KH. Ahmad Azhar Basyir, ‘Santri NU’ Jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah

Pesantren Tebuireng kedatangan seorang santri yang hendak mengadu kepada KH. Hasyim Asy’ari, pada suatu hari di awal abad ke-20. Santri itu bernama Basyir, berasal dari Kauman, Yogyakarta. Santri Basyir mengadu perihal seorang tetangganya yang baru pulang dari Makkah, yang membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat di kampungnya.

Siapa namanya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari.

Ahmad Dahlan,” jawab Basyir.

Bagaimana ciri-cirinya?” tanya KH. Hasyim Asy’ari lagi.

Lalu, santri Basyir menggambarkan ciri-cirinya.

Oh!  Itu Kang Darwis!” kata Hadlratusy Syaikh berseru gembira.

Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia.”  Baca lebih lanjut

Iklan

Muhammadiyah Sinjai Pilih Lebaran Hari Kamis

Muhammadiyah Sinjai Lebaran KamisBerbeda dengan keputusan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menetapkan hari Idul Adha (10 Zulhijah 1436 H) jatuh pada hari Rabu, 23 September 2015 (sumber: klik di sini) , Pengurus Daerah Muhammdiyah (PDM) Kabupaten Sinjai justru menetapkan lebaran Idul Adha jatuh pada Kamis, 24 September 2015.

Dalam rilis yang saya peroleh, PDM Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan melalui Maklumat Susulan Nomor 02/MLM/III.0/E/2015 tertanggal 15 September 2015, menetapkan hari Idul Adha 1436 H jatuh pada Kamis, 24 September 2015. Baca lebih lanjut

Jika Anda Lebaran Rabu, Sembelihnya Hari Kamis Pliss… Supaya Nyatenya Bisa Bareng

Perbedaan Idul AdhaKemarin saya memperoleh info yang tidak menyenangkan sekaligus membuat geram dari kota Yogyakarta. Saya memperoleh laporan, adanya polemik yang berpotensi menyulut perselisihan dan ketidakharmonisan antar umat Islam gegara adanya perbedaan keyakinan dalam penetapan hari raya Idul Adha di kampung Namburan, Yogyakarta. Yaitu antara Rabu (23 September 2015) dan Kamis (24 September 2015).

Menurut keterangan salah seorang kawan saya, sebut saja Nur (bukan nama sebenarnya_ed), di kampung Namburan, Yogyakarta ada rencana penyembelihan hewan Qurban sebagai bagian dari perayaan Idul Adha 1436 H. Seperti yang sudah mafhum diketahui, untuk qurban seekor sapi biasa disokong oleh 7 orang. Begitu pula yang terjadi di kampung Namburan, Yogyakarta.

Persoalan muncul ketika ketujuh orang yang urunan beli seekor sapi untuk di-qurban-kan itu tidak sepakat berlebaran bersama. Empat orang penyokong meyakini untuk berlebaran pada Rabu (23 September 2015) sementara yang tiga orang lainnya meyakini lebaran jatuh pada Kamis (24 September 2015). Sampai di sini sebenarnya belum ada permasalahan berarti.

Namun persoalan menjadi sulit dicarikan solusi saat keempat orang penyokong sapi bersikeras melakukan penyembelihan pada Rabu (23 September 2015). Mereka ingin mengejar keutamaan penyembelihan pada tanggal 10 Dzulhijjah tepat setelah shalat Ied selesai. Namun yang ngga masuk akal dan maksa, mereka -berdasarkan keterangan mas Nur- mengatakan kalau Kamis acaranya padat. Ada bakti sosial (baksos) dan lain-lain. Tentu keinginan kelompok empat (maksudnya kelompok yang berisi empat orang_pen) itu ditentang oleh kelompok tiga karena jika penyembelihan dilakukan pada Rabu (23 September 2015), bagi kelompok tiga hari Rabu masih tanggal 9 Dzulhijjah 1436 H, belum masuk waktu lebaran (10 Dzulhijjah).

Tentu saja jika penyembelihan tetap dipaksakan dilakukan pada Rabu (23 September 2015), penyembelihan hewan qurban itu menjadi tidak sah bagi kelompok tiga yang meyakini bahwa lebaran Idul Adha baru jatuh pada Kamis (24 September 2015).

Pada dasarnya, kelompok tiga tak mempermasalahkan kelompok empat atau siapa pun orang lain yang berlebaran pada hari Rabu (23 September 2015). Bagi mereka itu adalah masalah keyakinan masing-masing yang didukung dengan argumen dalil yang diyakini masing-masing pula. Namun untuk penyembelihan qurban, kelompok tiga mengharapkan adanya toleransi dari kelompok empat agar prosesi penyembelihan dilakukan pada hari Kamis (25 September 2015) setelah kelompok tiga berlebaran dan selesai menunaikan shalat Idul Adha.

Waktu penyembelihan pada hari Kamis (25 September 2015) bisa menjadi solusi bersama bagi dua kelompok yang berbeda keyakinan hari Idul Adha, untuk berlebaran bersama. Yaitu menyembelih hewan qurban secara bersama-sama walau lebarannya beda. Bagi kelompok Kamis, penyembelihan pada hari Kamis sudah masuk waktu lebaran, sementara bagi kelompok Rabu, hari Kamis juga masih waktu tasyrik yang diperbolehkan menyembelih hewan qurban. Sebuah solusi bersama.

Tetapi sayang, kelompok empat tetap memaksakan kehendak untuk tetap menggelar penyembelihan hari Rabu. Tentu saja kelompok tiga tidak terima. Situasi pun menjadi ‘ramai’. Tidak ada kata sepakat. Kelompok tiga penyokong sapi memutuskan mencabut urunan.

Sampai saya menulis posting ini, situasi yang saya ketahui masih tak ada kata sepakat diantara kedua kelompok. Dengan kata lain, kelompok empat yang berlebaran Rabu tetap memaksakan kehendak untuk menyembelih hewan qurban pada hari Rabu tanpa memperhatikan solusi yang disampaikan oleh kelompok tiga yang berlebaran hari Kamis.

***

Jujur saya miris dan prihatin dengan kejadian yang terjadi di sebuah kampung dekat Kraton Yogyakarta ini. Sebuah kefanatikan dalam memaksakan kehendak dan pendapatnya di tengah-tengah masyarakat Muslim yang majemuk yang sebenarnya ada solusi untuk bersama-sama merayakan hari raya. Saya melihat hawa nafsu lebih kuat bermain daripada ilmu dan semangat ukhuwah (persaudaraan).

Mungkin permasalahan seperti ini akan terjadi di beberapa tempat yang memiliki toleransi kurang atau minim terhadap adanya keragaman pendapat di tengah-tengah umat Muslim. Tentunya diperlukan semangat berjamaah, ukhuwah, dan senantiasa mencari solusi bersama agar umat Islam benar-benar bersatu.

Saya mencoba mencari kontak orang-orang yang terlibat dalam kasus ini tetapi belum mendapatkan kontak mereka. Saya sengaja menulis melalui posting ini dengan harapan mereka bisa membaca tulisan ini dan mau duduk bareng mencari solusi bersama. Kalau tidak sepakat untuk melakukan penyembelihan pada Rabu atau Kamis, saya mengusulkan agar penyembelihan dilakukan pada hari Jumat (26 September 2015) saja. Jadi, baik yang berlebaran hari Rabu maupun Kamis masih bisa menyembelih hewan qurban karena hari Jumat adalah hari tasyrik. Hanya bedanya bagi kelompok Rabu, hari Jumat adalah hari tasyrik kedua, sementara bagi kelompok Kamis, hari Jumat adalah hari tasyrik pertama. Adakah solusi lainnya? 😦

Semoga perbedaan lebaran seperti ini tidak sampai menimbulkan perselisihan-perselisihan di kemudian hari. Semoga perbedaan lebaran tidak menghalangi umat Islam untuk bisa menyembelih hewan qurban bersama. Mari mengedepankan sikap toleran dan ukhuwah. Salam.

Hukuman Mati Bagi Pengedar Narkoba: Ulama Setuju, Gereja Menolak

Ulama Pro Hukuman Mati Terpidana Narkoba, Gereka Kontra (Foto: kutipan kliping koran Republika, 19/01/2015)

Ulama Pro Hukuman Mati Terpidana Narkoba, Gereka Kontra (Foto: kutipan kliping koran Republika, 19/01/2015)

Perdebatan tentang hukuman mati bagi terpidana kasus narkoba belum selesai. Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas menyatakan keputusan pemerintah menolak grasi pelaku tindak pidana narkoba dan tetap melaksanakan eksekusi hukuman mati merupakan langkah tepat. Sikap Ketua PP Muhammadiyah juga didukung, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI Muhyiddin Junaidi mengatakan,”Lebih penting menyelamatkan jutaan generasi muda daripada menyelematkan satu orang.”

Sementara menurut gereja, hukuman mati dianggap tidak dapat membuktikan adanya efek jera. Sekretaris Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Benny Susetyo menilai, eksekusi mati tidak dapat dibenarkan apa pun alasannya. Pandangan serupa disampaikan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI).  Baca lebih lanjut

K.H. As’ad Humam, Pahlawan Yang Patut Dikenang

 

Karya Besar K.H. As'ad Humam Rahimahullah

Karya Besar K.H. As'ad Humam Rahimahullah (sumber gambar klik saja pada gambar)

K.H. As’ad Humam

Aku yakin mayoritas rakyat di seluruh Indonesia yang pernah menjadi seorang muslim, apalagi masih muslim sejak lahir hingga sekarang mengenal Iqro’. Dan aku juga yakin kita semua tidak terlalu asing dengan seorang tokoh bernama K.H. As’ad Humam, penemu metode Iqro’.

Melalui metode Iqro’ itulah aku belajar membaca tulisan arab Dan al Quran hingga akhirnya bisa membaca Al Quran sampai sekarang. Aku pun yakin kamu juga bisa membaca Al Quran seperti sekarang ini juga menggunakan media belajar buku Iqro’. Sungguh betapa besar amal jariyah K.H. As’ad Humam yang melalui buku metode penemuannya jutaan umat di Indonesia akhirnya bisa membaca Al Quran. Secara tidak langsung, beliau memiliki murid jutaan -salah satunya aku Dan kamu- yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bahkan hingga ke Malaysia Dan Singapura sehingga memperoleh kebaikan serta barokah atas ilmu yang beliau ajarkan kepada kita semua. Memang benar sabda Rasulullah SAW bahwa ilmu yang bermanfaat bakal menjadikan si-empunya ilmu memperoleh kebaikan yang terus menerus seperti air yang mengalir tak pernah kering. Ini pula lah yang dapat dirasakan atas apa yang telah diwariskan K.H. As’ad Humam.

Tak banyak orang yang mengenal K.H. As’ad Humam memang. K.H. As’ad Humam lahir pada tahun 1933. Beliau mengalami cacat fisik sejak remaja. Beliau juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, beliau hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP). Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: