If It Is a Destiny, It Will Never Flee

Tampilan Akun Facebook Putri

Tampilan Akun Facebook Putri

Seperti biasa, menjelang akhir pekan setiap Jumat, saya pulang ke kota Solo naik kereta. Mengunjungi anak dan istri. Bedanya, jika biasanya KA Progo, tetapi kali ini KA Brantas relasi Pasar Senen-Kediri yang menemani perjalanan.

Sekira pukul 16.00 WIB tepat, KA Brantas mulai melaju meninggalkan Stasiun Pasar Senen. Saya duduk di gerbong 6 kursi 21B bareng-bareng sedulur PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Sebelah kiri saya, Bu Nunuk dari Gemolong sedangkan kanan saya, Mas Danang dari Solo. Sementara 2 kursi di depan saya ditempati mba Vina dari Madiun dan mas Adi dari Wonogiri. Kita berlima duduk di kursi 21ABC dan 22AB. Sedangkan kondisi kursi lainnya, seperti kursi 23DE ditempati sepasang suami istri. Lalu di depannya, kursi 24 D ditempati seorang pria paruh baya dan kursi 24E diduduki seorang gadis jilbab hitam dengan baju gamis bermotif bunga. Baca lebih lanjut

Toilet di Stasiun Solo Balapan Masih Bayar

Toilet Stasiun Balapan (luar peron)

Toilet Stasiun Balapan (luar peron)

Dalam kurun 1-2 tahun terakhir, PT. KAI banyak melakukan penataan pelayanan bagi pelanggan, termasuk penataan stasiun. Konon, seluruh toilet stasiun direnovasi dan di-gratis-kan. Sayangnya, di Stasiun Solo Balapan sepertinya belum berlaku. Toilet di sini masih berbayar.  Baca lebih lanjut

Stasiun Bandung Pukul 3 Pagi

Stasiun Kereta Api Bandung

Stasiun Kereta Api Bandung

Kisah ini berawal dari niatanku pulang ke Jakarta dari Bandung hari Ahad tanggal 11 Juli 2010 setelah siangnya menghadiri resepsi pernikahan kerabat jauh di Bandung. Karena keesokan harinya, aku mesti sudah berada di kantor untuk beraktivitas kerja, maka aku harus segera berburu tiket kereta api di Stasiun Bandung. Sekitar pukul 14.00 WIB, aku meluncur menuju St. Hall dari kawasan komplek TNI Jl. Pahlawan. Loket belum dibuka sesampaiku di stasiun. Namun puluhan orang yang mengantre sudah berdiri dengan berbaris cukup tertib. Aku pun antre di baris paling belakang. Sepuluh menit berlalu, barisan pengantre sudah mencapai puluhan meter. Namun loket masih saja ditutup. Baru sekitar pukul 15.00 WIB, loket dibuka. Baru antrean lima di depan, tiket tempat duduk untuk kereta pukul 16.30 WIB sudah habis terjual. Hanya menyisakan tiket berdiri saja. Karena aku masih meninggalkan barang-barang bawaan di rumah kerabat cukup banyak, aku mengurungkan niat membeli tiket berdiri. Aku lebih memilih antri untuk tiket sore nanti saja atau malam. Baca lebih lanjut

“Persib Harus Nomor Satu”

Waktu ke Bandung hari Sabtu-Ahad, 30-31 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati untuk selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Jika kamu sampai di Stasiun Hall Bandung (Stasiun Bandung utama), lalu berjalan ke arah depan stasiun melalui pintu utara, lalu dongakkanlah kepala kamu ke arah kiri atas, maka kedatangan anda di Bandung langsung disambut dengan ucapan Selamat Datang di Kota Bandung dan sapaan motivasi beraroma fanatisme ala sepakbola.

Tak tanggung-tanggung, yang menyapa kamu langsung Walikota Bandung (saat aku menulis postingan ini), Dada Rosada, lengkap dengan atribut Persib Bandung. Persib Bandung dulu terkenal dengan sebutan Pangeran Biru dan terkenal sebagai klub yang “Anti Pemain Asing”. Namun agaknya Persib Bandung tak bisa terus ber-idealisme seperti itu hingga akhirnya pun Persib merekrut legiun asing juga. Seingatku yang membuat istimewa adalah bahwa Persib merupakan klub Perserikatan utama tingkat level Divisi Utama yang paling akhir menghalalkan rekrutmen pemain asing. Persib terkenal dengan “fanatisme” serta “kepercayaan” terhadap para pemain-pemain lokalnya. Bahkan pada Liga Indonesia pertama, Persib Bandung mampu membutikan bahwa kekuatan 100% pemain lokal mampu mengalahkan dominasi klub-klub lainnya yang disupport legiun-legiun asing.

Jujur, baru kali ini aku melihat baliho atau billboard yang cukup besar yang mempromosikan sebuah klub sepakbola lokal. Dan “bintang iklan” papan promosi tersebut adalah sang walikota setempat. Aku tidak tahu jika ternyata kota-kota lainnya juga memiliki billboard serupa, ya mohon maaf atas ke-kuper-anku :D.

Namun, hal ini sebenarnya menimbulkan pro-kontra tersendiri di kalangan masyarakat sepakbola maupun umum. Di Indonesia, dalam sejarah sepakbola, terdapat dua kutub sepakbola yang dikenal dengan sebutan Perserikatan dan Galatama. Sebelum adanya Liga Indonesia (dulu awalnya bernama Liga Dunhill), Indonesia memiliki dua kompetisi yang terpisah. Pertama, kompetisi sepakbola perserikatan. Kedua, kompetisi sepakbola Galatama.

Kompetisi sepakbola perserikatan diisi oleh klub-klub sepakbola yang tergabung dalam klub Perserikatan. Klub-klub perserikatan ini adalah klub sepakbola yang dananya disokong oleh Pemda setempat. Ciri-cirinya, rata-rata (mungkin malah semuanya) nama klub diawali dengan huruf “P” atau kata “Per”. Sebagai contoh, di Jakarta ada Persija (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Jakarta), Persijatim (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Jakarta Timur); di Bandung ada Persib (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Bandung); di Solo ada Persis (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Indonesia Solo); di Makasar ada PSM (Persatuan / Perserikatan Sepakbola Makassar); dll. Klub-klub perserikatan ini dibiayai sepenuhnya oleh Pemda setempat menggunakan dana RAPBD. Baca lebih lanjut

Gimana Sih, Pengumuman Stasiun Kok Ga Bener?

Tanggal 29 Desember 2010 kemaren, tepat hari Jumat sore, aku ceritane berniat mau ke Bandung naik kereta api. Karena Kantorku lebih deket ke Gambir, segera saja setelah pukul 16.00 WIB yang pertanda bagi jam pulang kantor, aku melangkah berjalan menuju Stasiun Gambir. Dari kantor, Stasiun Gambir bisa ditempuh dengan perjalanan 15-20 menit dengan berjalan kaki. Jika menggunakan Bus Kopaja atau jasa Ojek atau Bajaj, mungkin bisa lebih cepat tentunya dengan mengeluarkan beberapa ribu rupiah.

Rencana semula, aku berniat naik Kereta Parahyangan Bisnis yang berangkat pukul 16.30 WIB karena menurut informasi sebelumnya dari petugas tiket, jadwal itu merupakan jadwal terakhir hari itu. Sedikit mempercepat langkah, akhirnya aku sampai di stasiun sekitar pukul 16.15 WIB. Sesampainya di depan loket pembelian tiket, aku dibuat kaget dan terhenyak sedikit terheran. Di jendela kaca loket terpampang pengumuman kecil bertuliskan “TIKET TEMPAT DUDUK & BERDIRI KA PARAHYANGAN TELAH HABIS”. Baru kali ini aku membaca adanya tiket tanpa nomor tempat duduk atau tiket berdiri yang bisa-bisanya habis terjual. “Weleh…weleh… kok bisa sih?” batinku.

Untungnya, meskipun tiket KA Parahyangan yang berangkat pukul 16.30 WIB tersebut telah habis terjual, pihak Stasiun membuka keberangkatan kereta Parahyangan pukul 18.30 WIB. Menunggu waktu selama hampir dua jam kumanfaatkan untuk potret-potret suasana sekitar stasiun. Hasilnya lumayan.

Salah satunya adalah foto di atas samping. Apa yang menarik? Di dalam jadwal yang tertera dan terpampang di loket pembelian tiket disebutkan perihal jadwal keberangkatan kereta Parahyangan. Diantaranya menyebut waktu pukul 16.30 WIB dan 20.30 WIB. Anehnya, ketika ditanyakan oleh para penumpang seputar keberangkatan kereta pukul 20.30 WIB, petugas loket mengatakan tidak ada jadwal pemberangkatan KA Parahyangan untuk waktu pukul 20.30 WIB. Namun, ia menyebutkan bahwa setelah keberangkatan pukul 16.30 WIB, KA Parahyangan akan diberangkatkan lagi pada pukul 18.30 WIB dari Gambir. Pemberangkatan itu sekaligus merupakan pemberangkatan terakhir untuk hari itu. Baca lebih lanjut

Membidik Calo Stasiun Gambir via Kamera

pengguna jasa calo

Bagi yang sering main ke terminal, stasiun, pelabuhan, atau bandara pasti sudah tidak asing dengan yang namanya CALO. Bagi beberapa orang tertentu mungkin tidak sedikit yang pernah dibuat geram dengan perilaku CALO itu. Namun tak sedikit pula yang merasa harus sedikit berterimakasih pula kepada para CALO itu. Calo memang kadang dibutuhkan namun sering menjengkelkan.

Aku tidak tahu darimana kata Calo ini berasal. Apakah dari bahasa Betawi, Jawa, Belanda, atau malah bahasa slang. Yang jelas peristilahan Calo ini kini telah meluas hingga ke ranah bidang-bidang yang luas. Dulu peristilahan tersebut hanya muncul di dunia transportasi. Namun kini Calo juga banyak mengisi di dunia-dunia lain. Ada Calo kasus, calo pembuatan SIM, calo bioskop, calo kasus, calo terminal, calo tiket, calo jodoh, calo caleg, calo partai, calo politik, calo pegawai, calo PNS, calo hukum, dan calo-calo lainnya.

Kali ini aku lagi sedang tidak mood membahas calo secara mendetail. Tapi kali ini aku hanya ingin cerita sedikit tentang ulah calo di Stasiun Gambir beberapa hari lalu saat menunggu kereta Parahyangan menuju Bandung (29 Januari 2010). Sambil potret sana-sini, aku berhasil memperoleh bidikan menarik. Seorang oknum petugas keamanan berhasil tertangkap kameraku saat tengah membujuk dua orang calon penumpang agar bersedia “dibantu” untuk memperoleh tiket kereta tertentu. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: