Tren Penambahan Nama Suami di Belakang Nama Istri

Tren Penambahan Nama Suami di Belakang Nama Istri

Sudah sering kita mendengar media menyebut nama istri-istri Presiden dengan menyertakan nama suaminya di belakang namanya. Sebagai misal, kita sering mendengar penyebutan nama Ibu Tien Soeharto, Ibu Ainun Habibie, Ibu Ani Yudhoyono, Michele Obama dan seterusnya. Namun anehnya, Megawati tidak pernah disebut oleh media atau menyebut dirinya dengan nama Megawati Kiemas. Namun Mega lebih dikenal dengan Megawati Soekarnoputri. Dan nama terakhir lebih indah didengar dan lebih benar.

Beberapa waktu lalu, di Facebook, aku juga melihat beberapa kawanku perempuan melakukan hal yang sama seperti kebiasaan orang di atas. Diantara kawanku yang baru saja menikah dan yang sudah lama menikah banyak yang ‘mengubah’ namanya dengan menambahkan nama suami di belakang nama aslinya. Jika nama suaminya adalah Ali sementara si istri bernama Fatimah, maka nama Fatimah diubah menjadi Fatimah Ali.

Ternyata tren penggunaan nama suami di belakang nama istri makin lama makin populer dan banyak ditiru oleh masyarakat luas di Indonesia. Ada perasaan jengah dan gelisah sebenarnya aku melihat fenomena itu. Terlebih lagi, saat aku melihat banyak akhwat-akhwat yang melakukan hal serupa. Entah mengikuti tren atau entah bagaimana, para akhwat-akhwat berjilbab besar itu juga menempatkan nama suami di belakang nama mereka dengan bangga. Aku pun makin tidak nyaman. Baca lebih lanjut

Segera, Dicari Cewek BPKB !!!

Subhanallah...........

Subhanallah...........

Segera, Dicari Cewek BPKB !!!

Apa itu cewek BPKB? Buku Pemilik Kendaraan Bermotor? Bukan itu yang kumaksud. Cewek BPKB yang kumaksudkan disini yaitu cewek yang Baik, Pinter, Kaya, dan yang paling penting Berakhlak (Mulia). Hehehehe. Nah, jika kamu tergolong sebagai cewek BPKB maka segeralah mendaftarkan ke saya dengan cara ketik REG <spasi> BPKB lalu kirim ke email ahmedfikreatif@yahoo.com (:D bercanda…).

Sebagai seorang laki-laki (normal), siapa sih yang menolak jika ditawari cewek BPKB? Bahkan justru itulah yang barangkali dicari banyak laki-laki yang hendak mencari seorang istri. Apalagi jika cewek BPKB itu dilengkapi dengan satu karakter Cantik lagi. Wow. It’s almost perfect. Jika ada laki-laki yang mencari cewek BPKB, kurasa itu sangat manusiawi. Baca lebih lanjut

Kartini dan Emansipasi Wanita

RA Kartini Bersama Suami

RA Kartini Bersama Suami

Mendadak, beberapa ibu-ibu yang kujumpai di halte bus Transjakarta mengenakan pakaian kebaya lengkap dengan sanggulnya. Para kru perempuan bus Transjakarta, Selasa (21/4/2009), berdandan cantik di luar kebiasaan dengan mengenakan pakaian kebaya dan adat-adat nasional mengantar para penumpang. Ratusan polisi wanita (Polwan) di kantor Satuan Administrasi Satu Atap (Samsat) Jakarta Selatan dan BPKB Polda Metro pun tidak mau ketinggalan mengenakan kebaya. Tak hanya itu saja, di Denpasar Bali, peringatan hari kartini dilakukan dengan cara yang cukup unik, yakni bermain surfing atau selancar mengenakan kebaya. Sebanyak 20 surfer wanita dari komunitas surfer di Pantai Kuta dan 3 diantaranya wisatawan asing ambil bagian dari peringatan kartini ini. Begitulah beberapa cara sebagian orang merayakan dan memperingati Hari Kartini.

Sebagian kalangan mengenal Raden Adjeng Kartini hanya sebatas pahlawan nasional. Sebagian lagi mengenal Kartini sebagai seorang tokoh atau aktivis feminisme masa lampau dikarenakan tulisan-tulisannya yang dianggap menyuarakan semangat perlawanan perempuan terhadap kungkungan adat (Jawa) dan agama (Islam). Baca lebih lanjut

Wanita-Wanita Indonesia yang Lebih Hebat Dari Kartini

 

Dewi Sartika

Dewi Sartika

 

Selama ini kita lebih mengenal sosok Kartini dan pemikirannya yang kerap disalahartikan sebagai dasar pijakan pemikiran dan tokoh kaum feminisme. Padahal, jika melirik dari usaha, langkah, hasil, dan idealisme serta karya-karya yang diusung wanita-wanita di bawah ini, gerak lajunya telah berada jauh di depan Kartini. Hanya saja, nama-nama mereka tidak terlalu kita kenal. Kita lebih mengenal sosok Kartini yang justru menjadi terkenal karena dipromosikan oleh seorang noni Belanda.

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar, seorang sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia, menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan sebagai tokoh yang lebih pantas dibandingkan seorang Kartini, seperti Dewi Sartika di Bandung danRohana Kudusdi Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947), bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama di negeri ini. Rohana lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Baca lebih lanjut

Sahabat-sahabat yang “menyesatkan” Kartini pada Pemikiran Feminisme

Adat pada zaman-zaman Kartini di Jawa, tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya, menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas; sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa.

Dalam situasi demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggap lebih ningrat daripada orang Jawa.

Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah “musuh-musuh dalam selimut” yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya.

Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya : Baca lebih lanjut

Gaya Wanita Membonceng Motor

Waktu ke Bandung hari Sabtu, 30 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati untuk selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Pegang Erat-Erat Biar Ga IlangHmm…. gambar / foto disamping kuambil saat aku sedang berada di dalam Angkot menuju Kalapa dari Bandung Electronic Center (BEC). Aku lupa tepatnya di kawasan jalan apa. Iseng saja saat dari arah belakang aku melihat ada sepasang sejoli sedang asyiknya berboncengan “cadas” kucoba membidikkan kamera pocket murahku. Cepret, berhasil. Dan gambar di samping adalah hasilnya.

Beberapa diantara anda mungkin pernah membonceng seperti itu (hayoo ngaku.. :D). Meski mengenakan rok, namun hasrat untuk berposisi duduk dengan gaya cowok di atas motor bukanlah sebuah halangan.

Bagi para cewek, gimana rasanya berposisi duduk di atas motor dengan posisi seperti itu sih? Apa tidak merasa ribet? Kalau dari sisi safety riding, mungkin gaya membonceng seperti pada foto tersebut mungkin lebih aman dan safe. Konon, gaya membonceng khas perempuan Indonesia yang duduk menyamping sebenarya tidak recommended karena lebih berpotensi bahaya untuk terjadinya kecelakaaan. Mungkin, faktor ketidakseimbangan mempengaruhi faktor tersebut. Titik bobot motor sudah pasti berat sebelah. Secara otomatis, hal ini berpengaruh pada usaha pengemudi untuk menyeimbangkan kemudi harus lebih ekstra. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: