Carilah Pekerjaan yang Meningkatkan Iman

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada malam takbiran Idul Fitri tahun ini (1438 H), orangtua menggelar halal bi halal sederhana di rumah. Seluruh anak-anaknya datang. Saya datang bersama istri dan anak saya yang baru umur 2 tahun. Sedangkan adik saya satu-satunya yang tinggal serumah dengan orangtua secara otomatis juga hadir.

Dalam salah satu poin pembukaan bapak, beliau menyampaikan rasa senang karena adik saya lebih memilih comeback pulang ke Solo. Semula, adik saya ambil kerja di Bandung. Setelah kurang lebih 1 tahun bekerja di Bandung dengan gaji yang cukup, ia memutuskan kembali ke Solo dengan menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih sedikit. Baca lebih lanjut

Pikun, Apa dan Bagaimana Menghindarinya?

(Selama sepekan liburan lebaran kemarin (1438H), saya banyak memperoleh pelajaran dari hasil silaturahmi ke sana ke mari. Ini adalah pelajaran seri #2 yang saya peroleh pada hari ke-1 Lebaran Idul Fitri, berlindung dari kepikunan)

Simbah putri saya memiliki banyak saudara baik saudara kandung, seibu, maupun seayah/sebapak. Dalam sebuah kesempatan, simbah putri menceritakan perihal kepikunan salah seorang kakaknya yang seibu. Sebut saja mbahde.

Di usianya yang telah lanjut, mbahde mengalami kepikunan hampir secara total. Ia nyaris tak mengingat apapun yang sebelumnya pernah diingatnya kecuali memori yang sangat sedikit. Diantara kepikunannya, mbahde sudah tak ingat shalat, tak ingat puasa, tak memiliki rasa malu, dan tak memiliki memori tentang keluarga apalagi saudaranya dan kerabat-kerabatnya yang lebih jauh. Tak jarang, sejumlah perilaku mbahde kerap membuat malu keluarga khususnya anak-anaknya, seperti buang air sembarangan, menggoda wanita, dan hal-hal memalukan lainnya jika dilakukan oleh seorang yang normal.

Baca lebih lanjut

Menggelar Halal Bi Halal Keluarga di Surga

Menggelar Halal Bi Halal Keluarga di Surga

Berkumpul pada malam takbiran sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami jika bulan Ramadhan telah berakhir dan lebaran Idul Fitri telah datang. Orang-orang sekarang menyebutnya dengan halal bi halal. Pada momen ini, sesama anggota keluarga saling bermaaf-maafan dan menyampaikan opini masing-masing. Selain itu, pertemuan itu juga menjadi momen muhasabah dan doa agar seluruh ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan diterima Allah ta’ala. Kebiasaan itu seingat saya sudah berlangsung sejak saya SMP. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: