Peraturan Rumah Tangga Nahdhotul Muslimat (NDM)

SD ISLAM NDM KAUMAN SURAKARTA

SD ISLAM NDM KAUMAN SURAKARTA

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menguras rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Salah satu hal yang kulakukan selama di Solo adalah mencari dokumen-dokumen tentang NDM atau Nahdhotul Muslimat.

Secara, aku merupakan alumni sekolah dasar NDM yang terletak di Kauman Solo. Berawal dari rasa kepenasaranku, maka kuberanikan diri untuk mengunjungi beberapa sesepuh NDM yang masih hidup antara lain, ibu Mustangidi dan ibu Nasriyah.

Kunjunganku cukup membawa hasil. Aku memperoleh beberapa dokumen perihal NDM. Selanjutnya, aku ketik ulang dan kupostingan secara bersambung per bab atau dokumen. Pertama adalah Peraturan Rumah Tangga NDM. Baca lebih lanjut

Bonbin Jurug, Taman Indah Kota Solo yang Terlupakan

Jurug Tampak Depan

Taman Jurug

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menguras rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya adalah Taman Satwa Taru Jurug Solo (TSTJ) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jurug atau nJurug oleh warga Solo.

Seingatku seumur-umur hingga aku nulis ini, aku baru mengunjungi taman ini 3 kali. Dua kali sewaktu aku masih sekolah TK, sementara yang sekali lagi sewaktu aku masih duduk di bangku SD kelas 5. Ada pengalaman tersendiri saat aku berkunjung di “Kebon Rojo” alias bonbin Solo ini bareng-bareng kawan-kawan sekolah. Kisah selengkapnya di Mengenang Masa Kecil Bersama 20 Siswa Luar Biasa. Baca lebih lanjut

Kue Leker, Citarasa Belanda Harga Jelata

Kue Leker Matang (foto diambil dari: http://fotocjawi.blogspot.com/)

Satu lagi jajanan tradisional khas Solo yang bikin aku kangen terhadap kota dengan sejuta hal yang menarik ini. Kali ini, jajanan yang ingin kuceritakan namanya Kue Leker (bukan Neker lho ya..!).

Asal usul kenapa disebut dengan kue Leker ada sebuah spekulasi menarik. Dari cerita simbah-simbah jaman dahulu kala, konon, orang-orang kompeni Belanda yang ada di Solo suka makan jajanan kue ini. Karena rasanya uenak, maka orang-orang Belanda ini pun menyebutnya sebagai Kue Lekker / Kue Lecker. Kosakata Lekker menurut pemberitahuan seorang kawan di sebuah forum berarti [a surprise!] dan [delicious] atau ekspresi enak atau sedap. Baca lebih lanjut

Nostalgi[L]a Maen Karet Gelang (Permainan Tradional)

Nostalgia Maen Karet Gelang

Tanggal 25 – 28 Februari 2010 lalu, aku pulang Solo menghabiskan liburan panjang akhir pekan yang bertepatan dengan adanya libur hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Selama empat hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk menghabiskan rasa kangen yang cukup tak tertahankan (:D lebay) terhadap my hometown, Solo. Maklum, belum berkeluarga. Sambil jalan-jalan bawa kamera Casio Exilim Ex-Z75, kupotret beberapa hal yang menarik perhatianku.

Seorang Bocah Menghitung & Memisahkan Karet Gelang

Seorang Bocah Menghitung & Memisahkan Karet Gelang

Ada sebuah pemandangan yang kulihat di depan mata yang membuat teringat kenangan masa kecil di Kauman. Di depanku ada seorang bocah menghitung sejumlah karet gelang yang barangkali ia peroleh dari memungut di jalanan. Kulihat-lihat ia asyik menghitung berapa jumlah karet gelang yang telah ia peroleh. Ia pun kemudian memisah-misahkannya menurut warnanya. Merah ia pisahkan dari hijau dan kuning.

Dulu saat aku berada di bangku TK hingga kelas 3 atau 4 SD, salah satu permainan musiman yang sering kami mainkan adalah permainan karet gelang. Dengan cara keluar masuk toko-toko besar macam Mac Mohan, Matahari, Obral, Prabu, dan beberapa toko lainnya di Solo; menyusur jalan-jalan, trotoar-trotoar, bahkan mengais-ais sampah-sampah, aku dan beberapa kawanku mengumpulkan karet gelang. Jika ada sedikit uang saku yang tersisa, terkadang aku membeli di warung kelontong yang jualan karet gelang. Jika sudah terkumpul, segeralah kami memainkannya bersama-sama dengan kawan-kawan. Baca lebih lanjut

Berkunjung Kepada Sesepuh dan Penggerak NDM

Seharian berada di rumah pas liburan bikin suasana jadi boring. Puluhan tamu yang datang ke rumah menemui kedua ortu seperti tak henti berdatangan dari sejak pagi. Aku putuskan untuk jalan-jalan keluar rumah.

Ditemani Shogun, tujuan awalku hendak ke kantor Lyla dan rumah Riana untuk nganter oleh-oleh. Namun sayangnya keduanya sedang tidak bisa kuganggu pada saat itu dikarenakan beberapa dan lain sebab. Tanpa banyak berpikir, ku segera kan saja melaju ke rumah simbah di Kauman.

Disamping hendak mengunjungi simbah kakung yang beberapa waktu lalu ditinggal simbah putri, aku juga bermaksud mengunjungi SD NDM, sekolah dasar tempatku dididik. Keadaan mbahkung (sebutan simbah kakung / kakek) pada dasarnya masih terlihat sehat. Mbahkung masih bisa jalan sendiri tanpa bantuan tongkat atau teken jika hendak sholat ke langgar Winongan, Kauman. Namun jika untuk berjalan-jalan yang jauh, tentunya mbahkung sudah tidak mampu. Seusai salaman dan ngobrol-ngobrol dengan mbahkung, bulik ‘Aliyah, bulik Baroroh, dan si kecil Fahri (anak bulik ‘Aliyah), kemudian aku menuju ruang kantor SD NDM yang letaknya hanya di depan rumah tinggal simbah.

Di dalam ruang kantor SD, aku bertemu dengan bu Umi (aku lupa apakah Umi Khasanah atau Umi Salamah) dan pak Agus Salman. Kebetulan keduanya sedang berada di SD menunggui para tukang batu yang sedang merenovasi gedung SD.

Mumpung berada di Solo dan bertemu dengan dua orang guru SD yang pernah mendidikku, langsung saja kutanyakan tentang daftar alumni SD sepanjang sejarah SD yang dimiliki oleh arsip SD NDM. Sayangnya keduanya tidak bisa memberikan informasi yang kuminta dan kutanyakan. Mengenai daftar alumni-alumni SD NDM, aku diminta menghubungi bu Endang karena yang berwenang mengurusi mengani bidang alumni dan semacamnya adalah bu Endang. Karena waktuku tidak banyak, maka kubut janji dengan bu Endang melalui bu Umi dan Pak Agus untuk bertemu tanggal 24 Desember 2009. Sementara mengenai sejarah SD NDM dan gerakan NDM, aku diminta untuk menemui bu Mustangidi. Baca lebih lanjut

Kisah Cinta Ala Bocah Bangku Sekolah Madrasah Ibtidaiyah

Orang bilang, cinta tak mengenal batas usia dan strata. Ungkapan tersebut mungkin tidak lah terlalu salah mungkin. Cinta tak hanya menjadi monopoli manusia dewasa atau orang-orang tua saja, bahkan anak-anak pun juga bisa dan pernah merasakan entah kenikmatan atau musibah cinta itu. Tak terkecuali anak Madrasah Ibtidaiyah (baca: SD).

Saat aku masih berada di bangku SD, tak sedikit ternyata kisah-kisah cinta yang muncul di antara kami. Entah karena perkembangan zaman atau memang sudah normalnya. Diantara kami ada beberapa kwaan yang sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.

Berawal dari pacok-pacokan yang muncul saat bermain di kala istirahat dan sela-sela pergantian jam pelajaran antara satu orang dua orang siswa, lalu muncullah jodoh-jodohan. Kebiasaan yang muncul saat aku SD ketika itu adalah menjodohkan orang yang pinter dengan yang sesama pinter.

Qoni’atun Ni’mah (kini telah menikah), kawanku yang hampir setiap terima raport memperoleh peringkat satu di kelasku, kerap dijodohkan dengan Wildan Arsyad Zaki (kini menyelesaikan kuliah koas di FK UNS Solo) yang merupakan lelaki terpintar di kelasku selama 6 tahun. Kedua orang siswa ini kerapkali terlibat persaingan (entah sehat atau tidak sehat) satu sama lain hingga kelas 6.

Wildan yang seringkali dijodohkan dengan Ni’mah sering tersipu malu memperlihatkan muka merah padam yang tak bisa berbohong sedangkan Ni’mah terlihat biasa saja seolah tak menghiraukan guyonan kawan-kawannya. Namun terkadang, Wildan juga kerap memperlihatkan rasa sebel jika seringkali dijodoh-jodohkan dengan Ni’mah. Setahuku, keduanya jarang sekali berbicara. Sekalinya berbicara salah satu dari mereka akan mengalirkan keringat dingin pertanda grogi. Entah karena memang grogi atau karena ada rasa suka diantara keduanya kala itu. Baca lebih lanjut

SD Islam NDM Kauman Solo

SD Islam NDM Kauman Surakarta

SD Islam NDM Kauman Surakarta

SD Islam NDM Kauman adalah sebuah sekolah dasar Islam yang berada di bawah naungan Yayasan NDM. NDM sendiri merupakan kependekan dari Nahdhotul Muslimat. Nahdhotul Muslimat memiliki arti kebangkitan wanita Islam. Awalnya, NDM mengkhususkan diri pada pendidikan Islam terhadap pra wanita Islam (baca: muslimah). Mulai dari tingkat SD / MI, SMP / Mts, dan Muallimin, keseluruhan muridnya hanya berisi para muslimah saja. Namun, mulai kisaran akhir tahun 80an atau 90an awal (dataku masih kurang valid, tolong jika ada yang punya data lebih valid lagi, kasih tahu aku), sekolah ini membuka pendaftaran bagi murid laki-laki.

Aku kurang terlalu tahu kapan pertama kali NDM berdiri. Dari cerita ibu guruku bernama bu Munzayanah, yang ketika itu sudah sepuh, NDM telah ada sejak sebelum kemerdekaan bahkan sebelum masa pendudukan penjajahan Jepang. Para aktivis NDM ketika itu terdiri dari para putra-putri juragan batik dan istri-istri kyai-kyai Kauman dan Laweyan yang juga para pengusaha batik. Jika para suami aktif di organisasi-organisasi Islam seperti Syarikat Islam dan Al Islam, maka para muslimahnya juga berdakwah melalui pengajian dan pendidikan di NDM. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: