19 Desember 1948, Latar Belakang Hari Bela Negara

Tanggal 19 Desember 1948 pada waktu subuh, militer Belanda melakukan serangan ke semua wilayah Republik Indonesia (RI) di Jawa dan Sumatera, termasuk ke Yogyakarta, ibukota RI pada saat itu. Sejarah Indonesia mengenal peristiwa ini sebagai Agresi Militer Belanda II sedangkan Belanda menamakan serangan ini sebagai “Aksi Polisional”. Agresi Militer Belanda ini menegaskan pelanggaran Belanda atas Persetujuan Renville. Dalam waktu singkat, ibukota Republik Indonesia Yogyakarta jatuh. Baca lebih lanjut

Pro-Kontra Full Day School

“sometimes words are much sharper than swords”

Tabel PendidikanBelum genap 1 bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy membuat sebuah gagasan atau wacana yang dibuka ke publik, yaitu Full Day School (FDS). Tak perlu waktu lama, gagasan itu pun menuai polemik dan pro-kontra di masyarakat. Hal sama pula yang terjadi saat isu ini penulis bagi di beberapa group Whatsapp.

Dari sejumlah group Whatsapp, mereka yang menyatakan setuju dengan ide dan gagasan itu mensyaratkan dalam FDS tidak ada Pekerjaan Rumah (PR), tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia. Tapi cukup di kota-kota besar saja yang orangtuanya kebanyakan sama-sama kerja. Sebagian lain setuju gagasan FDS dengan pertimbangan “daripada anak di rumah sama pembantu atau main-main tanpa arah sebelum orang tua pulang dari kerja”. Ada juga yang setuju dengan gagasan itu karena mereka merasa sekolah FDS mampu memberikan hasil pendidikan yang lebih baik. Baik dari sisi akhlak, perilaku, akademik, atau bakat.

Lihat pos aslinya 1.185 kata lagi

Carilah Masjid, Banyak Saudaramu Di Sana

Ketika salah seorang kerabat yang saya panggil pakdhe Tulus hendak pergi keJakarta dengan niat hijrah untuk bekerja mencari rezeki, ayahnya berpesan,”Solo adalah bumi Allah. Jakarta juga bumi Allah. Kemana saja kamu pergi merantau, carilah masjid, di sana akan kamu akan ketemu saudaramu (kowe akan nemu akeh sedulur).” Baca lebih lanjut

Carilah Pekerjaan yang Meningkatkan Iman

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada malam takbiran Idul Fitri tahun ini (1438 H), orangtua menggelar halal bi halal sederhana di rumah. Seluruh anak-anaknya datang. Saya datang bersama istri dan anak saya yang baru umur 2 tahun. Sedangkan adik saya satu-satunya yang tinggal serumah dengan orangtua secara otomatis juga hadir.

Dalam salah satu poin pembukaan bapak, beliau menyampaikan rasa senang karena adik saya lebih memilih comeback pulang ke Solo. Semula, adik saya ambil kerja di Bandung. Setelah kurang lebih 1 tahun bekerja di Bandung dengan gaji yang cukup, ia memutuskan kembali ke Solo dengan menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih sedikit. Baca lebih lanjut

Pikun, Apa dan Bagaimana Menghindarinya?

(Selama sepekan liburan lebaran kemarin (1438H), saya banyak memperoleh pelajaran dari hasil silaturahmi ke sana ke mari. Ini adalah pelajaran seri #2 yang saya peroleh pada hari ke-1 Lebaran Idul Fitri, berlindung dari kepikunan)

Simbah putri saya memiliki banyak saudara baik saudara kandung, seibu, maupun seayah/sebapak. Dalam sebuah kesempatan, simbah putri menceritakan perihal kepikunan salah seorang kakaknya yang seibu. Sebut saja mbahde.

Di usianya yang telah lanjut, mbahde mengalami kepikunan hampir secara total. Ia nyaris tak mengingat apapun yang sebelumnya pernah diingatnya kecuali memori yang sangat sedikit. Diantara kepikunannya, mbahde sudah tak ingat shalat, tak ingat puasa, tak memiliki rasa malu, dan tak memiliki memori tentang keluarga apalagi saudaranya dan kerabat-kerabatnya yang lebih jauh. Tak jarang, sejumlah perilaku mbahde kerap membuat malu keluarga khususnya anak-anaknya, seperti buang air sembarangan, menggoda wanita, dan hal-hal memalukan lainnya jika dilakukan oleh seorang yang normal.

Baca lebih lanjut

Menggelar Halal Bi Halal Keluarga di Surga

Menggelar Halal Bi Halal Keluarga di Surga

Berkumpul pada malam takbiran sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami jika bulan Ramadhan telah berakhir dan lebaran Idul Fitri telah datang. Orang-orang sekarang menyebutnya dengan halal bi halal. Pada momen ini, sesama anggota keluarga saling bermaaf-maafan dan menyampaikan opini masing-masing. Selain itu, pertemuan itu juga menjadi momen muhasabah dan doa agar seluruh ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan diterima Allah ta’ala. Kebiasaan itu seingat saya sudah berlangsung sejak saya SMP. Baca lebih lanjut

5 Manfaat Permainan Puzzle Bagi Anak

 

Menurut psikolog parenting Dr Istar Schwager, permainan puzzle secara tak sadar dapat mengembangkan lima keterampilan khusus bagi anak-anak. Keterampilan tersebut berguna untuknya di sekolah dan bahkan kehidupan dewasanya kelak. Berbekal itulah kemudian saya dan istri mencoba memberikan puzzle kepada putri kami yang hampir berusia 2 tahun. Setelah melihat dan otak atik beberapa menit, ternyata ia berhasil menyelesaikan puzzle sederhana itu. Selanjutnya ia membongkar dan memasang kembali puzzle itu hingga bosan. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: