Toilet [Khusus] Waria

toilet-waria-sriwedari.jpg.jpeg

Toilet Waria di THR Sriwedari (sumber: blontankpoer)

Toilet [Khusus] Waria

Gambar di atas diambil dari koleksi foto yang diambil seorang blogger Solo, pak Blontankpoer. Lokasinya berada di THR Sriwedari – Solo. THR Sriwedari sendiri berlokasi dalam satu komplek dengan Stadion R. Maladi (Sriwedari) yang merupakan tempat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Indonesia. Apa yang kira-kira ada di dalam pikiran kamu saat membaca keterangan tulisan pada toilet di atas? 😀 Jika suatu saat kamu pas kebelet pipis lalu melihat toilet seperti di atas, apakah kamu akan melanjutkan pipismu? 😀 Baca lebih lanjut

Mengenang Maca Kecil di Kauman dan di SD bersama 20 Siswa yang Luar Biasa

 

SD ISLAM NDM (Dari Sisi Barat)

SD ISLAM NDM (Dari Sisi Barat)

Solo, di kota inilah aku menghabiskan waktu lebih dari 20 tahun (setidaknya hingga kini). Aku tidak tahu apakah aku akan kembali lagi ke kota yang benar-benar memberiku kenangan yang tak mungkin terlupakan.

Meski aku tidak dilahirkan di kota ini, aku merasa terlahir di kota kecil yang sering disebut sebagai “Kota Sumbu Pendek” ini. Aku tidak tahu pasti pada usia berapa aku pertama kali pindah di Kota yang terkenal dengan Sungai Bengawan Solo-nya. Yang aku ingat, sebelum aku masuk taman kanak-kanak pada umur tiga (3) tahun, aku tinggal di sebuah rumah kontrakan tua di daerah Kauman-Kampoeng Batik. Aku juga masih ingat setiap hari dititipkan di rumah kakek-nenekku yang ketika itu rumahnya masih berdinding anyaman bambu (jawa: gedhek). Setelah aku dimasukkan ke taman pendidikan kanak-kanak pun, aku juga masih dititipkan kepada kakek-nenek (baca: simbah_jawa). “Penitipan” ini berlangsung terus hingga aku lulus SD, dan selanjutnya menginjak bangku SMP.

Tahun 1992, ketika aku masih sekolah di bangku SD kelas 1, orang tua memutuskan berpindah rumah di pinggiran kota Solo tepatnya di daerah Kecamatan Kartasura yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo.

Meski berpindah rumah di Sukoharjo, aku tetap disekolahkan orang tua di Kauman Solo. SD Islam NDM Kauman Surakarta demikian nama lengkap sekolah dasar tempat dasar-dasar ilmu pendidikanku ditanamkan. Itulah mengapa, aku selalu dititipkan kepada simbah hingga lulus SD karena kedua ortuku harus bekerja pagi hingga siangnya. Selepas pulang sekolah, sambil menunggu jemputan orang tuaku, aku habiskan waktu untuk bermain dengan kawan-kawan di jalanan Kota Solo yang kebanyakan berasal dari keluarga-keluarga miskin. Kawan-kawanku rata-rata adalah anak penjual sate Madura, anak penjual kain, anak preman pasar, anak buruh pabrik, anak para juragan batik Kauman, anak para buruh pengusaha Klewer, anak tukang parkir, anak tukang becak, anak penjual bakso & mie keliling, dan anak dari (bukan bermaksud untuk merendahkan profesi dan pekerjannya) para pemilik profesi-profesi rendah yang setiap harinya diisi dengan kehidupan keras dan kejam. Kata-kata jorok yang belum saatnya keluar dan didengar dari mulut serta telinga seorang anak SD sudah seringkali terdengar dan sempat kuterbiasa dengan kata-kata itu. Asu, Bajingan, Kere, Basio, Lonte, dan lainnya seolah kata-kata makian yang begitu saja keluar dari mulutku meskipun ku tak tahu apa artinya.

Aku masih ingat saat berjalan kaki dari Kauman ke Pasar Legi hanya sekedar jalan-jalan sambil menghisap rokok yang diambil dari sisa puntung rokok di jalan. Aku juga masih ingat sering bolak-balik pasar Widuran (sekarang telah ditutup dan dipindah di Pasar Depok) dan Depok untuk membeli jangkrik. Baca lebih lanjut

Bonbin Jurug, Taman Indah Kota Solo yang Terlupakan

Jurug Tampak Depan

Taman Jurug

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menguras rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya adalah Taman Satwa Taru Jurug Solo (TSTJ) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jurug atau nJurug oleh warga Solo.

Seingatku seumur-umur hingga aku nulis ini, aku baru mengunjungi taman ini 3 kali. Dua kali sewaktu aku masih sekolah TK, sementara yang sekali lagi sewaktu aku masih duduk di bangku SD kelas 5. Ada pengalaman tersendiri saat aku berkunjung di “Kebon Rojo” alias bonbin Solo ini bareng-bareng kawan-kawan sekolah. Kisah selengkapnya di Mengenang Masa Kecil Bersama 20 Siswa Luar Biasa. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: