka, kantornya terletak di dekat Kantor Persada Privat, sebuah lembaga belajar privat yang kurintis bersama Zaki Setiawan, kawanku. Waktu memberikan dua menit nya kepadaku untuk bertanya sesuatu yang kurasa ia ketahui di tengah kesibukan kerjanya menyelesaikan laporan simpro (aku ga tahu apa itu simpro).

“Assalamu’alaikum. tahu nggak kamu alamat ini?” kalimatku mengawali.

“Hmm, makasih ya atas infonya. Kalau gitu, saya mau ke sana dulu. Assalamu’alaikum, sampai jumpa lagi di dunia maya ya…” kataku mengakhiri pertemuan sambil membunyikan klakson motor. Tak berapa lama, bayangku menghilang dari pandangannya (lebay, hahahahaha).

Iklan

2 Tanggapan

  1. ups, kirain dian sastro.. 🙂

  2. @Ingreen: hahahahaha
    mungkin itu adiknya jauh kali ya..
    hahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: