[Tinjauan (sok) Kritis] Penerjemah Tersumpah – Sworn Translator


Sering dengar istilah penerjemah tersumpah? Kupikir kawan-kawan dan sobat-sobat blogger pasti sudah pernah dengar istilah itu. Aku sendiri pertama kali mendengar istilah itu saat membaca-baca iklan-iklan baris di sebuah surat kabar nasional. Waktu itu aku masih SMA. Kupikir waktu itu, seorang penerjemah memang harus tersumpah atau disumpah terlebih dahulu sebelum yang bersangkutan berprofesi sebagai penerjemah. Anggapan itu kemudian masih terus mengiang dalam memoriku.

Pada sebuah kesempatan, Allah mengizinkanku kuliah di Fakultas Sastra sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Dan aku pun memilih masuk di jurusan bahasa Inggris. Di perkuliahan, aku memperoleh pengajaran dan pelajaran penerjemahan mulai dari teori sampai praktek-prakteknya. Penerjemahan teks-teks umum, narasi, cerpen, dokumen-dokumen, surat-surat legal, surat-surat bisnis, dan lain-lainnya adalah makanan sehari-hari setiap kali kuliah Penerjemahan. Namun anehnya, aku tak memperoleh penjelasan seputar adanya “Penerjemah tersumpah”.

Ternyata, Penerjemah Tersumpah / Sworn Translator di Indonesia sebetulnya adalah profesi seorang penerjemah yang melakukan pekerjaan penerjemahan secara ekstra hati-hati guna menghasilkan hasil terjemahan yang tidak menyimpang dari makna yang dimaksud dalam bahasa sumber (source language). Selain itu, mereka juga harus menjaga kerahasiaan dokumen yang diterjemahkan karena dokumen tersebut berisikan informasi-informasi penting yang bersifat sangat rahasia dan bermakna vital bagi pemilik dokumen tersebut. Dalam pengertian lain yang sedikit berbeda, Penerjemah Tersumpah disebut untuk menyebut kepada seorang penerjemah teks hukum.

Lantas, muncul pertanyaan di kepala kawan-kawan mahasiswa sastra (terutama Inggris) tentang bagaimana memperoleh sertifikat “Penerjemah Tersumpah” tersebut -kalaupun ada. Selanjutnya, siapakah yang berwenang untuk mengeluarkan sertifikasi “tersumpah” tersebut ? Atau siapakah yang akan menyumpah? Pertanyaan-pertanyaan seputar itu ku yakin muncul di kepala para mahasiswa sastra yang mengambil fokus bidang studi penerjemahan. Dan bagaimana jika kita menjadi penerjemah yang tak tersumpah ? Bolehkah kita menjadi penerjemah tanpa tersumpah? Baca lebih lanjut

Terima Kasih Ibu Grace Giovani…..!!

Grace Giovani

Terima Kasih ibu Grace Giovani…..

Nama beliau Grace Giovani. Namun aku biasa menyebut nama beliau dengan ibu Grace. Meskipun usianya sejauh perkiraanku belum melebihi angka 35 tahun, namun aku lebih biasa menyebut beliau dengan menggunakan kata depan “ibu” karena kebiasaan dari awal menyapa beliau.

Ibu Grace Giovani, beliau adalah seorang Notaris yang diberikan amanah tugas di daerah Semarang. Alamat kantor beliau berada di Jl. S. Parman No.12 Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jika anda berniat untuk menghubungi beliau silakan mengontak beliau di nomor 024 70288053. Sejarah studi beliau diawali dengan mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia selepas lulus dari SMA. Setelah menuntaskan studi sarjana hukum beliau selama kurang lebih tiga setengah tahun, beliau melanjutkan minatnya di dunia hokum dengan mengambil Magister Kenotariatan pada Universitas yang sama hingga dinyatakan lulus pada tahun. Setelah menjalani kewajiban magang selama 2 tahun, beliau kemudian memperoleh amanah tugas di daerah Semarang sebagaimana saat ini sejak tanggal 22 Mei 2006 melalui Surat Keputusan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk profesi Notaris, dengan nomor C-178.HT.03.01.Th 2006.

Karir hukumnya dimulai dengan menjadi pengacara muda di Kantor Hukum Junimart, Natanael, Ridwan (Sekarang BNR Law Firm), kemudian bekerja di PT. ASURANSI MITSUI MARINE INDONESIA (sekarang Asuransi Mitsui Sumitomo Indonesia) sebagai Legal Officer saat menuntut ilmu di Magister Kenotariatani dan terakhir untuk memantapkan keahlian dalam bidang notaris, bekerja di Kantor Notaris SINTA SUSIKTO, S.H sebagai Asisten dan telah beberapa kali diangkat sebagai Notaris Pengganti. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: