Bus Tingkat Akan Hadir Kembali di Solo

 

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku terparkir di kawasan sumber

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku 'terparkir' di kawasan sumber

Bus Tingkat Akan Hadir Kembali di Solo

Kemarin karena libur long weekend peringatan hari Maulud Nabi SAW, aku sengaja pulang mudik ke Solo. Salah satu tujuannya tentu saja adalah berlibur dan yang utama tentu saja silaturahmi kepada orangtua. Saat jalan-jalan keliling kota yang disebut kawanku sebagai city of divine science and movement (entah apa lasannya_pen) ini, pesona Solo tak pernah luntur. Kemajuan zaman dan modernisasi seperti berjalan beriring dengan pesona klasik kota pewaris tahta kerajaan Mataram Islam ini. Bahkan barangkali pesona kota Solo justru lebih meningkat dibandingkan sepuluh tahun silam.

Sesampai di kota Solo, aku diberitahu kabar bahwa Solo akan kembali mengaktifkan serta mengeksiskan atau mengoperasikan kembali bus tingkat yang selama beberapa tahun telah menghilang. Kabar ini tentu saja sangat menggembirakanku. Dan aku yakin seluruh warga dan masyarakat kota Solo dan sekitarnya pasti merasa senang dan bangga mendengar kabar ini. Bus tingkat atau bus tumpuk, yang telah lama dirindukan kembalinya, itu akan menambah daya tarik dan pesona kota Solo Berseri (Bersih Sehat Rapi Indah). Baca lebih lanjut

Sejarah Bus Tingkat di Kota Solo

 

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku terparkir di kawasan sumber

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku 'terparkir' di kawasan sumber

Nostalgia Naik Bus Tingkat Kota Solo

Satu lagi keistimewaan dan keunikan kota Solo yang tidak dimiliki kota lainnya. Yaitu keberadaan Bus Tingkat atau yang lebih dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan bus tumpuk atau bis tumpuk. Sayangnya, keunikan itu kini sudah tidak dijumpai lagi di kota bersumbu politik pendek itu. Bersama dengan kota Jakarta, Surabaya, dan Makassar, dulu bus tingkat pernah eksis cukup lama di empat kota tersebut. Hanya Solo lah satu-satunya kota kecil yang memperoleh keistimewaan itu.

Semasa masih SD, aku masih ingat dulu sering naik bus tingkat itu dari Pasar Kleco dan turun di Kusuma Sahid saat berangkat ke sekolah jika tidak ada yang mengantar. Terkadang, aku juga sengaja pulang naik bus tingkat dari Matahari Beteng (sekarang jadi Pusat Grosir Solo) dan turun di Toserba Relasi (Mendungan). Perjalanan pulang ini yang menarik karena menempuh rute lebih panjang dan lebih lama serta lebih sepi. Kalau naiknya pas berangkat sekolah, bus tingkat sering dijejali penumpang. Sementara kalau naiknya pas pulang sekolah, penumpangnya relatif lebih sedikit sehingga biasanya aku sengaja naik ke lantai dua dengan tujuan sambil melihat-lihat pemandangan sekitar rute yang dilalui bus siput itu (sengaja kusebut bus siput karena jalannya relatif sangat pelan dan lama). Baca lebih lanjut

Pintu Air Demangan – Sangkrah

Pintu Air (Terlihat Dari Arah Selatan)

Pintu Air (Terlihat Dari Arah Selatan)

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menguras rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya adalah Pintu Air Demangan atau Sangkrah di samping.

Selama masih duduk di bangku sekolah dasar, aku cukup sering bermain di pintu air ini. Hal ini dikarenakan beberapa kawan SD ku tinggal di bantaran Kali Pepe dan daerah yang tidak jauh dari lokasi pintu air ini sehingga aku cukup sering main-main ke tempat ini. Mereka adalah Usep Ardianysah, Muhammad Ridwan, dan Fariz Maulana.

Keberadaan pintu air ini cukup berarti dalam upaya menanggulangi banjir yang cukup sering terjadi di daerah ini. Kendatipun usianya sudah tidak muda lagi, pintu air ini masih cukup berfungsi untuk menahan limpahan banjir dari Sungai Bengawan Solo yang meluap. Meskipun beberapa kali, pintu air ini juga tidak bisa menahan kuatnya luapan air Bengawan Solo yang ingin “mengunjungi” pusat kota Solo. 😀 Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: