[Biografi Orang Biasa] Sairun

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Tingginya berkisar 160 centimeter. Rambut di kepalanya hampir keseluruhan beruban menandakan dirinya telah berusia tua. Kumis yang memutih menghias diantara sela bibir dan hidungnya. Berperawakan sedang, orang ini menaiki motor xxx yang sudah butut setiap harinya ke kantor tempatnya bekerja.

Sebenarnya, ia sudah memperoleh MBT, masa bebas tugas. Namun karena perusahaan tempatnya bekerja masih membutuhkan tenaganya karena prestasinya selama mengabdi untuk perusahaan, maka ia masih memperoleh kesempatan bekerja dengan status pegawai kontrak pendek.

Lika-liku kehidupan pria ini menarik untuk kita jadikan sebagai sebuah pelajaran. Terlahir pada tahun 1952, orangtuanya memberi nama Sairun. Ia tidak tahu apa arti nama Sairun. Terlahir sebagai anak seorang yang bukan keluarga berkantong tebal, ia tidak bisa menghabiskan masa kecilnya dengan bermain-main.

Kampung halamannya di Tegal tidak terlalu memberikan memori yang menyenangkan untuk dikenang karena sejak bangku Sekolah Dasar, ia sudah harus belajar bekerja. Berjualan koran atau berjualan barang-barang tertentu yang bisa memperoleh uang akan dilakukannya. Baca lebih lanjut

Kartini dan Emansipasi Wanita

RA Kartini Bersama Suami

RA Kartini Bersama Suami

Mendadak, beberapa ibu-ibu yang kujumpai di halte bus Transjakarta mengenakan pakaian kebaya lengkap dengan sanggulnya. Para kru perempuan bus Transjakarta, Selasa (21/4/2009), berdandan cantik di luar kebiasaan dengan mengenakan pakaian kebaya dan adat-adat nasional mengantar para penumpang. Ratusan polisi wanita (Polwan) di kantor Satuan Administrasi Satu Atap (Samsat) Jakarta Selatan dan BPKB Polda Metro pun tidak mau ketinggalan mengenakan kebaya. Tak hanya itu saja, di Denpasar Bali, peringatan hari kartini dilakukan dengan cara yang cukup unik, yakni bermain surfing atau selancar mengenakan kebaya. Sebanyak 20 surfer wanita dari komunitas surfer di Pantai Kuta dan 3 diantaranya wisatawan asing ambil bagian dari peringatan kartini ini. Begitulah beberapa cara sebagian orang merayakan dan memperingati Hari Kartini.

Sebagian kalangan mengenal Raden Adjeng Kartini hanya sebatas pahlawan nasional. Sebagian lagi mengenal Kartini sebagai seorang tokoh atau aktivis feminisme masa lampau dikarenakan tulisan-tulisannya yang dianggap menyuarakan semangat perlawanan perempuan terhadap kungkungan adat (Jawa) dan agama (Islam). Baca lebih lanjut

Wanita-Wanita Indonesia yang Lebih Hebat Dari Kartini

 

Dewi Sartika

Dewi Sartika

 

Selama ini kita lebih mengenal sosok Kartini dan pemikirannya yang kerap disalahartikan sebagai dasar pijakan pemikiran dan tokoh kaum feminisme. Padahal, jika melirik dari usaha, langkah, hasil, dan idealisme serta karya-karya yang diusung wanita-wanita di bawah ini, gerak lajunya telah berada jauh di depan Kartini. Hanya saja, nama-nama mereka tidak terlalu kita kenal. Kita lebih mengenal sosok Kartini yang justru menjadi terkenal karena dipromosikan oleh seorang noni Belanda.

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar, seorang sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia, menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan sebagai tokoh yang lebih pantas dibandingkan seorang Kartini, seperti Dewi Sartika di Bandung danRohana Kudusdi Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947), bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama di negeri ini. Rohana lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Baca lebih lanjut

Sahabat-sahabat yang “menyesatkan” Kartini pada Pemikiran Feminisme

Adat pada zaman-zaman Kartini di Jawa, tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya, menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas; sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa.

Dalam situasi demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggap lebih ningrat daripada orang Jawa.

Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah “musuh-musuh dalam selimut” yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya.

Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya : Baca lebih lanjut

Benarkah Keteladanan Telah Menghilang?

Bulan bintang di atas cakrawala

Muda belia mencari ikan

Teladan hilang dari para ulama

Cinta dunia takut kematian

Pada hari-hari seperti sekarang ini sangat susah kita dapati, orang yang akhlak-nya (baca: moralnya) bisa kita contoh untuk dijadikan sebagai teladan. Sebagai penggambaran, kita bisa tengok kejadian beberapa saat lampau, dimana seorang menteri agama yang sudah bertitel Kyai Haji dan juga hafizh (hafal al Quran) ternyata terlibat korupsi dana abadi umat di lingkungan departemennya.

Ada juga tokoh kyai yang beranjak dari profesi pelantun nada yang kemudian dikenal sebagai kyai “nada dan dakwah”, kita saksikan kepergok memiliki seorang istri (dari kawin siri) di sebuah perumahan. Sebelumnya, beliau sangat getol mengusung gerakan anti goyang inul yang kontroversial. Namun, beberapa saat kemudian, justru dia sendiri yang terjebak dalam isu moralitas yang dipertanyakan. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: