Pikun, Apa dan Bagaimana Menghindarinya?

(Selama sepekan liburan lebaran kemarin (1438H), saya banyak memperoleh pelajaran dari hasil silaturahmi ke sana ke mari. Ini adalah pelajaran seri #2 yang saya peroleh pada hari ke-1 Lebaran Idul Fitri, berlindung dari kepikunan)

Simbah putri saya memiliki banyak saudara baik saudara kandung, seibu, maupun seayah/sebapak. Dalam sebuah kesempatan, simbah putri menceritakan perihal kepikunan salah seorang kakaknya yang seibu. Sebut saja mbahde.

Di usianya yang telah lanjut, mbahde mengalami kepikunan hampir secara total. Ia nyaris tak mengingat apapun yang sebelumnya pernah diingatnya kecuali memori yang sangat sedikit. Diantara kepikunannya, mbahde sudah tak ingat shalat, tak ingat puasa, tak memiliki rasa malu, dan tak memiliki memori tentang keluarga apalagi saudaranya dan kerabat-kerabatnya yang lebih jauh. Tak jarang, sejumlah perilaku mbahde kerap membuat malu keluarga khususnya anak-anaknya, seperti buang air sembarangan, menggoda wanita, dan hal-hal memalukan lainnya jika dilakukan oleh seorang yang normal.

Baca lebih lanjut

Puri, Semoga Allah Memberimu Yang Terbaik….

Puri, Semoga Allah Memberikanmu Tempat Terbaik….

Sudah sekitar tiga bulan salah seorang kawanku yang cukup akrab di dunia maya tak pernah sekalipun muncul kembali. Tak ada satupun kabar tentangnya yang dapat kuperoleh. Tak ada lagi canda di Yahoo Massenger (YM) dan diskusi tentang Filsafat di Yahoo Answer lagi. Tak pernah lagi ada saling komentar di blog dan perdebatan lainnya. Tak ada lagi sebutan “kakak” untuk ku. Semuanya menjadi lebih sepi selama tiga bulan terakhir. Aku benar-benar kehilangan seorang sahabat.

Puri, demikian aku menyebut namanya. Aku lupa kapan pertama kali mengenal namanya di dunia maya. Seingatku, aku mengenalnya melalui blog Puri The Pink Octopus. Sebuah blog yang pada awalnya condong bertutur tentang filsafat. Aktivitas berkomentar, diskusi, dan perdebatan lah yang kemudian mengakrabkan kami sampai kami bisa bersahabat (di dunia maya). Namun kini, aku tak tahu dimana sekarang ia berada. Baca lebih lanjut

Doa Meraih Kemulian & Istri Penyenang Hati

Membaca surat Al Furqan ayat 63-77, ada beberapa penggambaran oleh Allah atas hamba-hamba-Nya yang memperoleh kemuliaan. Diantara mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Selanjutnya, mereka menghabiskan malam harinya dengan menunaikan sholat tahajud. Kemudian, dalam membelanjakan hartanya mereka tidak berlebih-lebihan, namun juga tidak kikir (sewajarnya). Dan jika mereka diberikan peringatan dengan ayat-ayat Allah, mereka tidak menghadapinya seperti orang yang bisu dan tuli. Mereka mendengarkan peringatan tersebut dengan seksama.

Jika kita memiliki sifat-sifat di atas, maka Allah mengatakan bahwa kita tergolong orang-orang yang bermartabat tinggi di dalam jannah (surga). Amiin.

Selain pelajaran di atas, aku juga memperoleh dua (2) doa yang diajarkan Al Quran. Berikut doanya: Baca lebih lanjut

# Romadhon Kelima: Doa

Romadhon Kelima

Sahur hari ini lebih sepi dari sahur kemaren. Hanya bertiga. Suasana kurang ramai. Selera makan pun turun drastis. Meskipun di depan saya ada nasi, sayur kangkung, tahu, jerohan, ati ampela, dan kerupuk, namun aku hanya mengambil sepotong sedikit ampela dan sayur kangkung. Biasanya, aku nambah nasi dua kali, kali ini aku cumin puas satu kali saja. Aku kurang bernafsu untuk nambah nasi.

Suasana hari pun terasa hambar seperti hari kemaren. Kos-an benar-benar sepi. Aku boleh dibilang sendirian saja di kosan. Bingung dengan keadaan sepi ini, aku mencoba untuk membunuh waktu dengan tilawah, membaca buku, dan menulis. Aku sempat merasa agak senang saat hujan turun cukup deras. “Allahumma soyyiban nafi’a”. Namun sayangnya hujan deras yang turun tidak terlalu lama. Langit pun kembali cerah kembali. Akibatnya, rasa gerah dan panas (sumuk: bhs jawa) semakin terasa membuat kurang nyaman. Menjelang sore hari, aku masih ingat akan rendaman bajuku yang belum dicuci. Segera saja aku mencuci dan menjemurnya. Hampir tak ada yang hal istimewa hari ini yang ingin kubagi dengan sobat-sobat sekalian.

Oh, aku jadi teringat chatting-an ku dengan seorang sahabat. Ia bercerita (mungkin lebih tepatnya memberiku nasehat / tausiyah) agar aku tidak menyepelekan doa. Ia pun mengutip sebuah hadis yang intinya menyatakan bahwa doa adalah kekuatan dan senjata orang yang beriman. Baca lebih lanjut

Semoga Allah Memberimu Yang Terbaik…

Ya Allah Yang Maha Pemberi Sembuh dan Maha Pengasih, berikanlah kesembuhan untuknya....

Ya Allah Yang Maha Pemberi Sembuh dan Maha Pengasih, berikanlah kesembuhan untuknya....

Semoga Allah Memberimu Yang Terbaik…

Tadi pagi –jika sesuai jadwal-, seorang sahabat harus tidur di atas bangsal ruang rumah sakit di Singapura. Ia harus dioperasi karena penyakit yang dideritanya selama beberapa tahun ini. “Sebenarnya, selama ini aku tuh terkena kanker otak,” demikian pesan yang dituliskan kepadaku 2 hari yang lalu.

Membaca pesan yang ditulisnya itu, jantungku sekonyong-konyong berdegup lebih kencang. Aku tak memungkiri betapa terkejut dan kagetnya aku. Beberapa saat kemudian ia menuliskan kembali pesannya, “dan besok tanggal 12, aku akan dioperasi,” tambahnya. “Ini adalah operasiku yang kedua kalinya,”. “Mohon doanya,” pungkasnya. Aku semakin terkejut dengan pengakuannya itu.

Aku merasa cemas saat ia menuliskan status terakhir yang ia tulis di sebuah web yang berbunyi “The End is so close….,”. Karena tidak mau berfikir yang buruk, aku menafsirkan kalimat itu dengan “Penyakit ini akan segera berakhir. Dan aku akan sembuh dan bisa kembali tersenyum serta menyapa kawan-kawanku dan semakin terus berkarya.” Baca lebih lanjut

Sekilas Mengenal Irving Karchmar (Penulis Novel Master of The Jinn)

Irving Karcmar (sumber: OhMyNews.com)

Irving Karcmar (Penulis Novel Master of The Jinn)

Beberapa jam sebelum aku posting artikel ini, aku membaca blog Puri The Pink yang memposting sebuah artikel / tulisan Manusia Akan Celaka Jika Hanya Diadili Hanya Dengan Keadilan Belaka (terlalu banyak HANYA kalao kataku, hehehehe). Di dalam postingan itu ditampilkan sebuah potongan kisah dari sebuah novel favorit Puri, yang berjudul “Sang Raja Jin : Novel tentang Cinta, Doa, dan Impian”. Novel bagus itu ditulis oleh seorang penulis bernama Irving Karchmar. Bermodal informasi dari Cempaka yang komentar pada postingan itu, maka aku pun mencoba mencari tahu tentang sang penulis lebih lanjut.

Setalah search sana dan sini, akhirnya kuperolehlah informasi pendek tentang Irving Karchmar. Irving Karchmar ternyata adalah seorang anak keturunan Bani Israel (Baca: Yahudi) yang orangtuanya merupakan korban Holocaust (meskipun kebenaran Holocaust dalam sejarah masih perlu diperdebatkan_pen). Mantan pemeluk agama Yahudi ini, kemudian masuk Islam dan menjadi seorang sufi / darwis. Ia berbaiat masuk dalam aliran Tarekat Sufi Nimatullahi sejak tahun 1992 hingga sekarang. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: