KH. Ahmad Azhar Basyir, ‘Santri NU’ Jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah

Pesantren Tebuireng kedatangan seorang santri yang hendak mengadu kepada KH. Hasyim Asy’ari, pada suatu hari di awal abad ke-20. Santri itu bernama Basyir, berasal dari Kauman, Yogyakarta. Santri Basyir mengadu perihal seorang tetangganya yang baru pulang dari Makkah, yang membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat di kampungnya.

Siapa namanya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari.

Ahmad Dahlan,” jawab Basyir.

Bagaimana ciri-cirinya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari lagi.

Lalu, santri Basyir menggambarkan ciri-cirinya.

Oh!  Itu Kang Darwis!” kata Hadlratusy Syaikh berseru gembira.

Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia.”  Baca lebih lanjut

Iklan

Laskar Pratu (Prameks Sabtu)

Laskar Pratu (Prameks Sabtu)

Laskar Pratu (Prameks Sabtu)

LASKAR PRATU (PRAMEKS SABTU)

Suasana seperti inilah yang kami jalani hampir di tiap hari Sabtu pagi. Rasa persaudaraan berbalut kehangatan dan keceriaan di dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Klaten, Solo, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, atau Madiun. Sebuah perjalanan lanjutan dari Jakarta yang telah menempuh waktu semalam. Di balik letih kecapekan, wajah-wajah mereka menyimpan sinyal kebahagiaan. Kebahagiaan yang juga dinantikan orang-orang tercinta di rumah setiap akhir pekan. Baca lebih lanjut

Jika Anda Lebaran Rabu, Sembelihnya Hari Kamis Pliss… Supaya Nyatenya Bisa Bareng

Perbedaan Idul AdhaKemarin saya memperoleh info yang tidak menyenangkan sekaligus membuat geram dari kota Yogyakarta. Saya memperoleh laporan, adanya polemik yang berpotensi menyulut perselisihan dan ketidakharmonisan antar umat Islam gegara adanya perbedaan keyakinan dalam penetapan hari raya Idul Adha di kampung Namburan, Yogyakarta. Yaitu antara Rabu (23 September 2015) dan Kamis (24 September 2015).

Menurut keterangan salah seorang kawan saya, sebut saja Nur (bukan nama sebenarnya_ed), di kampung Namburan, Yogyakarta ada rencana penyembelihan hewan Qurban sebagai bagian dari perayaan Idul Adha 1436 H. Seperti yang sudah mafhum diketahui, untuk qurban seekor sapi biasa disokong oleh 7 orang. Begitu pula yang terjadi di kampung Namburan, Yogyakarta.

Persoalan muncul ketika ketujuh orang yang urunan beli seekor sapi untuk di-qurban-kan itu tidak sepakat berlebaran bersama. Empat orang penyokong meyakini untuk berlebaran pada Rabu (23 September 2015) sementara yang tiga orang lainnya meyakini lebaran jatuh pada Kamis (24 September 2015). Sampai di sini sebenarnya belum ada permasalahan berarti.

Namun persoalan menjadi sulit dicarikan solusi saat keempat orang penyokong sapi bersikeras melakukan penyembelihan pada Rabu (23 September 2015). Mereka ingin mengejar keutamaan penyembelihan pada tanggal 10 Dzulhijjah tepat setelah shalat Ied selesai. Namun yang ngga masuk akal dan maksa, mereka -berdasarkan keterangan mas Nur- mengatakan kalau Kamis acaranya padat. Ada bakti sosial (baksos) dan lain-lain. Tentu keinginan kelompok empat (maksudnya kelompok yang berisi empat orang_pen) itu ditentang oleh kelompok tiga karena jika penyembelihan dilakukan pada Rabu (23 September 2015), bagi kelompok tiga hari Rabu masih tanggal 9 Dzulhijjah 1436 H, belum masuk waktu lebaran (10 Dzulhijjah).

Tentu saja jika penyembelihan tetap dipaksakan dilakukan pada Rabu (23 September 2015), penyembelihan hewan qurban itu menjadi tidak sah bagi kelompok tiga yang meyakini bahwa lebaran Idul Adha baru jatuh pada Kamis (24 September 2015).

Pada dasarnya, kelompok tiga tak mempermasalahkan kelompok empat atau siapa pun orang lain yang berlebaran pada hari Rabu (23 September 2015). Bagi mereka itu adalah masalah keyakinan masing-masing yang didukung dengan argumen dalil yang diyakini masing-masing pula. Namun untuk penyembelihan qurban, kelompok tiga mengharapkan adanya toleransi dari kelompok empat agar prosesi penyembelihan dilakukan pada hari Kamis (25 September 2015) setelah kelompok tiga berlebaran dan selesai menunaikan shalat Idul Adha.

Waktu penyembelihan pada hari Kamis (25 September 2015) bisa menjadi solusi bersama bagi dua kelompok yang berbeda keyakinan hari Idul Adha, untuk berlebaran bersama. Yaitu menyembelih hewan qurban secara bersama-sama walau lebarannya beda. Bagi kelompok Kamis, penyembelihan pada hari Kamis sudah masuk waktu lebaran, sementara bagi kelompok Rabu, hari Kamis juga masih waktu tasyrik yang diperbolehkan menyembelih hewan qurban. Sebuah solusi bersama.

Tetapi sayang, kelompok empat tetap memaksakan kehendak untuk tetap menggelar penyembelihan hari Rabu. Tentu saja kelompok tiga tidak terima. Situasi pun menjadi ‘ramai’. Tidak ada kata sepakat. Kelompok tiga penyokong sapi memutuskan mencabut urunan.

Sampai saya menulis posting ini, situasi yang saya ketahui masih tak ada kata sepakat diantara kedua kelompok. Dengan kata lain, kelompok empat yang berlebaran Rabu tetap memaksakan kehendak untuk menyembelih hewan qurban pada hari Rabu tanpa memperhatikan solusi yang disampaikan oleh kelompok tiga yang berlebaran hari Kamis.

***

Jujur saya miris dan prihatin dengan kejadian yang terjadi di sebuah kampung dekat Kraton Yogyakarta ini. Sebuah kefanatikan dalam memaksakan kehendak dan pendapatnya di tengah-tengah masyarakat Muslim yang majemuk yang sebenarnya ada solusi untuk bersama-sama merayakan hari raya. Saya melihat hawa nafsu lebih kuat bermain daripada ilmu dan semangat ukhuwah (persaudaraan).

Mungkin permasalahan seperti ini akan terjadi di beberapa tempat yang memiliki toleransi kurang atau minim terhadap adanya keragaman pendapat di tengah-tengah umat Muslim. Tentunya diperlukan semangat berjamaah, ukhuwah, dan senantiasa mencari solusi bersama agar umat Islam benar-benar bersatu.

Saya mencoba mencari kontak orang-orang yang terlibat dalam kasus ini tetapi belum mendapatkan kontak mereka. Saya sengaja menulis melalui posting ini dengan harapan mereka bisa membaca tulisan ini dan mau duduk bareng mencari solusi bersama. Kalau tidak sepakat untuk melakukan penyembelihan pada Rabu atau Kamis, saya mengusulkan agar penyembelihan dilakukan pada hari Jumat (26 September 2015) saja. Jadi, baik yang berlebaran hari Rabu maupun Kamis masih bisa menyembelih hewan qurban karena hari Jumat adalah hari tasyrik. Hanya bedanya bagi kelompok Rabu, hari Jumat adalah hari tasyrik kedua, sementara bagi kelompok Kamis, hari Jumat adalah hari tasyrik pertama. Adakah solusi lainnya? 😦

Semoga perbedaan lebaran seperti ini tidak sampai menimbulkan perselisihan-perselisihan di kemudian hari. Semoga perbedaan lebaran tidak menghalangi umat Islam untuk bisa menyembelih hewan qurban bersama. Mari mengedepankan sikap toleran dan ukhuwah. Salam.

Alasan-Alasan Penetapan Berbasis “Ijab Qobul” Yogyakarta

Alasan-Alasan Penetapan Berbasis “Ijab Qobul”

  1. Adanya jaminan status khusus dari pemerintah Indonesia untuk dua negara yang bersifat Kerajaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kepangeranan Paku Alam sebagai “imbalan” untuk bergabung dengan Negara Republik Indonesia sebagaimana tertuang pada Piagam Penetapan 19 AGustus 1945.
  2. Adanya status keistimewaan bahwa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa Setingkat Propinsi (Bukan Propinsi) yang dipimpin oleh Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Bukan Gubernur dan Wakil Gubernur) dengan konsep Dwi Tunggal sesuai UU No. 3 Tahun 1950.
  3. Adanya kekuasaan penuh atas Pemerintahan Dalam Negeri Yogyakarta serta Pemahamannya dari Kekuasaan-Kekuasaan lainnya di tangan Sri Sultan dan Sri Paku Alam yang dipertanggungjawabkan langsung kepada Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia sebagaimana tertuang pada Amanah HB IX / Paku Alam VIII – 5 September 1945

“BERGABUNG TAK BERARTI MELEBUR”

Pengawal Amanah HB IX 5 September 1945

Leaflet (selebaran) ini harap disimpan sebagai pegangan memperjuangkan keistimewaan DIY

 

Leaflet (selebaran) itu saya temukan tertempel di dinding trotoar jalan Malioboro, beberapa waktu lalu.

Ahmed Fikreatif

 

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

 

 

Apa Latar Belakang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta?

Apa Latar Belakang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta?

  1. Adanya “Ijab Qobul” dimana Piagam Kedudukan 19 Agustus 1945 yang merupakan LAMARAN dari Republik Indonesia dalam hal ini oleh Ir. Soekarno sebagai Presiden kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Penguasa Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat telah DITERIMA dengan MAHAR yang tertuang dalam Amanah Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 5 September 1945. Baca lebih lanjut

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem

Kaos yang dikenakan oleh salah seorang tukang becak ini kujumpai di kawasan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Sebuah kalimat yang artinya cukup dalam dan boleh dibilang berbau ‘politis’ serta sarat perjuangan masyarakat Yogyakarta pada saat ini. Kalimat Pedjah Gesang Nderex Ngarso Dalem memiliki arti bebas “Hidup dan Mati ikut ‘Ngarso Dalem‘ (yang dalam hal ini adalah Raja atau Sultan)”. Jika dibaca dalam situasi politik yang sedang terjadi di kota Yogyakarta pada saat aku memotret itu, kata-kata itu merupakan ungkapan dukungan akan Keistimewaan Yogyakarta yang sedang bersitegang dengan pemerintah pusat di Jakarta. Baca lebih lanjut

Main Mercon

Mercon

Mercon

Main Mercon

Main mercon atau petasan. Jika datang bulan Ramadhan, permainan ini tidak mungkin kulewatkan begitu saja. Tak hanya aku, kawan-kawan sebayaku dulu saat aku masih usia-usia SD, juga demikian. Sebuah permainan yang secara umum hanya populer pada saat bulan Ramadhan saja. Setelah bulan Ramadhan, permainan ini seperti langsung kehilangan ruh-nya.

Peringatan orangtua atau larangan guru sekolah serta adanya informasi orang-orang yang terluka saat main mercon di koran-koran tak menyurutkan nyali kami bermain mercon. Bahkan terkadang berita-berita di koran tentang mercon yang memakan korban justru menjadi tantangan kami untuk menaklukkannya. Bukan lelaki jika tak berani bermain mercon. Kira-kira demikian ledekan diantara sesama anak laki-laki jika ada yang tidak berani bermain mercon. Terprovokasi oleh kata-kata itu, aku pun terpancing untuk menjadi seorang ‘Lelaki Sejati yang Pemberani’ untuk menaklukkan mercon. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: