Jika Anda Lebaran Rabu, Sembelihnya Hari Kamis Pliss… Supaya Nyatenya Bisa Bareng

Perbedaan Idul AdhaKemarin saya memperoleh info yang tidak menyenangkan sekaligus membuat geram dari kota Yogyakarta. Saya memperoleh laporan, adanya polemik yang berpotensi menyulut perselisihan dan ketidakharmonisan antar umat Islam gegara adanya perbedaan keyakinan dalam penetapan hari raya Idul Adha di kampung Namburan, Yogyakarta. Yaitu antara Rabu (23 September 2015) dan Kamis (24 September 2015).

Menurut keterangan salah seorang kawan saya, sebut saja Nur (bukan nama sebenarnya_ed), di kampung Namburan, Yogyakarta ada rencana penyembelihan hewan Qurban sebagai bagian dari perayaan Idul Adha 1436 H. Seperti yang sudah mafhum diketahui, untuk qurban seekor sapi biasa disokong oleh 7 orang. Begitu pula yang terjadi di kampung Namburan, Yogyakarta.

Persoalan muncul ketika ketujuh orang yang urunan beli seekor sapi untuk di-qurban-kan itu tidak sepakat berlebaran bersama. Empat orang penyokong meyakini untuk berlebaran pada Rabu (23 September 2015) sementara yang tiga orang lainnya meyakini lebaran jatuh pada Kamis (24 September 2015). Sampai di sini sebenarnya belum ada permasalahan berarti.

Namun persoalan menjadi sulit dicarikan solusi saat keempat orang penyokong sapi bersikeras melakukan penyembelihan pada Rabu (23 September 2015). Mereka ingin mengejar keutamaan penyembelihan pada tanggal 10 Dzulhijjah tepat setelah shalat Ied selesai. Namun yang ngga masuk akal dan maksa, mereka -berdasarkan keterangan mas Nur- mengatakan kalau Kamis acaranya padat. Ada bakti sosial (baksos) dan lain-lain. Tentu keinginan kelompok empat (maksudnya kelompok yang berisi empat orang_pen) itu ditentang oleh kelompok tiga karena jika penyembelihan dilakukan pada Rabu (23 September 2015), bagi kelompok tiga hari Rabu masih tanggal 9 Dzulhijjah 1436 H, belum masuk waktu lebaran (10 Dzulhijjah).

Tentu saja jika penyembelihan tetap dipaksakan dilakukan pada Rabu (23 September 2015), penyembelihan hewan qurban itu menjadi tidak sah bagi kelompok tiga yang meyakini bahwa lebaran Idul Adha baru jatuh pada Kamis (24 September 2015).

Pada dasarnya, kelompok tiga tak mempermasalahkan kelompok empat atau siapa pun orang lain yang berlebaran pada hari Rabu (23 September 2015). Bagi mereka itu adalah masalah keyakinan masing-masing yang didukung dengan argumen dalil yang diyakini masing-masing pula. Namun untuk penyembelihan qurban, kelompok tiga mengharapkan adanya toleransi dari kelompok empat agar prosesi penyembelihan dilakukan pada hari Kamis (25 September 2015) setelah kelompok tiga berlebaran dan selesai menunaikan shalat Idul Adha.

Waktu penyembelihan pada hari Kamis (25 September 2015) bisa menjadi solusi bersama bagi dua kelompok yang berbeda keyakinan hari Idul Adha, untuk berlebaran bersama. Yaitu menyembelih hewan qurban secara bersama-sama walau lebarannya beda. Bagi kelompok Kamis, penyembelihan pada hari Kamis sudah masuk waktu lebaran, sementara bagi kelompok Rabu, hari Kamis juga masih waktu tasyrik yang diperbolehkan menyembelih hewan qurban. Sebuah solusi bersama.

Tetapi sayang, kelompok empat tetap memaksakan kehendak untuk tetap menggelar penyembelihan hari Rabu. Tentu saja kelompok tiga tidak terima. Situasi pun menjadi ‘ramai’. Tidak ada kata sepakat. Kelompok tiga penyokong sapi memutuskan mencabut urunan.

Sampai saya menulis posting ini, situasi yang saya ketahui masih tak ada kata sepakat diantara kedua kelompok. Dengan kata lain, kelompok empat yang berlebaran Rabu tetap memaksakan kehendak untuk menyembelih hewan qurban pada hari Rabu tanpa memperhatikan solusi yang disampaikan oleh kelompok tiga yang berlebaran hari Kamis.

***

Jujur saya miris dan prihatin dengan kejadian yang terjadi di sebuah kampung dekat Kraton Yogyakarta ini. Sebuah kefanatikan dalam memaksakan kehendak dan pendapatnya di tengah-tengah masyarakat Muslim yang majemuk yang sebenarnya ada solusi untuk bersama-sama merayakan hari raya. Saya melihat hawa nafsu lebih kuat bermain daripada ilmu dan semangat ukhuwah (persaudaraan).

Mungkin permasalahan seperti ini akan terjadi di beberapa tempat yang memiliki toleransi kurang atau minim terhadap adanya keragaman pendapat di tengah-tengah umat Muslim. Tentunya diperlukan semangat berjamaah, ukhuwah, dan senantiasa mencari solusi bersama agar umat Islam benar-benar bersatu.

Saya mencoba mencari kontak orang-orang yang terlibat dalam kasus ini tetapi belum mendapatkan kontak mereka. Saya sengaja menulis melalui posting ini dengan harapan mereka bisa membaca tulisan ini dan mau duduk bareng mencari solusi bersama. Kalau tidak sepakat untuk melakukan penyembelihan pada Rabu atau Kamis, saya mengusulkan agar penyembelihan dilakukan pada hari Jumat (26 September 2015) saja. Jadi, baik yang berlebaran hari Rabu maupun Kamis masih bisa menyembelih hewan qurban karena hari Jumat adalah hari tasyrik. Hanya bedanya bagi kelompok Rabu, hari Jumat adalah hari tasyrik kedua, sementara bagi kelompok Kamis, hari Jumat adalah hari tasyrik pertama. Adakah solusi lainnya? 😦

Semoga perbedaan lebaran seperti ini tidak sampai menimbulkan perselisihan-perselisihan di kemudian hari. Semoga perbedaan lebaran tidak menghalangi umat Islam untuk bisa menyembelih hewan qurban bersama. Mari mengedepankan sikap toleran dan ukhuwah. Salam.

Qurban di SD NDM

Kambing-Kambing Qurban di Ujung Penantian Hidup. He3x

Kambing-Kambing Qurban di Ujung Penantian Hidup. He3x

Qurban di SD NDM

Selama lebaran Idul Adha / Idul Qurban atau yang lebih sering disebut dengan lebaran haji kemaren (17 Nov-20 Nov 2010), aku sengaja ambil izin tidak masuk untuk dapat berlebaran bersama keluarga, kendatipun aku belum ‘berkeluarga’. Selama tidak masuk, aku sempatkan mampir ke SD NDM, sekolah dasar yang berjasa memberikan bekal ilmu dasar yang tak sedikit.

Setiap Idul Adha, semenjak aku dulu sekolah di sini, SD NDM selalu mengadakan penyembelihan hewan Qurban. Pada saat aku masih sekolah di situ, istilah yang dipakai bukan Qurban, tapi latihan Qurban. Disebut latihan qurban karena pengertian Qurban yang dipahami secara syara’ adalah menyembelih binatang Qurban yang dilakukan oleh seorang muslim. Sementara di SD NDM, penyembelihan dilakukan dengan pengumpulan iuran dari tiap siswa untuk dibelikan kambing untuk selanjutnya disembelih. Karena dilakukan oleh rombongan satu sekolahan, maka disebutlah dengan istilah latihan Qurban. Tujuannya tentu saja memahamkan anak murid SD NDM agar menyadari syariat ber-Qurban ini sejak dini.

Setelah lebih dari sepuluh tahun aku meninggalkan bangku sekolah dasar ini, tak kusangka ada peningkatan yang cukup besar dalam jumlah hewan Qurban yang disembelih. Terakhir kali aku sekolah di SD ini, seingatku hanya 4 (empat) hewan kurban saja yang disembelih. Namun tahun ini, hewan yang disembelih di SD NDM sedikitnya 10 ekor kambing dan 1 ekor sapi. Allahu Akbar. Dari sisi kuantitas mengalami peningkatan. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: