Menggelar Halal Bi Halal Keluarga di Surga

Menggelar Halal Bi Halal Keluarga di Surga

Berkumpul pada malam takbiran sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami jika bulan Ramadhan telah berakhir dan lebaran Idul Fitri telah datang. Orang-orang sekarang menyebutnya dengan halal bi halal. Pada momen ini, sesama anggota keluarga saling bermaaf-maafan dan menyampaikan opini masing-masing. Selain itu, pertemuan itu juga menjadi momen muhasabah dan doa agar seluruh ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan diterima Allah ta’ala. Kebiasaan itu seingat saya sudah berlangsung sejak saya SMP. Baca lebih lanjut

Iklan

Janganlah Membenci Neraka

Sumber Gambar Silakan Klik Saja

Sumber Gambar Silakan Klik Saja

 

Janganlah Membenci Neraka

Sejauh pengetahuan, di alam akhirat hanya ada dua tempat kembali. Pertama adalah neraka. Di sinilah pada hakekatnya manusia berada yang karenanya manusia lebih tepat disebut sebagai calon-calon ahli neraka daripada ahli surga (Jannah). Sementara tempat kembali yang kedua adalah surga atau Jannah.

Sungguh bukanlah seseorang itu masuk al jannah karena amalannya. Para shahabat bertanya: “Demikian juga engkau wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Beliau berkata: “Demikian juga saya, melainkan Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. (HR. Al Bukhari no. 6463 dan Muslim no. 2816). Baca lebih lanjut

Sutrisno dan Bunga di Surga

Seorang yang pernah sangat dicintai dan diharapkan menjadi istri pendamping hidup Sutrisno sejak lama, beberapa hari lalu telah resmi disunting oleh seorang lelaki. Sutrisno, yang telah mencintainya sejak SMP, mau tidak mau harus bisa menerima kenyataan itu. Kenyataan yang sangat cukup menyayat hatinya, mengikhlaskan Bunga Puspa untuk selama-lamanya.

Bukan karena cinta buta dan tanpa alasan Sutrisno begitu mendamba Bunga. Bunga adalah teman Sutrisno sejak bangku Sekolah Dasar (SD). Semenjak mengalami masa-masa puber, Sutrisno menjatuhkan perasaan pertamanya kepada Bunga. Bunga memanglah seperti bunga. Ia mewangi menenggelamkan suasana sekelilingnya. Kecerdasan, akhlak, dan akidahnya begitu terjaga. Tak salah jika Sutrisno mendambakannya.

Rasa itu ternyata begitu melekatnya dalam hati Sutrisno hingga membuatnya tak bisa berbohong pada diri. Ia masih mencintai Bunga. Selepas memperoleh pekerjaan yang cukup layak, Sutrisno barulah memiliki keberanian dan merasa mampu untuk mengungkapkan perasaanny itu kepada Bunga. Ia menerima resiko ditolak sekalipun oleh Bunga. Sutrisno pun menyadari dirinya tidaklah se-sholih Bunga, sehingga jika ditolak sekalipun ia sudah siap. Baginya, ia hanya ingin cukup untuk tidak merasa penasaran dengan keadaan hatinya itu yang telah lama tersimpan rapi. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: