Arsip Mudik Lebaran Naik Kereta

Ndlosor di Kereta Mudik

Ndlosor di Kereta Mudik

Arsip Mudik Lebaran Naik Kereta

Fotoku ini adalah salah satu arsip kenanganku saat mudik lebaran kemarin (tahun 2011) naik kereta api bisnis. Untuk tahun ini (2011), aku perlu mengacungkan dua jempol untuk PT. KAI karena manajemen transportasi kereta tahun ini sangat baik dan bagus. Meskipun masih ada sedikit banyak kekurangan, namun secara umum aku bisa merasakan bahwa mudik tahun ini (2011) sangat nyaman dengan kereta api. Tidak ada desak-desakan penumpang di dalam gerbong kereta. Bahkan aku pun bisa merasakan nyenyaknya tidur di lantai gerbong sepanjang perjalanan. Ndlosor kanthi lego. Terima kasih PT. KA. Semoga pelayanan yang seperti ini senantiasa dilanjutkan pasca lebaran.  Baca lebih lanjut

Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran

Suasana Antrian Pemesanan Tiket Lebaran 2011 di Gambir

Suasana Antrian Pemesanan Tiket Lebaran 2011 di Gambir

Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran

Subuh hari, tanggal 27 Juli 2011, aku berangkat berjalan kaki menuju Stasiun Gambir setelah menunaikan Sholat Subuh dari kos. Jarak kos dengan Stasiun Gambir sekitar 1 KM atau 10 menit jalan kaki. Sengaja aku berangkat pagi-pagi ke Stasiun Gambir karena niat ngantri tiket kereta api untuk keperluan mudik lebaran.

Awalnya, aku sebenarnya merasa aras-arasen menuju Gambir untuk ngantri tiket kereta api. Pertama, aku memperkirakan Stasiun Gambir sudah dipenuhi oleh ratusan calon penumpang yang sudah mengantri lebih dahulu dari saya, bahkan tak sedikit diantara mereka yang rela menginap di stasiun. Kedua, aku memperkirakan akan berada di antrian belakang jauh dan sangat berpotensi tidak memperoleh tiket mudik. Karena dua alasan itulah aku sangat pesimis bakal berhasil mendapatkan tiket lebaran yang hendak kubeli. Baca lebih lanjut

Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan

Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan

Tanggal 2 Februari lalu, aku dan beberapa kawan pulang ‘mudik’ ke Solo. Dari Stasiun Senen – Jakarta, kami menumpang kereta Sawunggalih kelas bisnis jurusan Kutoarjo. Pukul 07.10 WIB, kereta mulai meninggalkan Senen. Singkat cerita, kami masih tertidur saat kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Kroya. Tidur kami terputus setelah ada pedagang asongan yang sedikit berteriak mengabarkan kedatangan Kereta Lodaya dari Bandung jurusan Solo yang akan berhenti di stasiun Kroya. Seketika juga aku dan kawanku terbangun dan segera mengemasi barang bawaan untuk turun dari kereta Sawunggalih dan berpindah ke kereta Lodaya. Baca lebih lanjut

Mengomentari Status Bokong Truk

Mumpung masih terkait dengan kegiatan per-MUDIK-an yang senantiasa berhubungan dengan jalanan serta kemacetan yang tidak jauh dari istilah padat merayap dan selainnya, ada sebuah persembahan dariku untuk kalian semua. Sebuah rangkaian foto-foto yang barangkali akan membuat anda tersenyum di tengah-tengah kemacetan. Aku berharap ini dapat mengendurkan otot serta melegakan pikiran Anda.

Aku yakin kalian pasti sering melihat gambar-gambar di bawah ini di ruas-ruas jalan protocol, apalagi di sepanjang perjalanan mudik anda beberapa hari kemaren. Baca lebih lanjut

Mudik Ke Solo

Mudik Ke Solo

Bismillahirrahmanirrahim. Lebaran sebantar lagi. Artinya perasaan yang berkecamuk dalam hatiku bercampur dan beradu antara rasa sedih dan rasa gembira. Aku merasa sedih karena harus segera melepas kepergian Romadhon yang tinggal beberapa hari saja. Sementara di sisi lain aku juga merasa gembira karena dengan datangnya lebaran karena berarti waktunya mudik berkumpul dengan keluarga, berkumpul dengan sejumlah kawan dan sahabat, serta berharap mampu meraih derajat ketakwaan setelah melalui proses pembakaran selama bulan Romadhon.

Tahun ini adalah mudik yang kedua kalinya kujalani dalam bulan Romadhon. Masih seperti tahun kemaren, aku mudik ke Solo dari Jakarta. Yang membedakan dengan tahun kemaren, mudik kali ini aku ikut merasakan susah payahnya mencari tiket untuk pulang kampung. Jika tahun kemaren aku memperoleh tiket kereta dengan tanpa antri dan mudah. Namun tahun ini aku harus antri berjam-jam untuk berebut tiket kereta. Itupun gagal. Baca lebih lanjut

Pelajaran Dari Antri Tiket Mudik Lebaran

Antrean Semut (sumber klik pada dambar)

Antrean Semut (sumber klik pada dambar)

Kemaren, aku posting tentang sekilas kisahku saat antre tiket kereta api di Stasiun Pasar Senen untuk mudik lebaran ke kampung (Solo). Meskipun sudah dua hari mengantre, aku dan kawanku belum berhasil (gagal) memperoleh tiket kereta api untuk tanggal 7 dan 8 September 2010. Kami telah berusaha melakukan semua hal yang terbaik yang bisa kami lakukan. Banyak orang yang -menurut kami- berjuang lebih keras dari kami saja, tidak berhasil memperoleh tiket, maka sudah sewajarnya jika kami tidak memperoleh tiket juga. Ada temen yang ikut antre bergiliran dengan temannya sejak maghrib dan rela menginap di stasiun saja gagal memperoleh tiket. Apalagi kami yang baru dinihari sampai di stasiun. Namun demikian, sekalipun aku gagal memperoleh tiket kereta api, setidaknya aku punya cerita yang bisa ku-share untuk kawan-kawan. Banyak suka, duka, dan bahkan pelajaran yang kuperoleh. Baca lebih lanjut

Antri Tiket Mudik Lebaran

Antri Tiket Mudik (sumber: jakartapress.com)

Antri Tiket Mudik (sumber: jakartapress.com)

Dua hari ini [Ahad kemaren (8 Agustus 2010) dan Senin tadi (9 Agustus 2010) ], aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk ‘sekedar’ berburu tiket kereta api untuk mudik lebaran. Aku ingin membeli tiket kereta yang bisa menjadi sarana transportasiku pulang ke Solo, kampung halamanku dimana kedua orangtuaku tinggal. Untuk berburu tiket itu, aku sengaja memilih Stasiun Pasar Senen karena lokasi tersebut berdekatan dan paling dekat dengan tempat tinggalku (bc: kos-an ku) dibandingkan dengan lokasi titik pembelian tiket lainnya.

Hari pertama, aku datang ke stasiun sekitar pukul 06.30 WIB, 1/2 jam menjelang dibukanya pembelian tiket. Aku terkaget-kaget melihat antrian yang sedemikian panjangnya. Prediksiku sekitar 50-75 meter yang terbagi menjadi 5 banjar / baris. Melihat antrian yang sebegitu panjangnya, aku langsung pesimis bakal memperoleh tiket. Dan ternyata benar. Tak lebih dari 1/2 jam (jam 07.30 WIB), tiket untuk jurusan Solo, Yogya, Semarang, dan Kutoarjo sudah habis tak tersisa.

Bagas, kawanku yang sebelumnya nitip aku untuk dibelikan tiket sebagaimana tahun sebelumnya dan kebiasaan biasanya, langsung ku telpon dan kuminta ke Pasar Senen untuk melihat kondisi medan ‘perburuan’ tiket. Harapanku, kami berdua bisa mempersiapkan segala macam keperluan dan bekal untuk ‘perburuan’ keesokan harinya agar bisa memperoleh tiket untuk tanggal 8 September 2010 (H-2 lebaran). Singkat cerita, kami pun menyusun strategi yang menurut kami sudah cukup matang. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: