Carilah Pekerjaan yang Meningkatkan Iman

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada malam takbiran Idul Fitri tahun ini (1438 H), orangtua menggelar halal bi halal sederhana di rumah. Seluruh anak-anaknya datang. Saya datang bersama istri dan anak saya yang baru umur 2 tahun. Sedangkan adik saya satu-satunya yang tinggal serumah dengan orangtua secara otomatis juga hadir.

Dalam salah satu poin pembukaan bapak, beliau menyampaikan rasa senang karena adik saya lebih memilih comeback pulang ke Solo. Semula, adik saya ambil kerja di Bandung. Setelah kurang lebih 1 tahun bekerja di Bandung dengan gaji yang cukup, ia memutuskan kembali ke Solo dengan menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih sedikit. Baca lebih lanjut

Iklan

Orang Bilang Aku Workaholic….

Masih di kantor mas?” tanya Lylo.

Masih di kantor kk?” tanya Puri.

Kowe ki sih d kantor?” tanya Icha.

Jek nang kantor le?” tanya Gama.

Masih di kantor jam segini?” tanya beberapa orang lainnya lewat sms, YM, atau FB..


Workaholic (Sumber Gambar: www.careerwatch.wordpress.com)

Workaholic (Sumber Gambar: http://www.careerwatch.wordpress.com)

Setiap hari ada saja orang yang bertanya seperti itu kepadaku, baik secara langsung atau tidak langsung. Mereka menanyakan apakah aku masih di kantor. Biasanya pertanyaan-pertanyaan itu muncul di layar PC atau HP ku setelah maghrib dan kebanyakan setelah isya’.

Menjawab pertanyaan itu, akupun hanya menjawab dengan senyum 😀 atau sekedar menuliskan kata “iya..”. Selanjutnya banyaklah sindiran-sindiran atau respon dari kawan-kawan jika mengetahui aku masih di kantor pada jam-jam di atas waktu isya’. Gama menyebutku “Pemburu Dollar”. Sementara ada juga yang merespon dengan kalimat “lembuuuuuur teruuuuuus…”, “kerja teruus..”, “kenceng deh”, “mas, kasurnya pindah kos aja…”, “nunggu kuntilanak dulu baru pulang mas…?”, “mau nginep mas..”, “super worker”, “pegawai sejati”, “buruh patuh”, dan aneka sebutan lainnya yang tidak kuingat keseluruhannya. Intinya, kawan-kawan mengisyaratkan bahwa aku tergolong workaholic. Busyet apa iya gitu?

Workaholic dalam sebuah artikel diungkapkan memiliki arti penyebutan konotatif terhadap orang-orang yang mengabdikan untuk pekerjaannya atau suatu profesi yang digelutinya. Makna konotasinya muncul ketika pengabdian seseorang tersebut lebih besar terhadap profesi dan pekerjaannya daripada keluarga atau hubungan sosial lainnya. Lebih jauhnya, ia cenderung mengabaikan sisi perhatiannya terhadap keluarga atau sebuah hubungan sosial kemasyarakatan dan semisalnya. Terakhir sebagai kesimpulan, artikel tersebut menyebutkan salah satu ciri dan karakter teknis seorang Workaholic adalah kondisi jika seseorang membawa ponselnya ke tempat tidur, bekerja selama akhir pekan secara teratur dan gagal untuk menemukan waktu untuk bersantai setiap saat. Menurut artikel itu, inilah seorang yang disebut Workaholic. Ia terobsesi dengan pekerjaan sepanjang waktu dan memberikan prioritas untuk bekerja lebih dari keluarga dan anak-anak. Baca lebih lanjut

[Tepar] I Have No Idea Today

Tepar

Tepar

Hari ini aku benar-benar ga punya banyak waktu untuk menuliskan artikel atau sebuah postingan yang berbobot. Ide-ide untuk menuliskan postingan hari ini sih masih banyak terlintas di kepalaku. Cuman, waktu saja yang membuatku sulit untuk menuliskannya. Dari sejak pagi sampai kantor, kerjaan telah datang menumpuk. Siangnya pun tak kalah sedikit. Pekerjaan justru bertambah banyak. Puncaknya, sore hari aku justru dipanggil dua orang Manajer untuk membantu membuatkan matrik dan perubahan perjanjian serta menyelesaikannya malam ini karena keesokan hari Direksi akan menggunakannya untuk presentasi di depan klien untuk membicarakan dan melobi perjanjian yang harus kuselesaikan itu.

Sejak pukul 16.00 tadi, aku berada di depan laptop di ruang direksi untuk menyelesaikan kerjaan itu. Terpotong sholat maghrib yang dilanjutkan makan malam dengan sate padang yang dibeli dari depan masjid Cut Mutia, kerjaan pun masih harus dilanjutkan karena memang belum selesai. Barulah sekitar pukul 20.00 WIB, pada akhirnya kami berhasil menyelesaikan perbaikan-perbaikan dan revisi atas beberapa pasal dalam draft perjanjian yang disusun. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: