Express Yourself | We’re Muslim, #No #ValentinesDay

I'm Muslim, #No #ValentinesDay

I’m Muslim, #No #ValentinesDay

Yuk bikin gerakan aksi campaign #NO ‪#‎ValentinesDay‬ via social media dengan cara mengupload foto2 ekpresi selfie mu dengan menuliskan pesan penolakanmu terhadap segala kegiatan yg berbau perayaan Valentine’s Day. Contohnya simple kayak gini. Semoga umat makin aware thd upaya pendangkalan akidah seperti itu…

caranya mudah:
Foto – Upload – Share – Invite [FUSI]

#No #ValentinesDay

Baca lebih lanjut

Benarkah Petugas Pajak Tempatnya Di Neraka?

Pegawai Pajak di Neraka?

Pegawai Pajak di Neraka?

Benarkah Petugas Pajak Tempatnya Di Neraka?

“Sesungguhnya, pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka.” (HR Ahmad 4/109, Abu Dawud
kitab Al-Imarah : 7) Baca lebih lanjut

Petugas Pajak Tempatnya di Neraka ???

Petugas Pajak Tempatnya di Neraka ???

Beberapa hari lalu ada status Facebook yang menulis tentang status yang kurang lebih isinya sebagai berikut, [“Petugas Pajak tempatnya di neraka.” subhanallah,, ilmu baru bagiku. Ngeri… :-s]. Tak butuh waktu lama, komentator-komentator pun bermunculan sebagai respon atas status ‘kontroversial’ tersebut. Berikut beberapa respon dan komentar-komentarnya:

  1. balung gereh lik..!!..hiiiiiii [bahasa Jawa yang terjemahnya ‘duri ikan’]
  2. 0p0 iyo?
  3. mosok??? Jgn2 ilmu dr H*I?? Aq kyk’e prnh dnger… wallahu a’lam..
  4. jo gtu,kakaku kerja dpajak insy slalu di jalanny ALLAH
  5. hati-hati dalam menjudge pekerjaan seseorang lho, bahwa itu masuk neraka…

Selanjutnya, muncullah diskusi-diskusi kecil tentang pernyataan pada status tersebut. Rata-rata pertanyaan yang muncul adalah Kok bisa?

Aku pun juga bertanya-tanya darimana pernyataan tersebut berasal sampai-sampai seorang petugas Pajak disebut sebagai penghuni neraka. Jangan-jangan ini hanya pernyataan dari seseorang tokoh yang tidak suka dengan Kantor Pajak, Gayus, atau oknum-oknum Pajak.

Selidik punya selidik, pernyataan tersebut ternyata berasal dari ucapan Rasulullah SAW. Bagi orang muslim, ucapan Rasulullah SAW atau yang lebih sering disebut dengan sabda Rasul atau hadis adalah merupakan salah satu diantara 2 (dua) sumber panduan hidup utama. Lantas bagaimanakah ucapan beliau ? Baca lebih lanjut

Selamatkan Indonesia dari Bencana

Selamatkan Indonesia

Pada saat hampir yang bersamaan terjadi beberapa bencana alam dan musibah di beberapa wilayah Indonesia. Pertama, letusan gunung Merapi di perbatasan D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tanggal 26 Oktober 2010. Kedua, gempa bumi yang diikuti dengan gelombang tsunami di kepulauan Mentawai pada tanggal yang sama. Sebelumnya, terjadi kecelakaan Kereta Api minimal 3 kali dalam waktu tak lebih dari sebulan; kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Sumatera dan Singapura serta Malaysia karena kebakaran hutan di Sumatra; banjir yang menggenangi beberapa kota antara lain DKI Jakarta; dan hujan disertai angin ribut serta badai memporakporandakan beberapa kota; merupakan kejadian-kejadian luar biasa yang patut kita renungi bersama-sama.

Banyak orang menilai, apa yang semua terjadi itu merupakan ujian bagi seluruh bangsa Indonesia. Betulkah demikian? Dengan begitu banyaknya bencana dan kejadian-kejadian luar biasa di negeri ini dan tak kunjung selesai bahkan terkesan estafet itu masihkah kita menganggap dan mengklaim diri kita sebagai orang-orang beriman yang layak untuk memperoleh ujian-ujian dari Allah? Atau justru sebaliknya, kejadian-kejadian dan bencana yang hampir tak pernah berhenti menerpa negeri ini merupakan siksa dan azab bagi seluruh masyarakat negeri ini karena kita semua adalah orang-orang pendosa dan dzalim yang sangat layak untuk diberikan peringatan keras dari Allah?

Barangkali kita perlu sejenak mendengarkan syair Salman Al Jugjawy (a.k.a Sakti eks SO7) berikut ini tentang bagaimana dia menyikapi bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini dengan potongan-potongan video tsunami dan erupsi gunung Merapi. Baca lebih lanjut

Kembali Ke Pangkuan Islam #2

Syahadat Di Masjid Cut Mutiah (8 Oktober 2010)

Syahadat Di Masjid Cut Mutiah (8 Oktober 2010)

Kembali Ke Pangkuan Islam #2

Sholat Jumat tadi siang (8 Oktober 2010) agak sedikit berbeda dari Jum’at biasanya. Disamping aku mendengarkan khotbah dan menunaikan sholat Jumat secara berjamaah seperti hari-hari Jumat biasanya, kali ini aku kembali memperoleh satu hadiah tambahan sesudah selesai Sholat. Sebenarnya bukan hanya aku yang memperoleh hadiah, tapi juga seluruh jamaah Jumat yang hadir di Masjid Cut Mutiah – Menteng Jakarta Pusat. Hadiah ini adalah bertambahnya dua orang sekaligus saudara se-akidah Islam yang mengikrarkan diri untuk masuk (baca: kembali kepada keyakinan aqidah fitrah manusia) memeluk Islam. Ini mengingatkanku pada episode Kembali Ke Pangkuan Islam #1.

Kedua orang yang masuk Islam itu satu orang ikhwan dan satu orang akhwat. Sang ikhwan berusia sekitar 52 tahun asal Tangerang, sementara sang akhwat aku kurang mendengar berapa umurnya. Namun dari penampilan fisiknya, kurasa berumur sekitar 20-an tahun. Ia berasal dari Semarang.

Nama ikhwannya sejauh yang kudengar, Hartono sedangkan yang akhwat Yurika (tapi aku nggak yakin). Dalam kesaksian keduanya di hadapan ratusan jamaah Masjid Cut Mutiah, keduanya mengaku tidak berada dalam tekanan atau paksaan. Ia juga berkeinginan untuk mempelajari Islam secara menyeluruh sedikit demi sedikit. Setelah kesaksian tersebut diucapkan, Imam Masjid Cut Mutiah pun membimbing keduanya (tidak berbarenga) untuk berikrar mengucapkan dan melafadkan kalimat 2 syahadat. Asyhadu alla ilaaha illa Allah; wa Asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Selengkapnya, inilah video yang dapat kurekam sebentar sekedar merekam memori itu. Check this out Gan…! Baca lebih lanjut

Beribadah, Berpahala & Dibayar Lagi

I’tikaf Di Kantor

Tempo hari, Jumat (3 Septemebr 2010), perusahaan di tempatku bekerja secara resmi mengadakan acara bertajuk I’tikaf ramadhan. Pelaksanaan kegiatan itu berada di kantor -lebih tepatnya di musholla kantor. Seluruh staf dan karyawan serta karyawati yang beragama muslim dihimbau untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan yang dijadwalkan mulai ba’da sholat Jumat dan selesai hari Sabtu ba’da sholat Subuh.

Acara dimulai ba’da sholat Jumat dengan agenda menyantuni anak-anak yatim yang dilangsungkan hingga sholat Asar. Setelah sholat Asar, acara dilanjutkan dengan sosialisasi manajemen perusahaan kepada karyawan dan karyawati seputar perkembangan kinerja perusahaan. Sosialisasi ini berlangsung hingga pukul 17.00 WIB. Selanjutnya, acara berikutnya adalah ngabuburit di mushola untuk menunggu azan maghrib sebagai tanda berbuka puasa.

Acara inti yang terkait Itikaf sebenarnya boleh dikata mulai efektif berjalan setelah sholat Isya’ berjamaah. Berturut-turut setelah Isya’, dilangsungkan sholat tarawih 8 rakaat dengan menunda sholat witir. Kemudian acara dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan pak ustadz dari luar hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Selanjutnya setelah istirahat kurang lebih ½ jam, acara berikutnya dilanjutkan dengan tilawah Quran yang disebut dengan “Khotmil Quran”. Baca lebih lanjut

# Romadhon Keduapuluh Tiga: Lailatul Qadr

# Romadhon Keduapuluh Tiga: Lailatul Qadr

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar yaitu (malam) yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan. Selamatlah malam itu hingga terbit fajar” [Al-Qadar : 1-5]

Semalam, aku i’tikaf di masjid Istiqlal Jakarta Pusat dari mulai pukul 22.30 WIB hingga pukul 15.00. Setelah selesai sholat witir 11 rakaat (aku melakukannya hanya dengan 8 rakaat karena sebelumnya sudah terlanjur melakukan witir 3 rakaat setelah sholat tarawih), aku pulang ke kos-an untuk makan sahur dan bersiap masuk ke kantor.

Beberapa jam sebelumnya, kawan-kawan saling menduga dan memprediksi bahwa hari itu adalah hari yang dicirikan di dalam beberapa hadis penggambaran ciri malam lailatul qadr. Mengutip sebuah hadis, mereka mulai membicarakan bahwa cuaca hari itu (kemaren 1 September 2010). Memang ketika kami lihat dan perhatikan, cuaca pagi hari saat matahari semestinya bangun dari tidur untuk menyinari langit kota Jakarta justru tidak bersinar dengan cerah namun terasa sedikit mendung. Pada intinya cuaca tidak terkesan panas sama sekali. Cuaca itu bertahan hingga senja hari. Angin pun bertiup tidak terlalu sepoi-sepoi. Boleh dikata langit sangat tenang sekali. Daun-dedaunan tak banyak bergerak. Butiran air lembut sempat menyapa beberapa saat lebih menyejukkan suasana dzuhur di Jakarta kemarin. Dengan ciri-ciri seperti itu, maka banyak kawan-kawan yang kemudian memprediksi bahwa malam nantinya adalah malam turunnya Lailatul Qadr.

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan) Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: