Bersama Pak Sairun

Saat bertugas sebagai among tamu di pesta walimatul ‘ursy salah seorang sahabat di Gedung Antam, Sabtu (12/08/17) lalu, saya bertemu dengan salah seorang rekan kantor yang telah purnakarya (pensiun). Namanya Sairun. Pak Sairun saya menyebut dan memanggilnya. Tingginya berkisar 160 centimeter. Tak banyak perubahan dari penampilannya terakhir saat masih bekerja, mengenakan baju batik, berkacamata, dan tetap bersahaja.  Baca lebih lanjut

[Biografi Orang Biasa] Sairun

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Tingginya berkisar 160 centimeter. Rambut di kepalanya hampir keseluruhan beruban menandakan dirinya telah berusia tua. Kumis yang memutih menghias diantara sela bibir dan hidungnya. Berperawakan sedang, orang ini menaiki motor xxx yang sudah butut setiap harinya ke kantor tempatnya bekerja.

Sebenarnya, ia sudah memperoleh MBT, masa bebas tugas. Namun karena perusahaan tempatnya bekerja masih membutuhkan tenaganya karena prestasinya selama mengabdi untuk perusahaan, maka ia masih memperoleh kesempatan bekerja dengan status pegawai kontrak pendek.

Lika-liku kehidupan pria ini menarik untuk kita jadikan sebagai sebuah pelajaran. Terlahir pada tahun 1952, orangtuanya memberi nama Sairun. Ia tidak tahu apa arti nama Sairun. Terlahir sebagai anak seorang yang bukan keluarga berkantong tebal, ia tidak bisa menghabiskan masa kecilnya dengan bermain-main.

Kampung halamannya di Tegal tidak terlalu memberikan memori yang menyenangkan untuk dikenang karena sejak bangku Sekolah Dasar, ia sudah harus belajar bekerja. Berjualan koran atau berjualan barang-barang tertentu yang bisa memperoleh uang akan dilakukannya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: