Kesepian

Kemaren, karena iseng-iseng saat dalam kondisi yang membosankan, dan kemudian teringat dengan sahabat-sahabatku dulu sewaktu di Solo, aku pun mencoba berkreasi demi mengurangi dan meredam rasa penat dan bosan itu. Hasilnya, setelah beberapa jam memainkan mouse sambil menyelesaikan kerjaan kantor (ampun bos… :D), inilah hasil karya kreativitasku (hayah). Silakan disimak dan jangan lupa dikomentari.

Baca lebih lanjut

Orang Aneh dan Orang Asing

al ghuraba

al ghuraba

Membaca posting ustadz Didot tanggal 16 Juni 2010 yang ia beri judul Orang aneh, membuatku ingat akan sebuah syair indah dan bagus yang dinyanyikan oleh Syaikh Saad Al Ghamidi. Jangan terkejut mendengar nama Saad Al Ghamidi yang biasa kita kenal sebagai seorang qori’ yang membacakan bacaan murottal Quran dengan sangat indah dan benar itu melantunkan lagu. Meskipun ia lebih dikenal sebagai seorang qori’ atau pembaca al Quran, namun ternyata ia juga seorang penyanyi atau lebih sopannya penyair atau munsyid (pelantun nasyid). Dan salah satu lagu yang dilantunkan sang Syaikh adalah lagu yang berjudul Ghuraba’. Kata Ghuraba memiliki arti Orang-Orang Asing atau Strangers. Berikut syair lagunya:

Baca lebih lanjut

Potret Musisi Jalan Bandung

Waktu ke Bandung hari Sabtu-Ahad, 30-31 Januari 2010, beberapa hari lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk kujepret via kamera Casio Exilim EX-Z75 ku. Meskipun kamera murah, tapi cukuplah kalau sekedar untuk jepret objek-objek menarik hati untuk selanjutnya untuk di-share-kan melalui blog.

Musisi Jalanan Bandung

Musisi Jalanan Bandung

Foto ini kuambil dari dalam angkot saat berhenti di perempatan Tugu Sepatu memasuki Cibaduyut. Kedua pengamen (lebih enak dengan bahasa pengamen atau pemusik jalan ya?) itu menyanyikan sebuah lagu yang aku tidak paham isinya karena menggunakan bahasa Sunda, sepertinya. Hanya saja, saat mendengar nyanyian keduanya, sang sopir angkot hanya senyum-senyum dan sedikit mengeluarkan tawa.

Ada apa bang? Kok ketawa ndiri? Ada yang lucu dengan lagu-nya ya? Saya ga paham sih bang.”kataku kepada sopir angkot.

Iya, bisa aja dia bikin kata-kata seperti itu. Itu tadi pakai bahasa Sunda,” jawabnya kepadaku masih dengan senyum yang melebar. Namun, aku masih belum tahu apa maksud dan arti lagu yang dinyanyikan dua pengamen itu.

Bandung memang gudang “pengamen” (baca: seniman musik). Mulai dari penyanyi solo wanita, grup band, sampai ke vokal group semua ada. Bersaing dengan Surabaya, Bandung menjadi kiblat pencetak kelompok-kelompok band ternama Indonesia. Tak ingin kalah dengan penyanyi yang telah mapan, seniman jalan di Bandung pun berusaha menunjukkan eksistensinya dengan kreativitas mereka. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: