Dokter Tidak Bisa Menyembuhkan Penyakit

Dokter

Dokter

Dokter Tidak Bisa Menyembuhkan Penyakit

Suatu hari, di rumah Paidjo terjadi keributan kecil. Ada seorang bernama Sutrisno yang mendatangi rumah Paidjo sambil marah-marah. Ia memaki-maki Paidjo karena dianggap tidak bisa bekerja dengan baik.

Dok, Anda ini sebenarnya gimana sih? Hampir setiap pekan saya datang kontrol ke rumah Anda tapi anehnya penyakit saya tidak sembuh-sembuh. Saya sudah keluar duit berjuta-juta. Sebenarnya Anda ini bisa menyembuhkan penyakit saya tidak?” Sutrisno berkata sambil membentak-bentak Paidjo. Baca lebih lanjut

Enaknya Menjadi Dokter

Dokter

Dokter

Enaknya Menjadi Dokter

Di suatu pagi, Pakdhe Sutrisno nampak tengah berbincang-bincang sambil nyeruput teh panas kental manis (istilah Jawa: legi panas kenthel). Namanya juga obrolan warung kopi angkringan, temanya pun loncat kesana-kemari. Dari mulai obrolan ringan seputar kehidupan rumah tangga sampai obrolan berat seputar politik dan hukum di negeri mimpi menjadi topik rutin setiap pagi. Saat aku datang, obrolannya tentang profesi. Baca lebih lanjut

Win-Win Solution

Sumber gambar silakan klik di gambar

Sumber gambar silakan klik di gambar

Win-Win Solution

Andi dan Iwan adalah dua orang siswa baru sebuah SMA yang tinggal dalam satu kamar asrama. Suatu saat, keduanya menghadapi ulangan pelajaran. Demi memperoleh nilai yang maksimal, keduanya menyiapkan diri dengan belajar di malam ulangan. Andi tipikal siswa pembelajar yang lebih merasakan mudahnya mencerna pelajaran sambil mendengarkan musik. Sementara Iwan merupakan tipikal siswa pembelajar di kesunyian. Iwan tak bisa mencerna pelajaran ketika suasana lingkungannya berisik.

Kedua orang siswa tersebut boleh dibilang memiliki tipikal pembelajar yang bertolak belakang. Mesti harus ada solusi buat keduanya. Setelah berunding dengan baik, akhirnya dicapailah sebuah kesepakatan antara Andi dan Iwan agar saling mendukung dan tidak saling merugikan. Karena Andi lebih mudah mencerna pelajaran sambil mendengarkan musik, maka Iwan rela meminjamkan walkman-nya kepada Andi. Sehingga dengan demikian, Andi tetap bisa mendengarkan musik untuk memudahkan pembelajarannya. Namun di sisi lain, Andi tidak mengganggu Iwan yang model pembelajarannya lebih suka dalam suasana yang tidak bising (sunyi). Baca lebih lanjut

Gadis Metropolitan

”]Foto Ini Hanya Ilustrasi Saja [Sumber klik saja pada gambar]

Gadis Metropolitan

Di sebuah pangkalan ojek di pojok gang ujung jalan Sudirman Jakarta, nampak Sutrisno, Sukri, dan Ujang tengah terlibat obrolan sambil menunggu pelanggan. Kali ini mereka sedang membahas tentang “Gadis Metropolitan”.

Pertama, si Ujang mengajukan pendapatnya tentang siapa yang pantas disebut dengan gadis metropolitan. “Gadis metropolitan itu cewek yang setiap harinya selalu wangi karena pakai parfum. Kemudian rutin pergi ke salon dan spa. Penampilannya modis dengan HP atau Blackberry terkalung di leher. Mobilitasnya tinggi. Keluar masuk butik, mall, dan cafe setiap harinya. Dan sering bilang ‘sumpe loe?’. Kurasa itu gambaran gadis metropolitan Jakarta ini.”

Menanggapi gambaran tentang definisi gadis metropolitan yang disebutkan oleh Ujang, Sukri merespon dengan penuh persetujuan. “Kau benar Jang. Itulah gambaran gadis metropolitan di Jakarta ini,” ucapnya dengan penuh senyum sambil membayangkan gadis metropolitan dalam imajinasinya.

Kalau menurutmu gimana Tris?” tanya Ujang ke arah Sutrisno yang matanya menerawang memandang seolah tanpa batas.

Mau tahu pendapatku tentang gadis metropolitan? Itu lho orangnya !” ucap Sutrisno menunjuk ke arah seorang perempuan berpakaian biasa dan tak terlalu modis, bahkan tak ada HP atau BB yang terkalung di lehernya. Baca lebih lanjut

Rumah Sang Bujangan

Rumah Sang Bujangan

Beberapa waktu lalu, aku main ke rumah salah seorang sahabtku. Namanya sebut saja Sutrisno (bukan nama sebenarnya). Saat ini dia bekerja di sebuah perusahaan operator telekomunikasi di kota Solo. Sejak kuliah S-1, dia sudah tinggal sendiri terpisah rumah dari orang tuanya. Setelah lulus kuliah, ia sempat diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Namun kemudian dia memilih resign dan kemudian bekerja di Solo sambil kuliah Magister Manajemen di sebuah universitas negeri ternama di kota Solo.

Dulu di waktu aku masih kuliah, aku sering sekali main ke rumah dia bersama kawan-kawan dan sobat-sobatku juga. Bahkan tak jarang aku sering menginap di rumahnya untuk nonton film bareng, main game bareng, atau sekedar ngobrol-ngobrol bareng. Seingatku, dulu di masa itu keadaan rumahnya tidak seberantakan banget seperti saat terakhir aku main ke rumahnya kemarin.

Setelah cukup lama tak main ke rumah bersejarah itu, aku hanya bisa geleng-geleng saja. “Inilah tempat tinggal seorang lelaki bujang sejati,” ucapku padanya. Berantakan seperti kapal pecah dan terkesan ditata seadanya adalah cirinya. Di meja makannya dipenuhi aneka barang entah dipakai atau tidak. Jemuran pakaian pun bergelantungan dimana-mana. Tapi khusus di kamarnya, agak sedikit rapi. Kamarnya ditata sedemikian rupa diisi dengan gadget-gadget hingga mirip laboratorium IT.

Aku sempat memotret beberapa sudut kamar dan rumahnya. Inilah kamar kawanku sang bujangan itu.

Baca lebih lanjut

Kapan Nyusul?

Kapan Nyusul?

Suatu hari, Ahmed menghadiri acara walimatul ‘ursy (bc: resepsi) pernikahan seorang temannya. Sebutlah namanya Sutrisno yang berhasil mempersunting gadis impiannya bernama Titin. Ahmed dan Sutrisno merupakan kawan karib sejak lama. Kedua orangtua mereka pun saling mengenal. Di tengah-tengah acara pesta resepsi, Ahmed bertemu dengan orangtua Sutrisno. Karena melihat Ahmed datang ke pesta pernikahan sendirian tanpa gandengan, maka ayah Sutrisno (pakdhe Supar) pun meledek Ahmed dengan sebuah pertanyaan bernada retoris. “Masih sendiri saja Med?” ujar pakdhe Supar.

Buruan nyusul Trisno (Sutrisno_pen) lah Med..! Nunggu apa lagi?” tambahnya dengan sedikit senyum tersungging dari wajahnya yang oval. Baca lebih lanjut

Saingan Pak Kyai

Ilustrasi

Ilustrasi

Pesaing Pak Kyai

Dalam sebuah majlis di sebuah masjid di sebuah kota di Jawa Timur (kebanyakan -di nya ya?), terjadilah obrolan-obrolan santai diantara para jamaah sebelum dimulainya majlis ilmu (bc: pengajian). Berada duduk di depan, seorang kyai yang berjenggot dengan peci berselempangkan surban juga masih mengobrol-obrol dengan jamaahnya. Tak berapa lama, datanglah seorang pemuda (sebutlah namanya Sutrisno) yang agak gondrong, dan berjenggot, memakai peci, berpakaian cukup rapi terbungkus jas yang halus, dan mengenakan sarung langsung masuk di sudut masjid setelah sebelumnya mengucap salam. Di daun telinganya masih nampak bekas lubang tindik yang biasanya berhias anting. Muncullah sebuah dialog singkat diawali oleh pak kyai. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: