Transkrip Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang Singgung Azan dan Cadar

Pada 2 April 2018, Sukmawati membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia di dalam acara ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018. Di dalam puisi berjudul Ibu Indonesia itu mengandung unsur SARA dimana ia menyebut suara kidung lebih merdu dari alunan adzan dan disebut melecehkan agama Islam. Baca lebih lanjut

Iklan

Ngobrol Tentang Dahsyatnya Cinta…!!!

Sebuah pesan singkat aku terima di malam yang penuh penat saat aku mendapati tubuhku sudah sangat capek sekali. Kurang lebih isi SMS tersebut berbunyi:

Aku berpuisi untuk sebuah rasa kalah
diantara cinta yang telah lama terpendam
dan persabatan yang sudah diam,
aku berpuisi untuk sebuah rasa kalah
bukan untuk mengukir kisah dalam sejarah
tapi untuk sebuah rasa kalah.

Demikian kurang lebih isi sms tersebut. Sesaat aku tertegun. Apa maksudnya nih? Selidik punya selidik, ternyata sms itu berisi perasaan sakit hati seorang muslimah (baca: akhwat) atas saudaranya yang juga seorang akhwat. Akhwat ini merasa cemburu kepada saudaranya tersebut karena dianggap dekat dengan seorang ikhwan yang telah lama dia idamkan menjadi pendamping hidupnya. Tak kuasa menahan perih sakit hati atas perilaku sahabatnya tersebut, dikirimlah sebuah pesan getir perasaan hati sang ukhti.

Baca lebih lanjut

Wahai Ahmed Fikreatif !!!!

Wahai Ahmed Fikreatif

Sebuah puisi dari hati yang tak bertepi. Disaat aku teringat ‘bidadari’. Saat nyawa tinggal setengah tersisa dalam diri. Kelopak mata mengantuk sementara jari-jemariku harus terus menari. Menuliskan rangkaian kata menjadi kalimat yang terbaca oleh mata dan memiliki suatu arti. Entah apa namanya, prosa, sajak, artikel, atau puisi. Sekedar mengisi malam ini yang cukup sunyi dan menghibur hati. Antara terjaga dan lelap mimpi, silakan membaca celotehan di bawah ini:

Baca lebih lanjut

Romantisme Dalam Surat Cinta Generasi ‘Blogger’ Tempo Dulu

Beberapa waktu lalu, aku bikin postingan berjudul Surat Cinta Dua Insan Terlanda Asmara Terpisah Lautan. Bukan bermaksud apa-apa dengan postingan itu, selain lebih karena alasan aku ingin memberikan sebuah penghargaan kepada orang-orang zaman dahulu yang minimal pernah berkarya membuat tulisan berupa sebuah surat atau surat cinta. Salah satunya adalah sosok mas Sutrisno dan mbak Titin. Keduanya adalah pasangan kekasih yang pada saat itu  menjalin hubungan cinta jarak jauh / long distance relationship (LDR). Ternyata eh ternyata, surat cinta mas Sutrisno itu memperoleh jawaban dari Titin yang ditulis oleh dua blogger yang berbeda. Jawaban pertama oleh Cempaka dalam Balasan Surat Cinta; sementara Puri The Pink Octopus pun juga tak kalah membalas surat cinta mas Sutrisno dalam judul Balasan surat cinta? mari muntah bersama! [terima kasih for both of u 😀 ]

Sebetulnya, awal aku tertarik menulis surat cinta itu karena aku memperoleh cerita dari seorang rekan kerja sekantorku yang menjelang pensiun, sebutlah namanya pak Fulan. Beliau bercerita tentang masa tempo dulu saat masih pacaran atau belum menikah, beliau dan kekasihnya menggunakan media surat untuk berkomunikasi karena pada saat itu belum dikenal alat komunikasi macam handphone seperti saat ini. Telepon rumah pun hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Pak Fulan bercerita bahwa surat-surat jawaban dari kekasihnya (saat ini telah menjadi istrinya) tersebut masih ia simpan dan masukkan ke dalam sebuah Folder file yang jumlahnya menumpuk cukup banyak. Begitupula dengan istri pak Fulan, istrinya pun menyimpan surat-surat yang dikirimkan oleh pak Fulan. Jumlahnya pun sebanyak yang disimpan oleh pak Fulan. Di dalam ‘dokumen’ surat-surat yang disimpan itu juga tersimpan surat-surat mereka setelah menikah yang terkadang masih dilakukan karena keduanya sempat berpisah kota dan jarak. Surat, menjadi media komunikasi utama jika keduanya tidak bisa bertatap muka. Biasanya, surat itu dikirim tidak melalui kantor pos atau jasa ekspedisi sejenis lainnya, namun dikirim melalui jasa ‘kurir’ seorang teman yang dipercaya atau bocah-bocah sekolah yang memperoleh imbalan permen atau barang lainnya. Baca lebih lanjut

Untaian Harapan Untuk Semua Teman


tanggalkan pakaian kebencian
tinggalkan segala ego perasaan
lupakan segala kesedihan
hilangkan segala kegelisahan
tebarkan benih-benih persahabatan
siramlah dengan air persaudaraan
berjuanglah melawan ke-AKU-an
kan kita petik bunga-bunga kebahagiaan, ketenangan, dan ………………

(Dari kawan yang penuh kekurangan)

sajak simpel dan sederhana itu aku susun ditemani oleh kawanku, Muhammad, ketika aku melihat terjadinya perpecahan di dalam TIM MOOTCOURT ku saat itu. Sekitar lima belas teman satu tim kami kirimi SMS berisi pesan sajak tersebut.

Semoga bisa diambil manfaatnya..!!!

NB: from My friend

Andai Q tak pya uaNG mshkah kau panggiL aq sayANG?

Andai wajahQ tak rupawan mshkah kau mau ngajak Q jalan?

Andai aq bodoh tak b’wawasan masihkah kita sms2an?

Andai tiada ‘kelebihan’ Q masikah kau rajin ngapelin aQ?

Andai Q tak pya’cantik’masihkah kau beri aku yg t’baik?Andai tubuhku tak lg’indah’masihkah sifatmu tak b’ubah?

(ahmed fikreatif)

%d blogger menyukai ini: