Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Dengan Opium

Candu dan Opium dalam Revolusi Indonesia

Sambil menunggu istri kontrol dokter di RS. PKU Muhammadiyah Surakarta selama lebih dari 3 jam, saya membaca buku Opium dan Revolusi: Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950). Buku selesai dibaca selepas isya’ sekira pukul 20.30 WIB. Secara singkat, kesimpulan umum yang dapat saya tarik dari membaca buku ini adalah besarnya peran opium/candu dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di masa pergolakan revolusi (1945-1950).

tanggal 8 Maret 1948, Kementerian Keuangan menyurati Kementerian Pertahanan untuk meminta kepolisian agar membantu memperdagangkan candu yang akan digunakan untuk delegasi Indonesia ke luar negeri, delegasi Indonesia di Jakarta dan membayar pegawai-pegawai RI – Djogdja Documenten no.230 ANRI Baca lebih lanjut

Iklan

Peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965

Prasasti Perisai Pancasila di Kedung Kopi

Seusai shalat Subuh berjamaah di Masjid dekat rumah pada Ahad pagi tadi (22 Oktober 2017), imam masjid naik ke atas mimbar menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum). Imam shalat yang berusia sekira 60an tahun itu menyampaikan sebuah hadis yang memperingatkan umat agar mewaspadai suatu zaman dimana Islam dan Al Quran tinggal hanya ajarannya, bangunan Masjid bermegahan tetapi tak ada kegiatan Islam di dalamnya, serta banyak ulama jahat yang terkenal berbicara membela buta penguasa hanya untuk memperoleh harta dan kesejahteraan semata. Ia pun menyinggung sedikit tentang suatu peristiwa di tahun 1965 saat PKI meneror masyarakat yang berlawanan ideologi dengan mereka yang tak mengindahkan ajaran agama bahkan melecehkannya tanpa takut terhadap ancaman neraka apalagi dosa.

Kultum yang disampaikan imam masjid seusai shalat Subuh itu mengingatkan penulis pada peristiwa tepat 52 (lima puluh dua) tahun silam di kawasan ujung timur kota Surakarta di tepian sungai Bengawan Solo, di perbatasan kampung Pucangsawit dan Sewu, yang disebut *Kedung Kopi*. Baca lebih lanjut

Bersama Pak Sairun

Saat bertugas sebagai among tamu di pesta walimatul ‘ursy salah seorang sahabat di Gedung Antam, Sabtu (12/08/17) lalu, saya bertemu dengan salah seorang rekan kantor yang telah purnakarya (pensiun). Namanya Sairun. Pak Sairun saya menyebut dan memanggilnya. Tingginya berkisar 160 centimeter. Tak banyak perubahan dari penampilannya terakhir saat masih bekerja, mengenakan baju batik, berkacamata, dan tetap bersahaja.  Baca lebih lanjut

KH. Ahmad Azhar Basyir, ‘Santri NU’ Jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah

Pesantren Tebuireng kedatangan seorang santri yang hendak mengadu kepada KH. Hasyim Asy’ari, pada suatu hari di awal abad ke-20. Santri itu bernama Basyir, berasal dari Kauman, Yogyakarta. Santri Basyir mengadu perihal seorang tetangganya yang baru pulang dari Makkah, yang membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat di kampungnya.

Siapa namanya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari.

Ahmad Dahlan,” jawab Basyir.

Bagaimana ciri-cirinya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari lagi.

Lalu, santri Basyir menggambarkan ciri-cirinya.

Oh!  Itu Kang Darwis!” kata Hadlratusy Syaikh berseru gembira.

Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia.”  Baca lebih lanjut

Pro-Kontra Full Day School

“sometimes words are much sharper than swords”

Tabel PendidikanBelum genap 1 bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy membuat sebuah gagasan atau wacana yang dibuka ke publik, yaitu Full Day School (FDS). Tak perlu waktu lama, gagasan itu pun menuai polemik dan pro-kontra di masyarakat. Hal sama pula yang terjadi saat isu ini penulis bagi di beberapa group Whatsapp.

Dari sejumlah group Whatsapp, mereka yang menyatakan setuju dengan ide dan gagasan itu mensyaratkan dalam FDS tidak ada Pekerjaan Rumah (PR), tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia. Tapi cukup di kota-kota besar saja yang orangtuanya kebanyakan sama-sama kerja. Sebagian lain setuju gagasan FDS dengan pertimbangan “daripada anak di rumah sama pembantu atau main-main tanpa arah sebelum orang tua pulang dari kerja”. Ada juga yang setuju dengan gagasan itu karena mereka merasa sekolah FDS mampu memberikan hasil pendidikan yang lebih baik. Baik dari sisi akhlak, perilaku, akademik, atau bakat.

Lihat pos aslinya 1.185 kata lagi

Carilah Masjid, Banyak Saudaramu Di Sana

Ketika salah seorang kerabat yang saya panggil pakdhe Tulus hendak pergi keJakarta dengan niat hijrah untuk bekerja mencari rezeki, ayahnya berpesan,”Solo adalah bumi Allah. Jakarta juga bumi Allah. Kemana saja kamu pergi merantau, carilah masjid, di sana akan kamu akan ketemu saudaramu (kowe akan nemu akeh sedulur).” Baca lebih lanjut

Inilah Alasan Kenapa Al Aqsha Harus Dicintai & Diperjuangkan

Dalam sepekan terakhir, komunikasi media sosial tiba-tiba banyak diramaikan dengan pembahasan dan broadcast seputar Masjid Al Aqsha dan Palestina. Puncaknya, ribuan masyarakat Indonesia menghadiri aksi dukungan pembebasan Al Aqsha dan Palestina pada Jumat kemarin (21/07/17) di sejumlah kota di Indonesia. Banyak yang antusias menyambut ajakan itu, tapi tak sedikit umat Islam yang justru nyinyir. “Kenapa Palestina yang jauh harus kita pikirin?”

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: