“Mahasiswa Yang Suka Demo Dilarang Menjadi PNS”

Komentar Kawan Dalam Diskusi di Facebook

Komentar Kawan Dalam Diskusi di Facebook

Mahasiswa Yang Suka Demo Dilarang Menjadi PNS”

Tulisan ini sambungan dari tulisan Klasifikasi MahasiswaMahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh? & Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?

Lebih jauh lagi, seorang kawan mempertegas komentarnya yang lebih tidak masuk akal di otakku. Ia menulis, “Note : yg suka demo,sya harap tidak mendftar PNS, menjilat ludah sndiri namany jika mengkritik negara akhrnya jdi abdi negara.”

Barangkali kawanku itu tidak bisa berdiskusi dengan membuat rumusan pembatasan masalah yang sedang dibicarakan. Berawal dari pembicaraan tentang isu demonstrasi dan mahasiswa bodoh serta isu bencana, akhirnya menyeret kepada LARANGAN atau himbauan untuk mendaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Logika yang disusun kawanku itu barangkali adalah menggunakan kaidah, “Jika biasanya mengkritik negara, pemerintah, dan semua unsur-unsurnya; bila akhirnya justru menjadi seorang abdi negara (PNS), maka disebut dengan menjilat ludah sendiri.” Baca lebih lanjut

Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?

 

Jangan Diam!!! (Sumber Solindo - klik pada gambar)

Jangan Diam!!! (Sumber Solindo - klik pada gambar)

Salahkah Jika Mahasiswa ber-Demonstrasi?

Tulisan ini sambungan dari tulisan Klasifikasi Mahasiswa & Mahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh?

Aku pribadi merupakan seseorang yang tidak mudah untuk melakukan aksi unjuk rasa atau berdemonstrasi dengan cara turun ke jalan. Aku pun juga boleh dikata salah seorang manusia yang membenci konsep demokrasi. Dan pada saat ini aku menulis sisi demonstrasi mahasiswa dalam sudut pandangan demokratis (meskipun sekali lagi aku membenci sistem kenegaraan demokrasi).

Masih melanjutkan pembicaraan tentang mahasiswa dan demonstrasi, ada seorang kawan yang berkomentar bahwa demonstrasi adalah bentuk sikap egoisme dan egosentris. Hanya mementingkan kepentingan pribadi dan tidak memiliki solusi. Puncaknya, dia membenci setiap aktivitas dan kegiatan yang bernama demonstrasi. Okelah, membenci dan menyukai sesuatu pada prinsipnya adalah sah-sah saja dan hak setiap orang untuk menyukai atau membenci sesuatu tersebut. Namun, di dalam negara demokrasi (yang sekali lagi kutegaskan bahwa demokrasi adalah sistem yang sangat kubenci) aktivitas demonstrasi sangat diperbolehkan dan bahkan menjadi salah satu ciri sebuah negara dikatakan demokratis atau tidak.

Sekelompok mahasiswa atau kelompok manapun dan siapapun yang melakukan demontrasi, pada hakikatnya diperbolehkan dan dilegalkan di negara demokrasi. Jika kita membenci demonstrasi dan berniat menghilangkannya dari kehidupan kita, maka langkah strategis yang ditempuh adalah mengakhiri kekuasaan demokrasi di negara ini. Meskipun hal itu tidak menjamin hilangnya demonstrasi. Baca lebih lanjut

Mahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh?

Status Facebook

Mahasiswa Yang Sering Demo = Mahasiswa Bodoh?

Tulisan ini sambungan dari tulisan Klasifikasi Mahasiswa

Beberapa jam sebelum aku menulis posting Blog ini, ada beberapa status Facebook kawanku yang menarik untuk kukomentari. Salah satu status yang cukup menarik dan ingin kubahas adalah status seorang kawanku, yang sebutlah namanya Titin (bukan nama sebenarnya). Dia menulis status, “Ya ampun, kok yo jik enek mahasiswa bodoh sing menyia siakan tenaga untuk demo, mbok yo tenagane dinggo dadi relawan ngresiki awu.. ckckck.”.

Komentar-komentar beberapa orang kawannya pun terkesan seolah membenarkan pernyataan dalam status Titin, meskipun tidak semuanya. Berturut-turut kemudian muncul komentar:

  1. jangan dimarahin mbak,tu makelarnya aku lho,hiihihi.
  2. wis dadi budaya kha….mahasiswa saiki kan isone protes wae…
  3. hidup mahasiswa
  4. iyo ik… Talk more do less tenan. Ngampus today boo?
  5. betul,saiki pntere do demo, dri pda demo, bkin jurnal ilmiah..sungguh bermanfaat, demo tu bersembunyi dbalik slogan ^sbg pengontrol pemerintah^ lh trz guna dpr iku op..r nalar blas
  6. ha yg ikut demo itu ambil prody demo dan hura2 mungkin 😀
  7. ho’o…

Menanggapi ketujuh komentar tersebut, pemilik status kemudian memberikan tanggapan untuk masing-masing:

  1. waa, lha provokator e sampeyan to mas? tolong pasukan diarahkan menuju kawah merapi, disana butuh sesuatu untuk nyumbat kawah.
  2. iya jeng, jare kaum intelek tp kelakuane kalah karo murid2 TK.
  3. wahaha. Aku sg jik statu…s mahasiswa we merasa malu dg apa yg mreka lakukan.
  4. lha yo boo, otaknya dibuang dimana ya mreka tu. aku ga ngampus boo, rumahku jadi posko bantuan. salam buat temans boo.
  5. nyat saking pintere apa saking bodone ya mas, otake cilik, pikirane sempit.
  6. iyo mas, sajak e nyat tiap univ skrg ada prodi demo. setidaknya nek enek tenan i mbok tata carane diatur. demo og ora empan papan.
  7. burger 😀 😀

Kembali kepada persoalan sebelumnya, perihal status yang kuartikan sebagai pandangan terhadap mahasiswa yang suka berdemonstrasi. “Ya ampun, kok yo jik enek mahasiswa bodoh sing menyia siakan tenaga untuk demo, mbok yo tenagane dinggo dadi relawan ngresiki awu.. ckckck.”. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: