Review Kereta K3 New Concept

review-k3-new-concept-001Kereta K3 New Concept prooduk PT INKA 2016 ini diklaim memiliki banyak keunggulan dan kecanggihan yg memberikan kenyamanan lebih dari sekedar kelas ekonomi, diantaranya:
– Konsep interior system pesawat membuat gerbong lebih elegant.
– 2 layar LCD memberikan kesan K3 menjadi rasa eksekutif.
– kursi lebih nyaman, empuk.
– privasi lebih terjaga dengan arah kursi searah.

Ternyata kenyamanannya jauh dari yg diklaim. Silakan lihat sendiri bagaimana jarak antar kursi yang sangat sempit. Posisi lutut penumpang yg duduk terbentur dg kursi di depannya krn jaraknya yg sangat pendek.

Melihat kondisi ini, rangkaian kereta dg gerbong seperti ini sepertinya tidak direkomendasikan utk perjalanan jauh Anda yg membutuhkan waktu lebih dari 8 jam. Apalagi jika Anda bepergian bsm keluarga dg anak balita. Dipastikan akan kerepotan dan tdk nyaman.

Perlu evaluasi dari KAI121 utk merombak ulang desain kursi kereta ini. Sekian salam.

*Catatan:
– Foto diambil dr group WA PJKA dr laporan rekan2
– Foto tidur hny sebagai penggambaran sempitnya jarak ruang antar kursi
– Sejauh yang kami ketahui, model kereta ini saat ini dipakai di rangkaian:
1 KLB SGU-PSE
2 KLB PSE-SGU
3 KLB LPN-PSE
4 KLB PSE-LPN
Dan info lainnya, nantinya akan dipakai utk pengganti rangkaian Fajar/Senja Yogya, dan Mutiara Selatan.

CMIIW

 

Efek Banjir, Rilis Twitter KAI Bikin Bingung & Justru Menyesatkan

Rilis resmi KAI di Twitter yang menyesatkan

Rilis resmi KAI di Twitter yang menyesatkan

Seorang penumpang nampak pasang muka bersungut-sungut keluar dari Stasiun Gondangdia, Jakarta, Selasa (10/02). Wajahnya jelas menampakkan kekecewaan dan kekesalan. Cara berjalannya juga sangat jelas mengekpresikan rasa capek. Wajar, ia ngga jadi pulang ke rumahnya di Cikampek menemui istrinya. Semua karena kebijakan PT. KAI terkait banjir di Jakarta yang dirilis melalui Twitter (lihat gambar) ternyata justru menyesatkan para penumpang. Baca lebih lanjut

PT. KAI Langgar Regulasi Pemerintah Tentang Tarif Kereta Ekonomi?

Gambar 1 - Tiket progo 2014

Gambar 1 – Tiket progo 2014

Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2015, PT. KAI menetapkan kenaikan tariff penumpang kereta ekonomi AC yang sangat tinggi. Kenaikannya hampir mencapai 300% (3x lipat). Contoh mudah bisa saya ambil pada kereta ekonomi Progo (Pasar Senen – Lempuyangan PP). Pada tahun 2014, harga tiket Progo sebesar Rp 50.000,- (lihat gambar 1 – atas) bahkan pada tahun 2013, harga tiket Progo hanya sebesar Rp 35.000,-(lihat gambar 2). Namun setelah tahun 2015, harga tiket kereta Progo langsung melesat menjadi Rp 140.000,- (lihat gambar 3). Pertanyaan saya, apa dasarnya? Apa dasar ketentuan kenaikan tarif setinggi itu?

Baca lebih lanjut

Perlengkapan Minimal Pejuang PJKA

image

PJKA di sini bukan kependekan dari Perusahaan Jawatan Kereta Api yang merupakan cikal bakal keberadaan PT. KAI sekarang ini. PJKA yang saya maksud di sini adalah Pulang Jumat Kembali Ahad. PJKA merupakan akronim sebutan bagi para pelaju pekanan yang secara rutin pulang ke kampung asal setiap akhir pekan. Baca lebih lanjut

Demo Tolak Kenaikan Tiket KA Ekonomi

wpid-img_20141011_120607.jpg

Sekitar seratus orang dari komunitas Pulang Jumat Kembali Ahad (PJKA), Jumat (10/10) lalu menggelar aksi demo di pelataran Stasiun Senen, Jakarta Pusat. Sebagai pengguna rutin kereta api tiap akhir pekan, saya merasa perlu dan harus berpartisipasi bersama mereka. Intinya, kami menuntut PT KAI untuk tidak menaikkan harga tiket kereta ekonomi jarak jauh.

Aksi digelar di halaman parkir Stasiun Senen. Aksi dilakukan dengan duduk bersila sambil membawa poster-poster berisi penolakan kenaikan harga tiket kereta api. Baca lebih lanjut

Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran

Suasana Antrian Pemesanan Tiket Lebaran 2011 di Gambir

Suasana Antrian Pemesanan Tiket Lebaran 2011 di Gambir

Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran

Subuh hari, tanggal 27 Juli 2011, aku berangkat berjalan kaki menuju Stasiun Gambir setelah menunaikan Sholat Subuh dari kos. Jarak kos dengan Stasiun Gambir sekitar 1 KM atau 10 menit jalan kaki. Sengaja aku berangkat pagi-pagi ke Stasiun Gambir karena niat ngantri tiket kereta api untuk keperluan mudik lebaran.

Awalnya, aku sebenarnya merasa aras-arasen menuju Gambir untuk ngantri tiket kereta api. Pertama, aku memperkirakan Stasiun Gambir sudah dipenuhi oleh ratusan calon penumpang yang sudah mengantri lebih dahulu dari saya, bahkan tak sedikit diantara mereka yang rela menginap di stasiun. Kedua, aku memperkirakan akan berada di antrian belakang jauh dan sangat berpotensi tidak memperoleh tiket mudik. Karena dua alasan itulah aku sangat pesimis bakal berhasil mendapatkan tiket lebaran yang hendak kubeli. Baca lebih lanjut

Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan

Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan

Tanggal 2 Februari lalu, aku dan beberapa kawan pulang ‘mudik’ ke Solo. Dari Stasiun Senen – Jakarta, kami menumpang kereta Sawunggalih kelas bisnis jurusan Kutoarjo. Pukul 07.10 WIB, kereta mulai meninggalkan Senen. Singkat cerita, kami masih tertidur saat kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Kroya. Tidur kami terputus setelah ada pedagang asongan yang sedikit berteriak mengabarkan kedatangan Kereta Lodaya dari Bandung jurusan Solo yang akan berhenti di stasiun Kroya. Seketika juga aku dan kawanku terbangun dan segera mengemasi barang bawaan untuk turun dari kereta Sawunggalih dan berpindah ke kereta Lodaya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: