Bocah Cilik

 

Ilustrasi Anak-Anak TK

Ilustrasi Anak-Anak TK

Bocah Cilik

Masa kanak-kanak dulu, aku masih ingat diberikan pelajaran oleh guru-guru TK-ku yang tidak jauh-jauh dari cerita, nyanyi, dan menggambar. Sekolah sambil bermain, atau belajar dengan bermain? Ah, apalah namanya. Nah, salah satu nyanyian yang diajarkan bu Romlah, bu Amanah, serta bu Prapti (guru-guru TK Al Islam 10 Darpoyudan saat itu_pen) yang cukup menghunjam di dada dan masih kuhafal sampai sekarang adalah nyanyian (dalam bahasa Jawa) berikut ini:

Siji loro telu astane sedeku,
mirengake Pak Guru,
Menowo didangu,
Papat nuli limo dik,
Lenggahe sing toto,
Ojo pada sembrono mundhak ora bisa;

Baca lebih lanjut

Bu Romlah & Kisah Yang Menggugah

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Bu Romlah & Kisah Yang Menggugah

Dua puluh tahun silam, di sebuah daerah di bilangan kampung Darpoyudan, Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kotamadya Surakarta, tersebutlah seorang guru TK cukup paruh baya yang biasa dipanggil sekumpulan bocah berseragam putih rompi hijau dengan celana pendek hijau dengan panggilan ibu Romlah. Parasnya cukup cantik dengan kulit kuning langsat berhias satu titik tahi lalat di dagu. Ia nampak anggun dengan balutan kerudung menutup kepala dan baju longgar panjang yang menjuntai menyentuh tanah.

Namun ketika berada di depan kumpulan bocah berseragam rompi hijau dengan celana pendek hijau dan suaranya mulai keluar dari lisannya, bu Romlah seperti berada di medan perang berada di garis depan pasukan bersenjata bersiap mengobarkan perang sabil menyongsong kemuliaan. Beliau mengajarkan murid-muridnya dengan penuh wibawa, lembut namun tegas, dan atraktif. Tak ada murid-muridnya yang tak mengaguminya.

Ketika bu Romlah berkisah di hadapan murid-muridnya tentang perjuangan Thalut memukul mundur dan menghancurkan tentara pimpinan Jalut, anak-anak didiknya merasakan aura seolah berada di dalam barisan pejuang-pejuang di bawah komando Thalut. “Ibu… aku ingin menjadi panglima Thalut yang mengalahkan Jalut!” seru Ali, salah satu muridnya. Baca lebih lanjut

Beginilah Aku Belajar [Kuliah-sekarang]

Bagaimana Aku Belajar [Kuliah-sekarang]

Memasuki dunia kampus, pembelajaranku juga tak jauh beda. Bahkan boleh dibilang justru lebih mudah karena jika selama di SMA banyak pelajaran yang harus dipelajari, maka ketika kuliah yang dipelajari hanya satu tema. Hanya saja memang lebih spesifik dan mendetail. Hal itu lebih memudahkan kurasa. Karena aku kuliah di jurusan sosial (bukan eksakta) maka aku lebih sering membaca daripada berlatih soal. Pada awal kuliah, aku inginnya belajar dengan cara membaca buku-buku tekstual tentang suatu objek perkuliahan. Pengaruhnya, aku lebih mengetahui sebuah ‘doktrin’ secara luas daripada sekedar menerima ‘doktrin’ dari dosen. Ini kulakukan karena disamping aku memiliki minat baca yang masih cukup besar, juga karena aku merasa benar-benar tidak menguasasi objek perkuliahan yang kuambil. Bahkan boleh dibilang aku benar-benar buta dengan hukum dan ilmu hukum.

Idealisme dalam belajar perlahan mengalami penurunan. Aku menjadi lebih pragmatis ketika metode pembelajaranku itu justru menjauhkanku dari nilai IP (Indeks Prestasi) yang bagus. Setiap kali menempuh ujian (baik mid maupun akhir), soal-soal yang ditanyakan selalu saja lebih terarahkan dalam satu jawaban seragam. Hampir tak ada analisa dan pengayaan. Hal itu sebenarnya juga dikarenakan aku lebih condong pada teori-teori di buku teks daripada yang disampaikan oleh para dosen juga sih. Singkat cerita, di pertengahan masa kuliah, aku mengubah gaya belajarku dengan lebih sederhana. Aku hanya belajar dari apa yang disampaikan para dosen saja. Buku-buku teks para sarjana sudah kulupakan. Orientasiku hanya dapat nilai IP yang tidak memalukan. Tak perlu dapat cumlaude. Waktu yang tersisa lebih aku efektifkan untuk membangun wirausaha. Aku belajar wirausaha / wiraswasta. Baca lebih lanjut

Beginilah Aku Belajar [SMP-SMA]

Bagaimana Aku Belajar [SMP-SMA]

Masuk SMP, pembelajaranku mulai sedikit berubah. Aku mulai diarahkan lebih mandiri. Ayah sudah tidak lagi berperan seperti pembawa acara kuis yang memberikan pertanyaan sementara aku peserta kuisnya yang bertugas menjawab menjawab pertanyaannya. Ayah lebih memerankan diri sebagai seorang konsultan jika aku menemui kesulitan dalam pelajaran. Biasanya, soal-soal yang sering aku konsultasikan adalah Matematika. Sementara soal-soal hafalan secara umum bisa kukerjakan secara lebih mandiri. Sesekali saja aku bertanya jika telah buntu.

Untuk pelajaran-pelajaran sosial, aku sepertinya masih menggunakan metode lama zaman SD, yaitu membaca, mengerjakan soal latihan, dan membacanya kembali berulang-ulang sampai bosan. Namun kalau untuk soal-soal eksakta, proses pembelajaran hanya dengan mengerjakan PR-PR yang diberikan guru setiap hari. Selebihnya tak ada belajar. Terkesannya, belajar adalah mengerjakan PR. Spesifik lagi, belajar adalah mengerjakan PR Matematika atau Fisika. Huft. Baca lebih lanjut

Beginilah Aku Belajar [TK-SD]

Bagaimana Aku Belajar [TK-SD]

Ada satu hal yang masih mengganjal saat menulis tentang model-model para pembelajar tempo hari. Aku belum menceritakan tentang bagaimana aku belajar. Memang sebenarnya di akhir tulisan aku sudah bilang kalau aku tak memiliki karakteristik khusus dalam belajar atau menentukan waktu yang tepat untuk belajar. Tapi tak salah kiranya jika aku sampaikan pengalaman belajarku selama ini. Dengan demikian kamu bisa menggolongkan aku ke dalam pembelajar model yang mana. He3x.

Waktu masih TK, seingatku tak ada konsep belajar yang kutekuni. Aku lebih suka bermain daripada belajar. Hal itu berlangsung sampai kelas 3 atau 4 SD lah kira-kira. Tak salah makanya selama waktu itu aku boleh dibilang tergolong siswa menengah ke bawah dalam hal prestasi dan ranking kelas. Kemampuan tulis ku pun jauh dari layak. Dalam buku-buku pekerjaanku sering ditulisi oleh guruku sebagai pesan agar aku memperbaiki tulisanku. Oleh sebagian guru, tulisanku sering disebut tulisan cekeran pitik (ceker ayam) karena saking jeleknya.

Barulah kemudian setelah kelas 4 SD itu, aku memulai tergila-gila dalam membaca buku pelajaran. Barangkali kegilaan ini sudah mencapai stadium puncak karena setiap buku pelajaran yang ada cerita-cerita narasi sudah pasti saya habiskan secepat mungkin. Jika sudah khatam, kuulangi lagi buku pelajaran itu untuk kubaca lagi. Bahkan buku-buku pelajaran kelas di atas atau di bawahku pun kubaca juga. Pokoknya benar-benar sudah gila kuadrat lah aku dalam persoalan baca membaca waktu itu. Baca lebih lanjut

Jasamu Guru

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Guru

Salah seorang yang sangat memiliki jasa yang besar bagi diri kita hingga bisa seperti saat ini -selain dari orang tua- adalah seorang guru. Kehadiran guru seringkali terlupa dari benak kita. Tak sedikit sebagian dari kita yang terlalu pongah untuk mengklaim kesuksesan yang telah kita raih saat ini merupakan murni kerja keras diri kita sendiri. Kita seringkali melupakan kehadiran seorang guru yang membangunkan pondasi bagi kita agar mampu membangun jati diri kita hingga terus meninggi sehingga dapat menggapai cita-cita yang tergantung di langit.

Aku masih ingat dengan guruku TK yang bernama ibu Amanah, ibu Prapti, dan ibu Romlah. Mereka mengajariku banyak hal yang masih sedikit kuingat dalam memori. Mereka mengajari bagaimana memegang pensil, menggambar, menulis, membaca, mengenakan pakaian, sampai memakai sepatu. Mereka juga mengajari bagaimana sholat, bagaimana membaca al Quran, bagaimana adab dan doa-doa dalam melakukan berbagai aktivitas, dan menghormati orang tua. Tak hanya mengajari dan mendidik, mereka juga sering menghibur kami dengan dongeng-dongeng tentang Kancil, Kelinci, Buaya, Pak Tani, Nelayan, kisah para Nabi, dan kisah-kisah penuh pelajaran lainnya. Mereka pun juga membekali murid-murid untuk memiliki keberanian dan kepedean dengan mengadakan pentas-pentas seni. Untuk yang terakhir itu, aku gagal melewatinya karena tergolong murid yang paling minder dan pemalu.

Menginjak SD, pelajaran sudah mulai lebih mendalam. Kegiatan bermain sudah sedikit berkurang. Aku sudah jarang mendengarkan dongeng-dongeng tentang Kancil dan lain-lainnya. Sebagai gantinya, aku dikenalkan dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan operasi-operasi perhitungan matematika tingkat sangat dasar. Menginjak SD, kegiatan menulis mulai lebih banyak dibanding dengan menggambar atau mewarnai. Hafalan-hafalan pun semakin meningkat tidak hanya pada doa-doa pendek, namun mulai diperkenalkan untuk menghafal surat-surat pendek dalam al Quran. Enam tahun di SD merupakan waktu yang sangat lama kurasakan saat itu. Terlampau banyak kenangan serta pelajaran berharga yang kuperoleh dari pengajaran dan pendidikan bapak ibu guru di SD. Selama enam tahun itulah dasar ilmu, akhlak, dan moral ditempa guna menjadi pondasi yang menentukan pembangunan pada level selanjutnya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: