Bersama Pak Sairun

Saat bertugas sebagai among tamu di pesta walimatul ‘ursy salah seorang sahabat di Gedung Antam, Sabtu (12/08/17) lalu, saya bertemu dengan salah seorang rekan kantor yang telah purnakarya (pensiun). Namanya Sairun. Pak Sairun saya menyebut dan memanggilnya. Tingginya berkisar 160 centimeter. Tak banyak perubahan dari penampilannya terakhir saat masih bekerja, mengenakan baju batik, berkacamata, dan tetap bersahaja.  Baca lebih lanjut

Iklan

KH. Ahmad Azhar Basyir, ‘Santri NU’ Jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah

Pesantren Tebuireng kedatangan seorang santri yang hendak mengadu kepada KH. Hasyim Asy’ari, pada suatu hari di awal abad ke-20. Santri itu bernama Basyir, berasal dari Kauman, Yogyakarta. Santri Basyir mengadu perihal seorang tetangganya yang baru pulang dari Makkah, yang membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat di kampungnya.

Siapa namanya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari.

Ahmad Dahlan,” jawab Basyir.

Bagaimana ciri-cirinya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari lagi.

Lalu, santri Basyir menggambarkan ciri-cirinya.

Oh!  Itu Kang Darwis!” kata Hadlratusy Syaikh berseru gembira.

Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia.”  Baca lebih lanjut

Pro-Kontra Full Day School

“sometimes words are much sharper than swords”

Tabel PendidikanBelum genap 1 bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy membuat sebuah gagasan atau wacana yang dibuka ke publik, yaitu Full Day School (FDS). Tak perlu waktu lama, gagasan itu pun menuai polemik dan pro-kontra di masyarakat. Hal sama pula yang terjadi saat isu ini penulis bagi di beberapa group Whatsapp.

Dari sejumlah group Whatsapp, mereka yang menyatakan setuju dengan ide dan gagasan itu mensyaratkan dalam FDS tidak ada Pekerjaan Rumah (PR), tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia. Tapi cukup di kota-kota besar saja yang orangtuanya kebanyakan sama-sama kerja. Sebagian lain setuju gagasan FDS dengan pertimbangan “daripada anak di rumah sama pembantu atau main-main tanpa arah sebelum orang tua pulang dari kerja”. Ada juga yang setuju dengan gagasan itu karena mereka merasa sekolah FDS mampu memberikan hasil pendidikan yang lebih baik. Baik dari sisi akhlak, perilaku, akademik, atau bakat.

Lihat pos aslinya 1.185 kata lagi

Carilah Masjid, Banyak Saudaramu Di Sana

Ketika salah seorang kerabat yang saya panggil pakdhe Tulus hendak pergi keJakarta dengan niat hijrah untuk bekerja mencari rezeki, ayahnya berpesan,”Solo adalah bumi Allah. Jakarta juga bumi Allah. Kemana saja kamu pergi merantau, carilah masjid, di sana akan kamu akan ketemu saudaramu (kowe akan nemu akeh sedulur).” Baca lebih lanjut

Inilah Alasan Kenapa Al Aqsha Harus Dicintai & Diperjuangkan

Dalam sepekan terakhir, komunikasi media sosial tiba-tiba banyak diramaikan dengan pembahasan dan broadcast seputar Masjid Al Aqsha dan Palestina. Puncaknya, ribuan masyarakat Indonesia menghadiri aksi dukungan pembebasan Al Aqsha dan Palestina pada Jumat kemarin (21/07/17) di sejumlah kota di Indonesia. Banyak yang antusias menyambut ajakan itu, tapi tak sedikit umat Islam yang justru nyinyir. “Kenapa Palestina yang jauh harus kita pikirin?”

Baca lebih lanjut

Selamat Jalan Chester Bennington

Vokalis grup band Linkin Park, Chester Bennington, meninggal dunia dalam usia 41 tahun. Sejumlah media melaporkan, Chester disebut mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Ia meninggalkan enam orang anak. Di sisa hidupnya, Chester diketahui memiliki masalah dengan obat-obatan dan kecanduan alkohol.  Baca lebih lanjut

Carilah Pekerjaan yang Meningkatkan Iman

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada malam takbiran Idul Fitri tahun ini (1438 H), orangtua menggelar halal bi halal sederhana di rumah. Seluruh anak-anaknya datang. Saya datang bersama istri dan anak saya yang baru umur 2 tahun. Sedangkan adik saya satu-satunya yang tinggal serumah dengan orangtua secara otomatis juga hadir.

Dalam salah satu poin pembukaan bapak, beliau menyampaikan rasa senang karena adik saya lebih memilih comeback pulang ke Solo. Semula, adik saya ambil kerja di Bandung. Setelah kurang lebih 1 tahun bekerja di Bandung dengan gaji yang cukup, ia memutuskan kembali ke Solo dengan menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih sedikit. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: