Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Dengan Opium

Candu dan Opium dalam Revolusi Indonesia

Sambil menunggu istri kontrol dokter di RS. PKU Muhammadiyah Surakarta selama lebih dari 3 jam, saya membaca buku Opium dan Revolusi: Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950). Buku selesai dibaca selepas isya’ sekira pukul 20.30 WIB. Secara singkat, kesimpulan umum yang dapat saya tarik dari membaca buku ini adalah besarnya peran opium/candu dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di masa pergolakan revolusi (1945-1950).

tanggal 8 Maret 1948, Kementerian Keuangan menyurati Kementerian Pertahanan untuk meminta kepolisian agar membantu memperdagangkan candu yang akan digunakan untuk delegasi Indonesia ke luar negeri, delegasi Indonesia di Jakarta dan membayar pegawai-pegawai RI – Djogdja Documenten no.230 ANRI Baca lebih lanjut

Iklan

Nostalgia Data & Statistika Pemilu 2009

 

gambar-parpol-pemilu 2009Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 akan dilaksanakan sebentar lagi. Pemilu 2014 dilaksanakan dua kali yaitu Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014 dan Pemilu Presiden pada tanggal 9 Juli 2014. Tujuan Pemilu Legislatif adalah memilih para anggota dewan legislatif (DPR, DPRD, DPD), sedangkan Pemilu Presiden akan memilih Presiden dan Wakil Presiden. Hasil Pemilu 2014 nantinya akan menjabat selama 1 periode sepanjang 5 tahun ke depan.

Pemilu 2014 -konon- akan memakai e-voting dengan harapan menerapkan sebuah sistem baru dalam pemilihan umum. Keutamaan dari penggunaan sistem e-voting adalah Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang sudah mulai dipersiapkan sejak tahun 2012 secara nasional.

Berbicara tentang Pemilu 2014, agaknya perlu juga kiranya kita kembali menengok masa-masa Pemilu sebelumnya. Tempo hari, kita sudah sedikit kilas balik ke Pemilu 1999 dan Pemilu 2004, sekarang kita coba ingat kembali rekaman memori pada Pemilu 2009.

Pemilihan umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tahun 2009 (Pemilu Legislatif 2009) diselenggarakan untuk memilih 560 anggota DPR, 132 anggota DPD, serta anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-2014. Pemungutan suara diselenggarakan secara serentak di hampir seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 9 April 2009 (sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 5 April, namun kemudian diundur). Ada 34 partai yang ikut serta dalam pemilu 2009. Partai Demokrat memenangkan suara terbanyak.

Pada saat Pemilu 2009 digelar, saya sudah lulus dari bangku kuliah. Pada Pemilu ini, saya sudah tidak terlalu peduli dengan perkembangan Pemilu. Bagi saya, Pemilu justru membuat stabilitas ekonomi naik turun. Secara otomatis, hal ini berpengaruh kepada pendapatan saya saat itu yang tengah memulai usaha. Untungnya, kegiatan kampanye-kampanye di kota Solo sudah tidak ramai seperti tahun-tahun sebelumnya, kecuali kalau yang melakukan kampanye PDIP, partai terbesar di Solo dalam beberapa tahun.

Pada Pemilu 2009, saya memilih untuk tidak memilih (mencontreng) alias Golongan Putih (Golput) baik untuk DPRD, DPR, maupun DPD. Seingat saya, saat itu saya tidak mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sejak saat itulah saya mulai memilih menjadi bagian dari Golput dengan beberapa alasan.

Alasan pertama, pemahaman saya terhadap Pemilu Legislatif cenderung pada sesuatu yang Haram sehingga harus saya jauhi dan tingalkan. Saya menganggap bahwa Pemilu Legislatif adalah bagian dari rangkaian tatacara rakyat untuk memilih sejumlah anggota Dewan yang nantinya akan duduk sebagai Dewan Legislatif. Sementara diantara fungsi Dewan Legislatif yang paling utama adalah sebagai pembuat Undang-Undang sebuah negara. Pada titik kritis inilah saya menganggap bahwa Dewan Legislatif telah bertindak sebagai penyanding bagi Allah SWT yang seharusnya menjadi Dzat yang paling berhak untuk membuat hukum atau Undang-Undang. Kesimpulan saya menganggap bahwa DPR RI dalam fungsinya sebagai Legislatif merupakan sesuatu yang Haram secara rinci telah saya teliti dalam karya skripsi Strata-1 di Fakultas Hukum UNS dan telah diuji oleh tiga dosen penguji dan dinyatakan lulus dengan nilai A.

Alasan kedua, berbekal dari pengalaman beberapa tahun pelaksanaan Pemilu, Pemilu saya anggap tidak terlalu memberikan peningkatan yang signifikan dalam pembangunan negeri ini, khususnya pembangunan karakter bangsa, sosial budaya, akhlak dan mental serta yang paling penting pembangunan aqidah. Katakanlah, korupsi kolusi dan nepotisme tidak makin menurun tapi justru makin meningkat. Dalam membangun karakter bangsa pun, norma-norma sosial agama pun makin jauh dari nilai yang positif. Terlalu banyak saya memberikan contoh dalam hal ini.

Alasan ketiga, dalam membangun bangsa ini, saya tak harus menggantungkannya kepada para anggota legislatif yang saya pilih dengan mencoblos dalam Pemilu. Tanpa harus mengikuti Pemilu, bahkan saya bisa memberi kontribusi dalam membangun bangsa ini secara kecil atau besar tanpa harus terikat dengan pilihan pada kelompok partai satu atau lainnya. Contohnya, pada tahun 2008-2009, saya memutuskan menjadi relawan pengajar di SD dan mencari rezeki dengan menjadi guru les dengan tujuan mencerdaskan anak-anak bangsa, sebuah cita-cita yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. Dan anak-anak yang saya ajar bukan hanya dari satu kelompok saja, tapi dar berbagai latar belakang yang berbeda.

Alasan keempat, adanya pemilu realitanya hanya membuat keterpecahan masyarakat dan umat menjadi kelompok-kelompok yang saling membanggakan kelompok pilihannya masing-masing. Sementara membangga-banggakan kelompok merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah dan tergolong sebagai bentuk kesyirikan. Silakan melihat sekeliling kita saat pemilu datang, bahkan sesama umat Islam pun bisa saling cek-cok dan berkelahi hanya gara-gara beda parpol. Ukhuwah Islamiyah hilang digantikan dengan ukhuwah hizbiyah (partai). Kalau satu dua orang pelakunya bisa saja kita sebut mereka itu oknum, tapi jika yang demikian mencapai lebih dari separuhnya (50%), lalu apa masih bisa disebut dengan oknum?

Bertolak dari beberapa alasan di atas dan alasan-alasan lainnya yang belum terungkap di sini, maka akhirnya pada Pemilu 2009, saya memutuskan untuk Golput.

*****

Setelah Pemilu 2009 digelar pada 9 April 2009 dan selesai perhitungan suaranya, partai pemenang yang meraih suara mayoritas adalah Partai Demokrat yang saat itu identik dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meskipun SBY sendiri bukan Ketua Umum, tetapi Ketua Dewan Pembina. Berikut data statistik hasilnya:

Data Statistik Pemilu 2009

1. Jumlah Suara sah: 104.099.785

2. Jumlah suara tdk sah: 17.488.581

3. Jumlah Pemilih: 121.588.366

4. Jumlah yang tdk memilih 49.677.075

5. Jumlah pemilih terdaftar 171.265.441

6. Total peserta pemilu Nasional 44 Partai

7. Total Partai pemenang Pemilu Nasional 9 Partai

8. Urutan Partai Pemenang Pemilu (%Kursi DPR)–> Demokrat (20,85%) – -Golkar (19,11%) – PDIP (16,96%) – PKS (10,18%) – PAN (7,68%) – PPP (6,61%) – PKB (4,82%) – Gerindra (4,64%) – Hanura (3,77%)

9. Partai2 Islam yg gagal masuk senayan dan suaranya hilang adl PBB (1,8juta suara) – PKNU (1,5 juta suara) – PBR (1,2 jt suara) – PMB (400rb) – Partai NU (100rb) | Total suaranya 5juta suara.

10. Tahun 2009, Diantara Partai Pemenang Pemilu yg mengaku sbg partai Islam adl PKS (8,2 jt suara) – PPP (5,5 jt suara). Shg total suara kedua partai adl 13,7 juta suara.

11. Kalau dikalkulasi hasil pemilu 2009, Total suara Partai yg mengaku sbg partai Islam mencapai 18,7 juta suara.

12. Tahun 2009, Suara Demokrat 21,7 juta, Golkar 15 juta, PDIP 14,6juta, PAN (6,2 juta), PKB (5,1juta), Gerindra (4,6juta), Hanura (3,9juta).

Dari statistik tersebut, kita bisa lihat bahwa suara Golput yang diperoleh dari total pemilih terdaftar (171.265.441) dikurangi jumlah suara sah (104.099.785) mencapai 67.165.656 atau 39,21%. Pencapaian persentase angka Golput ini sangat besar mengalahkan persentase partai Demokrat yang memenangkan Pemilu 2009.

Seandainya Partai-partai yang mengaku Islam saat itu bersatu, yaitu PPP (5,5 jt suara), PKS (8,2 jt suara), PBR (1,2 jt suara), dan PBB (1,8 jt suara), PKNU (1,5 jt suara), PMB (400rb) dan PNU (100rb) maka suara Partai Islam akan besar. Gabungan partai-partai (Islam) itu mencapai sebanyak 18.958.376 suara atau 18,21% dari total suara sah. Belum bisa mengalahkan Partai Demokrat (21.703.137 suara) memang, tapi kekuatannya cukup besar dan berada dalam posisi rangking 2. Dibandingkan dengan tahun 2004, suara gabungan Partai Islam pada Pemilu 2009 ternyata mengalami penurunan.

Kalau di tahun 1999, total gabungan suara Partai Islam mencapai 14,65%, lalu di Pemilu tahun 2004 mencapai 24.204.879 suara atau 21,33%, dan di Pemilu 2009 mencapai 18.958.376 suara atau 18,21%, kira-kira berapa persen ya perolehan suara Partai Islam di Pemilu 2014? Berapa prediksimu kira-kira, bro/sist?

Ahmed Fikreatif

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan, Jika Fikreatif mati mohon doakan ampunan”

Nostalgia Data & Statistika Pemilu 2004

 

Partai Peserta Pemilu 2004

Partai Peserta Pemilu 2004

Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 akan dilaksanakan sebentar lagi. Pemilu 2014 dilaksanakan dua kali yaitu Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014 dan Pemilu Presiden pada tanggal 9 Juli 2014. Tujuan Pemilu Legislatif adalah memilih para anggota dewan legislatif (DPR, DPRD, DPD), sedangkan Pemilu Presiden akan memilih Presiden dan Wakil Presiden. Hasil Pemilu 2014 nantinya akan menjabat selama 1 periode sepanjang 5 tahun ke depan.

Pemilu 2014 -konon- akan memakai e-voting dengan harapan menerapkan sebuah sistem baru dalam pemilihan umum. Keutamaan dari penggunaan sistem e-voting adalah Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang sudah mulai dipersiapkan sejak tahun 2012 secara nasional.

Berbicara tentang Pemilu 2014, agaknya perlu juga kiranya kita kembali menengok masa-masa Pemilu sebelumnya. Tempo hari, kita sudah sedikit kilas balik ke Pemilu 1999. Sekarang kita coba ingat kembali rekaman memori pada Pemilu 2004.

Baca lebih lanjut

Nostalgia Data & Statistika Pemilu 1999

Partai Politik Peserta Pemilu Tahun 1999

Partai Politik Peserta Pemilu Tahun 1999

Pemilu 1999

Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 akan dilaksanakan sebentar lagi. Pemilu 2014 dilaksanakan dua kali yaitu Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014 dan Pemilu Presiden pada tanggal 9 Juli 2014. Tujuan Pemilu Legislatif adalah memilih para anggota dewan legislatif (DPR, DPRD, DPD), sedangkan Pemilu Presiden akan memilih Presiden dan Wakil Presiden. Hasil Pemilu 2014 nantinya akan menjabat selama 1 periode sepanjang 5 tahun ke depan.

Pemilu 2014 -konon- akan memakai e-voting dengan harapan menerapkan sebuah sistem baru dalam pemilihan umum. Keutamaan dari penggunaan sistem e-voting adalah Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang sudah mulai dipersiapkan sejak tahun 2012 secara nasional.

Berbicara tentang Pemilu 2014 yang sepertinya sudah mulai kehilangan kehingar-bingarannya dibanding 15 tahun silam, agaknya perlu juga kiranya kita kembali menengok masa-masa Pemilu Pertama pasca runtuhnya Orde Baru, yaitu Pemilu 1999. Pemilu 1999 dilaksanakan di masa Presiden B.J. Habibie dan disebut sebagai pemilu paling demokratis setelah Pemilu tahun 1955. Pemilu 1999 merupakan Pemilu perdana setelah rakyat Indonesia merasakan euforia kebebasan dan reformasi setelah 32 tahun dikekang penguasa dalam diam. Pemilu 1999 merupakan pesta demokrasi yang sangat penuh hingar bingar karena pada saat inilah, hampir seluruh kelompok elemen masyarakat mendirikan partai. Tercatat ada 48 Partai Politik peserta Pemilu. . Baca lebih lanjut

Kartini dan Emansipasi Wanita

RA Kartini Bersama Suami

RA Kartini Bersama Suami

Mendadak, beberapa ibu-ibu yang kujumpai di halte bus Transjakarta mengenakan pakaian kebaya lengkap dengan sanggulnya. Para kru perempuan bus Transjakarta, Selasa (21/4/2009), berdandan cantik di luar kebiasaan dengan mengenakan pakaian kebaya dan adat-adat nasional mengantar para penumpang. Ratusan polisi wanita (Polwan) di kantor Satuan Administrasi Satu Atap (Samsat) Jakarta Selatan dan BPKB Polda Metro pun tidak mau ketinggalan mengenakan kebaya. Tak hanya itu saja, di Denpasar Bali, peringatan hari kartini dilakukan dengan cara yang cukup unik, yakni bermain surfing atau selancar mengenakan kebaya. Sebanyak 20 surfer wanita dari komunitas surfer di Pantai Kuta dan 3 diantaranya wisatawan asing ambil bagian dari peringatan kartini ini. Begitulah beberapa cara sebagian orang merayakan dan memperingati Hari Kartini.

Sebagian kalangan mengenal Raden Adjeng Kartini hanya sebatas pahlawan nasional. Sebagian lagi mengenal Kartini sebagai seorang tokoh atau aktivis feminisme masa lampau dikarenakan tulisan-tulisannya yang dianggap menyuarakan semangat perlawanan perempuan terhadap kungkungan adat (Jawa) dan agama (Islam). Baca lebih lanjut

Wanita-Wanita Indonesia yang Lebih Hebat Dari Kartini

 

Dewi Sartika

Dewi Sartika

 

Selama ini kita lebih mengenal sosok Kartini dan pemikirannya yang kerap disalahartikan sebagai dasar pijakan pemikiran dan tokoh kaum feminisme. Padahal, jika melirik dari usaha, langkah, hasil, dan idealisme serta karya-karya yang diusung wanita-wanita di bawah ini, gerak lajunya telah berada jauh di depan Kartini. Hanya saja, nama-nama mereka tidak terlalu kita kenal. Kita lebih mengenal sosok Kartini yang justru menjadi terkenal karena dipromosikan oleh seorang noni Belanda.

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar, seorang sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia, menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan sebagai tokoh yang lebih pantas dibandingkan seorang Kartini, seperti Dewi Sartika di Bandung danRohana Kudusdi Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947), bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama di negeri ini. Rohana lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Baca lebih lanjut

Sahabat-sahabat yang “menyesatkan” Kartini pada Pemikiran Feminisme

Adat pada zaman-zaman Kartini di Jawa, tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya, menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas; sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa.

Dalam situasi demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggap lebih ningrat daripada orang Jawa.

Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah “musuh-musuh dalam selimut” yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya.

Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya : Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: