Merekam S[e]isi Dunia Dalam Kamera

Memotret Kehidupan Dengan Kamera

Memotret Kehidupan Dengan Kamera

Memotret S[e]isi Dunia dalam Kamera

Beberapa bulan lalu, aku diajakin salah seorang sobatku yang berprofesi sebagai seorang fotografer untuk menghadiri sebuah pameran fotografi di sebuah kampus swasta di kawasan Meruya, Jakarta Barat. Kebetulan penanggungjawab pamerannya adalah teman sobatku itu yang merupakan dosen di kampus tersebut.

Singkatnya, mereka berdua terlibat pembicaraan hangat tentang Fotografi dengan ditemani sebungkus rokok. Awalnya mereka membahas tentang pameran fotografi di kampus itu. Pameran fotografinya sendiri adalah pameran yang berisi karya-karya para mahasiswa Seni (aku lupa apakah mahasiswa seni rupa murni atau desain komunikasi visual) kampus swasta itu. Para mahasiswa berusaha membuat karya berbasis foto yang selanjutnya diedit sedemikian rupa meniru iklan reklame sebuah contoh iklan. Mudahnya, para mahasiswa itu diminta menciptakan karya dengan menjiplak sebuah karya iklan reklame. Bila ada model, maka mereka harus memotret sang model, bila ada gambar wujud produknya, mereka harus memotret produknya.

Meskipun karyanya adalah karya ‘jiplakan’, sang dosennya itu mengharapkan kepada para mahasiswanya agar suatu saat nanti mereka bisa menciptakan karya orisinil mereka sendiri. Karya jiplakan itu hanya untuk memotivasi para mahasiswa bahwa ternyata mereka sebenarnya bisa menciptakan sebuah karya seperti karya-karya mereka yang menghiasi reklame jalanan ibukota. Lebih dari itu, sang dosen ingin memberikan sebuah wacana ektrem bahwa fotografi tidaklah sekedar memotret dengan kamera. Baca lebih lanjut

Sun Rise

Sun Rise

Sehabis sholat subuh, aku jalan-jalan ke sekeliling rumah. Sudah terlampau lama aku tidak berjalan-jalan di sekitar rumah dikarenakan kesibukan. Sewaktu kuliah terlalu disibukkan dengan aktivitas kuliah dan kemahasiswaan. Sementara setelah lulus disibukkan dengan kegiatan mengurus usaha bisnis kecil-kecilan. Dan saat ini disamping sibuk juga karena aku sudah boleh dibilang tidak tinggal di rumah ini.

Tak kusangka puluhan rumah sudah berdiri di atas petak-petak sawah yang 10 tahun silam masih ditanami padi. Namun masih tersisa beberapa petak sawah yang dipertahankan pemiliknya. Sengaja aku mencari posisi yang cukup ideal untuk memotret matahari terbit.

Setelah beberapa saat menunggu, aku berhasil memotret pemandangan yang cukup indah itu dengan kamera Casio Exilim Ex-Z75 sederhana. Inilah sebagian hasilnya: Baca lebih lanjut

Potret Musisi Jalan Bandung

Waktu ke Bandung hari Sabtu-Ahad, 30-31 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati untuk selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Musisi Jalanan Bandung

Musisi Jalanan Bandung

Foto ini kuambil dari dalam angkot saat berhenti di perempatan Tugu Sepatu memasuki Cibaduyut. Kedua pengamen (lebih enak dengan bahasa pengamen atau pemusik jalan ya?) itu menyanyikan sebuah lagu yang aku tidak paham isinya karena menggunakan bahasa Sunda, sepertinya. Hanya saja, saat mendengar nyanyian keduanya, sang sopir angkot hanya senyum-senyum dan sedikit mengeluarkan tawa.

Ada apa bang? Kok ketawa ndiri? Ada yang lucu dengan lagu-nya ya? Saya ga paham sih bang.”kataku kepada sopir angkot.

Iya, bisa aja dia bikin kata-kata seperti itu. Itu tadi pakai bahasa Sunda,” jawabnya kepadaku masih dengan senyum yang melebar. Namun, aku masih belum tahu apa maksud dan arti lagu yang dinyanyikan dua pengamen itu.

Bandung memang gudang “pengamen” (baca: seniman musik). Mulai dari penyanyi solo wanita, grup band, sampai ke vokal group semua ada. Bersaing dengan Surabaya, Bandung menjadi kiblat pencetak kelompok-kelompok band ternama Indonesia. Tak ingin kalah dengan penyanyi yang telah mapan, seniman jalan di Bandung pun berusaha menunjukkan eksistensinya dengan kreativitas mereka. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: