Totalitas Perjuangan & Hasan Al Bana

Karena lagi agak malas ngerjain tugas-tugas kantor, iseng-iseng aku nyari-nyari searching-searching a.k.a goggling sana sini, sampai ahirnya aku teringat akan lagu-lagu perjuangan mahasiswa yang pernah tak simpan di PC waktu masih menjadi Mahasiswa.

Masukin kata kunci satu per satu di situs mbah google sampai akhirnya ketemu beberapa lagu yang ku cari itu. Salah satunya adalah lagu yang berjudul “Totalitas Perjuangan”. Kalau kawan-kawan pernah jadi mahasiswa dan bahkan sempat aktif di kegiatan-kegiatan BEM atau aktivitas-aktivitas gerakan mahasiswa aku yakin dah tahu sama nih lagu. Bahkan mungkin sampai ke sejarah “berdarahnya” (lebai ya? Mungkin nggak juga sih karena emang sejarahnya panjang dan berdarah-darah).

Syairnya kurang lebih seperti ini: Baca lebih lanjut

Iklan

Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga, Dipukuli, Kemudian Dibunuh

Gambar Yang Memperlihatkan Tentara Israel Sedang Menyerbu Kapal

Gambar Yang Memperlihatkan Tentara Israel Sedang Menyerbu Kapal

Ada sebuah peribahasa atau ungkapan “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula” yang memberikan suatu arti adanya musibah yang terjadi dua kali atau beberapa kali secara berturut-turut yang menimpa seseorang. Alangkah malang nasib orang tersebut, orang yang mengalami jatuh dan lalu tertimpa tangga pula. Namun sekalipun demikian, hal itu masih lebih baik dari sebuah kejadian yang terjadi beberapa jam lampau di belahan dunia lain.

Mereka tidak hanya jatuh dan tertimpa tangga, namun mereka sudah jatuh ditimpa tangga, dipukuli, dan bahkan dibunuh. Sementara orang-orang yang hendak menolongnya dilarang mendekat apalagi hendak melakukan pertolongan. Aku merasa sudah tidak ada lagi ungkapan peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi rakyat Palestina, warga Gaza khususnya.

Beberapa jam lalu (31 Mei 2010), aku sempat membaca di sebuah media online Islam, mengenai kejadian penyerbuan oleh serdadu Israel atas sebuah konvoi kapal pembawa misi kemanusiaan yang hendak mengirimkan bantuan kepada rakyat Gaza. Berdasarkan beberapa sumber, kabar terakhir menyebutkan 20 relawan yang berada di dalam konvoi kapal perdamaian itu tewas. Baca lebih lanjut

Memaknai Ungkapan “Kegagalan Adalah Sukses Yang Tertunda”

Cerah indah Mentari pagi

Riang nyaring burung bernyanyi

Keras berjuanglah tanpa henti

Kelak kau raih kemenangan sejati

(tentang pemaknaan arti kerja keras itu harus sustainable)

*******************************

Ketika aku menulis tulisan ini, aku masih menjadi seorang mahasiswa yang duduk di semester 8. Aku masih sangat kecil. Aku bukanlah anak seorang kaya yang tinggal menggunakan jentikan jari tangan memerintah siapa saja untuk melakukan apa saja yang kita inginkan dengan imbalan uang dan harta. Kesuksesan adalah sesuatu yang masih jauh dalam angan-angan hatiku.

Aku hanya berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan meraih kesuksesan sebagaimana yang aku inginkan, sukses dunia dan sukses akhirat. Terkesan klise memang. Tapi, saya berpikir, masih adakah cita-cita yang lebih tinggi dari cita-cita saya tersebut? Orang tua dulu sering mengatakan gapailah cita-cita mu setinggi langit di angkasa. Baca lebih lanjut

Tak Mudah, Membangun Tim Yang Satu dan Padu

Beberapa hari yang lalu (14 Juli 2009), dua orang kawanku, sebut saja Nida dan Lani, bercerita (jw: ngudoroso) kepadaku mengenai kerugian proyek event yang mereka garap bersama tim yang mereka namakan dengan “Semut Merah”.

Cerita itu berawal dari pertemuan beberapa orang yang memiliki minat dalam dunia Event Organizing. Diantara beberapa orang tersebut terdapat pula tiga kawan sobatku. Akhirnya, berlima mereka sepakat untuk membentuk sebuah tim untuk mengelola event yang lebih keren dikenal dengan Event Organizer (EO). Mereka menyebutnya dengan “Semut Merah” (katakanlah demikian).

Satu hari berdiri, “semut merah” telah berhasil memperoleh proyek even yang akan menjadi sasaran pundit emas bagi mereka. Kupikir saat itu mereka sangat hebat karena baru sehari berdiri, mereka sudah memperoleh job. Kendatipun dari beberapa informasi even tersebut ada sedikit bantuan dari orang tua pimpinan produksi “Semut Merah” yang memiliki pengaruh di sebuah Universitas swasta terkenal di kota Solo, namun secara umum aku tetep terheran dan tertegun dengan kemajuan mereka.

Berjalan kurang lebih dua tiga bulan, tim Semut Merah tidak menunjukkan adanya sesuatu masalah. Setelah menginjak pada bulan keempat inilah, mereka mulai menghadapi adanya badai hebat yang berpotensi menghempaskan perahu Semut Merah. Badai besar itu adalah ketidaksatuan tim dalam melangkah. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: