Carilah Masjid, Banyak Saudaramu Di Sana

Ketika salah seorang kerabat yang saya panggil pakdhe Tulus hendak pergi keJakarta dengan niat hijrah untuk bekerja mencari rezeki, ayahnya berpesan,”Solo adalah bumi Allah. Jakarta juga bumi Allah. Kemana saja kamu pergi merantau, carilah masjid, di sana akan kamu akan ketemu saudaramu (kowe akan nemu akeh sedulur).” Baca lebih lanjut

Iklan

Sahabat

Burung gelatik terbang di awan
Muda belia menangkap ikan
Baik-baik bila berkawan
Akhlak mulia mesti diutamakan

Saya punya teman seorang mahasiswa universitas swasta terkemuka di kota Solo, sebut saja Budi. Singkat cerita pada suatu kisahnya, dia kehilangan kunci sepeda motornya saat beranjak pulang ke rumah. Saat itu keadaan kampusnya sudah sepi karena langit sudah beranjak mendekati malam hari. Karena ia ingat belum sholat maghrib, maka ia kemudian sholat maghrib terlebih dahulu di mushola. Setelah sholat, ia tambah bingung. Keadaan sekitar semakin sepi. Ia lihat dari kejauhan motornya sendirian nestapa. Lalu, ia coba menanyakan kepada petugas satpam piket yang ada di kampusnya, apakah dia melihat dan menemukan kunci yang hilang apa tidak. Sayang, sang satpam merasa tidak menemukan ada sebuah kunci motor yang hilang sejak sore. Baca lebih lanjut

Getting a New Friend in Bandung

Friendship

Sumber gambar kathiyavad.com

Jam 4 sore tepat, aku langsung segera absen pulang dengan men-scan lima jariku di mesin scanner absen di kantor. Dengan agak tergesa-gesa, aku pun segera melangkah ke tempat parkir. Di sana mas Edi –seorang pegawai dapur kantor- telah menungguku dengan motornya siap mengantarkanku menuju Gambir.

Pukul 16.15 WIB, kereta Argo Parahyangan siap diberangkatkan dari stasiun Gambir. Demi mengejar kereta jam 16.15 WIB, maka aku minta tolong mas Edi untuk mengantarku ke Stasiun. Sayangnya Allah berkehendak lain. Suddenly, hujan turun dengan cukup deras. Arrrrggghhh. Aku harus mencari pinjaman mantel (jas hujan) terlebih dahulu. Setelah berlarian kesana-kemari, Alhamdulillah aku berhasil memperoleh pinjaman (secara Ghosob_karena kucari-cari yang punya ga ada di ruangan –sory mas Agung 🙂 ).

Dengan sedikit ngebut dan menerjang genangan air setengah betis yang menggenangi jalan Menteng Raya dan Medan Merdeka aku sampai juga di Stasiun Gambir dalam keadaan lumayan basah. Setelah kusampaikan terima kasih dan basa-basi seadanya kepada mas Edi serta melepas jas hujan, aku meluncur berlari-lari kecil menyusuri lorong menuju loket pembelian tiket. Ups, waktu telah menunjuk pukul 16.20 WIB pertanda kereta telah berangkat 5 menit sebelumnya. Huft…. Apa boleh buat? Aku memutuskan ngantre tiket untuk pemberangkatan berikutnya. Lagi-lagi kereta yang masih menyisakan tempat duduk hanya tinggal kereta untuk pemberangkatan pukul 19.00 WIB. Itupun hanya menyisakan tiket berdiri dan eksekutif seharga Rp. 65.000,-. Sementara kereta yang berangkat pukul 17.45 juga telah habis tiket. Arrrrgggghhhh Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: