Driver Gr*** *C*** *Dilarang Menarik Penumpang Berjenggot dan Bercadar

*KEJADIAN NYATA SAYA BARUSAN:* *Driver Gr*** *C*** *Dilarang Menarik Penumpang Berjenggot dan Bercadar*

Kemarin siang sekira pukul 12.30 – 13.00 WIB, saya naik Gr** C** dari kawasan SCBD menuju kawasan Menteng. Setelah menunggu sekira 8 menit, datang mobil Sirion plat nomor B 15** U*Y dikemudikan oleh Driver berinisial SW.

Saat memutar di Bundaran HI, saya membaca sebuah spanduk terpasang di tepi jalan bertuliskan “Turut Berduka Cita Atas Gugurnya 6 Polisi”. Si bapak Driver pun merespon lalu kami ngobrol masalah tentang terorisme.

Memasuki Jalan Teuku Umar ketika melewati depan rumah Megawati, si Driver berkata kepada saya. _”Pak, mohon maaf sebelumnya. Sebenarnya, dari pihak Gr** melarang kami menarik penumpang-penumpang yang berjenggot dan berjilbab besar pak. Apalagi bercadar,”_ kata bapak Driver itu kepada saya. Baca lebih lanjut

Apalah Arti Sebuah Nama?

Akhir-akhir ini viral sejumlah nama yang unik dan anti mainstream di Indonesia. Ada orang kelahiran Banyuwangi yang diberi nama orangtuanya Tuhan. Ada lagi nama Saiton. Selain itu, ada lagi nama Polisi, Persib Satu Sembilan Tiga Tiga, . (baca: titik), Y, Andy Go To School, Anti Dandruf, Firman Allah, Honda Suzuki Impalawati, Satria Baja Hitam, Minal Aidin Wal Faidzin, Selamet Dunia Akhirat, Nabi, Royal Jelly, Dontworry, Loe Yakin Untung Luganda, Jashujan, Allah Husomat, dan masih banyak lagi.
***
Senin lalu, salah seorang pemilik nama unik dan anti mainstream mengaku senang dan bersyukur setelah PN Tangerang mengabulkan penggantian nama yang telah disandangnya sejak kecil. Kentut berganti nama menjadi Ihsan Hadi lantaran tak lazim dan kerap menjadi bahan olok-olokan karena nama Kentut itu. Nama Ihsan Hadi dipilihnya karena merupakan pemberian guru mengajinya ketika berusia 6 tahun. Nama itu artinya “Petunjuk yang Bagus”.

Baca lebih lanjut

Transkrip Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang Singgung Azan dan Cadar

Pada 2 April 2018, Sukmawati membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia di dalam acara ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018. Di dalam puisi berjudul Ibu Indonesia itu mengandung unsur SARA dimana ia menyebut suara kidung lebih merdu dari alunan adzan dan disebut melecehkan agama Islam. Baca lebih lanjut

Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Dengan Opium

Candu dan Opium dalam Revolusi Indonesia

Sambil menunggu istri kontrol dokter di RS. PKU Muhammadiyah Surakarta selama lebih dari 3 jam, saya membaca buku Opium dan Revolusi: Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950). Buku selesai dibaca selepas isya’ sekira pukul 20.30 WIB. Secara singkat, kesimpulan umum yang dapat saya tarik dari membaca buku ini adalah besarnya peran opium/candu dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di masa pergolakan revolusi (1945-1950).

tanggal 8 Maret 1948, Kementerian Keuangan menyurati Kementerian Pertahanan untuk meminta kepolisian agar membantu memperdagangkan candu yang akan digunakan untuk delegasi Indonesia ke luar negeri, delegasi Indonesia di Jakarta dan membayar pegawai-pegawai RI – Djogdja Documenten no.230 ANRI Baca lebih lanjut

Peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965

Prasasti Perisai Pancasila di Kedung Kopi

Seusai shalat Subuh berjamaah di Masjid dekat rumah pada Ahad pagi tadi (22 Oktober 2017), imam masjid naik ke atas mimbar menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum). Imam shalat yang berusia sekira 60an tahun itu menyampaikan sebuah hadis yang memperingatkan umat agar mewaspadai suatu zaman dimana Islam dan Al Quran tinggal hanya ajarannya, bangunan Masjid bermegahan tetapi tak ada kegiatan Islam di dalamnya, serta banyak ulama jahat yang terkenal berbicara membela buta penguasa hanya untuk memperoleh harta dan kesejahteraan semata. Ia pun menyinggung sedikit tentang suatu peristiwa di tahun 1965 saat PKI meneror masyarakat yang berlawanan ideologi dengan mereka yang tak mengindahkan ajaran agama bahkan melecehkannya tanpa takut terhadap ancaman neraka apalagi dosa.

Kultum yang disampaikan imam masjid seusai shalat Subuh itu mengingatkan penulis pada peristiwa tepat 52 (lima puluh dua) tahun silam di kawasan ujung timur kota Surakarta di tepian sungai Bengawan Solo, di perbatasan kampung Pucangsawit dan Sewu, yang disebut *Kedung Kopi*. Baca lebih lanjut

Solo & Gerakan 30 September

SOLO & GERAKAN 30 SEPTEMBER

Bendera merah putih berkibar setengah tiang di halaman Balaikota Surakarta pada Sabtu, 30 September 2017.

Lima puluh dua (52) tahun silam, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan Gerakan 30 September 1965 atau yang biasa disebut Gestapu atau G30S/PKI, Oetomo Ramelan -walikota Surakarta atau Solo- menyatakan dukungan terhadap gerakan tersebut yang kemudian memunculkan Dewan Revolusi. Sayang, gerakan tersebut gagal dan dengan mudah dan cepat dipatahkan oleh TNI. Baca lebih lanjut

Bersama Pak Sairun

Saat bertugas sebagai among tamu di pesta walimatul ‘ursy salah seorang sahabat di Gedung Antam, Sabtu (12/08/17) lalu, saya bertemu dengan salah seorang rekan kantor yang telah purnakarya (pensiun). Namanya Sairun. Pak Sairun saya menyebut dan memanggilnya. Tingginya berkisar 160 centimeter. Tak banyak perubahan dari penampilannya terakhir saat masih bekerja, mengenakan baju batik, berkacamata, dan tetap bersahaja.  Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: