Pak Dwiatmo, Pejuang PJKA Sejak 1985

image

*PAK DWIATMO, PEJUANG PJKA SEJAK 1985*

Perjalanan naik KA Progo dari Jakarta menuju Yogyakarta semalam (23/11), tak seperti biasanya. Nyaris tak ada sedulur2 PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), yang terlihat batang hidungnya di Stasiun Pasar Senen. Maklum, hari Rabu malam.

Di antara para penumpang KA Progo relasi Pasar Senen – Lempuyangan berangkat tanggal 23 November 2016, saya bertemu dengan pak Dwiatmo, seorang PJKA senior. Baca lebih lanjut

Laporkan Gratifikasi, Orang Ini Contoh PNS Teladan & Langka

Luthfi Assadad 3

Teman saya ini barangkali merupakan PNS (sekarang katanya disebut sebagai ASN atau kependekan dari Aparatur Sipil Negara) langka yang sangat layak untuk diteladani. Saat ini ia menjadi PNS di Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LPP-MPHP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Baca lebih lanjut

Otis Johnson: My New Life After 44 Years In Prison

Otis Johnson (Aljazeera)

Otis Johnson (Aljazeera)

Bagaimana kira-kira bayangan Anda terhadap seseorang yang telah dipenjara selama 44 tahun lalu melihat dunia luar?

Ini kisah tentang Otis Johnson, seorang warga negara Amerika Serikat, yang dipenjara pada usia 25 tahun karena didakwa melakukan percobaan pembunuhan terhadap seorang perwira polisi. Empat puluh empat (44) tahun kemudian, saat umurnya telah mencapai 69 tahun, ia keluar dari penjara.

Puluhan tahun di dalam penjara memaksanya tak mengetahui dunia luar. Di luar (penjara), ia segera menyadari, dunia yang kini dihadapinya benar-benar sudah sangat berbeda dengan saat ia belum masuk penjara.

Banyak hal baru yang dia lihat setelah dia keluar dari penjara yang sebelumnya belum pernah ia ketahui. Gedung-gedung bertingkat yang berhias video-video iklan besar, Iphone, hingga kehidupan sosial budaya masyarakat New York yang jauh berbeda di banding pada masanya. Baginya, dunia yang dihadapinya sangat futuristik dibandingkan dengan dunia yang telah ditinggalkannya pada tahun 1975.

Dalam sebuah wawancara video dokumenter yang diproduksi Al Jazeera, Johnson baru-baru ini mengunjungi Times Square di New York City. Saat melangkah keluar ke Times Square di New York City, Otis Johnson terheran-heran melihat pemandangan gedung dan orang-orang di sekitarnya. Semua orang tampak di matanya berjalan cepat dengan wajah kosong dengan kabel di telinga mereka.

Ia terkejut dan bingung dengan teknologi modern di sekitarnya. Para pejalan kaki “berbicara dengan diri mereka sendiri” dengan iPhone, sementara dinding-dinding bangunan seolah hidup karena video neon billboard yang menerangi jendela etalase. Dia bingung dan keheranan. Johnson berpikir, dia memasuki sebuah distopia di mana semua orang saat ini telah menjadi agen rahasia yang memakai kabel. Di zamannya, (hanya) para agen rahasia yang biasa menggunakan komunikasi kabel di telinga. Era Steve Jobs benar-benar telah melewati kehidupannya.

***

Saat bebas dari penjara, Johnson diberikan identitas (ID), dokumen yang menguraikan sejarah kasus pidananya, uang senilai $40, dan dua tiket bus. Karena kehilangan kontak dengan semua koneksi keluarga akibat menjalani hukuman selama puluhan tahun di penjara, Johnson sekarang bergantung pada sebuah lembaga sosial bernama The Fortune Society, sebuah organisasi sosial yang menyediakan perumahan dan layanan kepada para mantan tahanan di AS.

Setiap hari, Johnson mencoba beradaptasi dengan dunia barunya sebaik dan sebisa mungkin yang ia bisa lakukan. Dia melibatkan dirinya dalam kegiatan sosial masyarakat dengan bergabung dalam komunitas masjid lokal. Dia berlatih tai chi dan bermeditasi.

Di usia senjanya, Johnson masih memiliki obsesi besar dalam hidupnya. Ia mencoba mengejar mimpinya untuk membuka tempat penampungan (shelter) bagi perempuan, walaupun obsesinya itu tampak mustahil tercapai.

Setiap hari, ia berjalan-jalan di sekitaran New York, mengamati orang-orang di sekelilingnya dan kemudian kembali ke asrama yang dikelola lembaga The Fortune Society pada pukul 21.00 malam.

Tertarik menyimak lebih jauh? This is his story ~> https://youtu.be/OrH6UMYAVsk

Kongres Perempuan Indonesia & Hari Ibu Nasional

Kongress Perempuan Indonesia I

Hari Ibu Nasional

Tujuh puluh delapan tahun lalu, di Pendopo Dalem Jayadipuran, Yogyakarta, milik RT Joyodipoero, berlangsung kongres yang dihadiri para ibu dari berbagai penjuru nusantara. Dimulai pada 22 Desember berakhir pada 25 Desember 1928. Para ibu itu berbincang dan tak jarang bersilang pendapat akan nasib mereka dalam hal pendidikan hingga perkawinan. Baca lebih lanjut

Mubazir

Mubazir

Mubazir

Di pojok ruang, saya melihat ada paha ayam goreng yang masih setengah utuh di atas piring di lantai. Kalimat pertama yang terlintas di pikiran saya, “sayang sekali makanan ini kok dibuang.” Sementara di belahan dunia lain, masih banyak manusia yang hidup dalam keadaan kelaparan. Hanya untuk makan sehari-hari saja, mereka tak mampu dengan berbagai macam alasan. Sebagian karena paceklik, sebagian karena perang, sebagian karena kemiskinan. Baca lebih lanjut

4 Kota/Kab di Papua, Berpenduduk Mayoritas Muslim

Info Muslim Papua (1)

Di sejumlah kota/kabupaten di Papua, terdapat sejumlah daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Setidaknya, menurut data yang saya himpun dari hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 (BPS), terdapat 4 daerah dengan penduduk mayoritas Muslim. Keempat daerah itu adalah Fakfak (61%), Sorong (55%), Merauke (46%), dan Teluk Bintuni (45%). Secara total, Islam di Papua dipeluk oleh sekitar 22% dari penduduk provinsi sebanyak 2.833.381 jiwa (Data Sensus Tahun 2010). Baca lebih lanjut

Panel, Tempat Tidur Favorit Pelaju Kereta

image

Kami menyebutnya ‘panel’ karena di balik dinding plat ada panel listrik pengontrol gerbong kereta api. Di panel inilah, kami para pelaju jarak jauh yang menamakan diri sebagai Pejuang PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) menjadikannya tempat favorit untuk tidur.

%d blogger menyukai ini: