[HIDUP MANUSIA] Antara Mengisi Cangkir dengan Kerikil atau Pasir?

Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Kita seringkali melihat pada diri kita betapa kita telah sempurna atau mendekati sempurna. Segala cita-cita yang kita raih seolah-olah semakin menambah kebanggan pada pencapaian kita dan kesempurnaan itu. Bagi seorang pelajar, memperoleh nilai maksimal pada mata pelajaran atau ujian atau memperoleh peringkat 10 besar bahkan terbaik menjadi kebanggan tersendiri tentunya. Bagi seorang mahasiswa, kesempurnaan itu mungkin bisa terlihat dari betapa cepatnya kita lulus kuliah dengan nilai yang memperoleh predikat summa cumlaude.  Dan bahkan kemudian langsung melanjutkan untuk studi S2 bahkan S3.  Sementara bagi seorang karyawan atau pegawai, kesempurnaan itu mungkin dikesankan dengan kedisplinan berangkat pagi dan pulang petang meskipun hanya membawa penghasilan pas-pasan. Atau bagi sementara karyawan lain bisa saja diartikan dengan jabatan yang kita terima serta gaji yang lebih dari cukup untuk kebutuhannya bersama keluarganya.

Demikianlah mungkin sebagian orang ketika telah melakukan sesuatu sebagaimana hal di atas merasa bahwa dirinya telah sempurna. Si A, seorang mahasiswa yang sangat berprestasi dengan peroleh IPKnya yang tak pernah kurang dari 3,5. Aktivitasnya pun tak kurang dengan ikutbeberapa organisasi kegiatan mahasiswa. Asisten dosen merupakan sambilannya di sela-sela prosesnya menyelesaikan skripsi. Ia paun terbilang berasal dari keluarga yang cukup kaya serta memiliki paras yang cukup cantik. Seolah-olah si A atau orang-orang di sekitarnya melihat bahwa ia seperti Cangkir yang penuh dengan pasir. Baca lebih lanjut

Antara Kendi dan Genthong, Sebuah Pelajaran Hari Ini

Ilustrasi Ilmu Adalah Cehaya

Tahukah kamu apa itu Genthong? Genthong (Jawa) dalam bahasa Indonesia lebih dikenal atau disebut dengan istilah Tempayan. Yaitu, sejenis tempat / wadah yang terbuat dari tanah liat (tembikar) yang memiliki ciri bermulut besar, dengan perut yang juga besar, dan tidak memiliki lubang aliran selain dari mulutnya. Biasanya, Genthong atau tempayan digunakan untuk menampung air atau menyimpan beras dan bahan makanan lainnya. Menurut wikipedia, Genthong (selanjutnya disebut tempayan) berasal dari negeri China, dan biasa digunakan untuk menyimpan barang, makanan, air dan sebagainya. Bahkan di beberapa tempat, tempayan malah digunakan untuk menyimpan mayat di kalangan orang pribumi Borneo. Selebihnya, beginilah bentuk tempayan.. (arahkan mouse kamu di sini atau klik di sini).

Sementara kendi, sejauh yang kutahu dalam bahasa Indonesia juga dikenal dengan istilah kendi (CMIIW), adalah tempat air seperti teko yang terbuat dari tanah liat. Ciri khas kendi adalah memiliki mulut yang relatif kecil dan memiliki perut yang cukup besar, namun memiliki lubang untuk mengalirkan air dari dalamnya selain lubang mulutnya. Kendi dikenal di seluruh dunia dan berkembang di Mesir, China, Jepang, Thailand, dan tentunya Indonesia. Biasanya, kendi dimanfaatkan untuk minum dan upacara adat Jawa. Selebihnya, beginilah bentuk kendi.. (arahkan mouse kamu di sini atau klik di sini).

Lantas, ada apa dengan Kendi atau tempayan ?? Tidak ada apa-apa. Nah Lho 😀 !!! Baca lebih lanjut

Pentingnya Huruf N Dalam Hidup

Pentingnya Huruf N

Posting kali ini sangat sederhana dan pendek saja. Aku ingin berkontemplasi serta brainstorming simpel bersama kamu tentang betapa pentingnya arti huruf N dalam kehidupan menuju masa depan yang senantiasa kita rintis entah sampai mana akan berujung. Kita tak tahu karena semua yang terjadi pada masa depan hanya Allah sajalah yang Maha Tahu. Subnahallah wal hamdulillah wallahu akbar.

Oke langsung saja, sadarkah kalian betapa dalam mengarungi hidup ini kita butuh perjuangan ? Alhamdulillah jika kamu meng-iya-kannya. Artinya kita memiliki satu kesamaan tentang arti hidup yang membutuhkan perjuangan. Artinya kita sepakat bahwa tak ada sesuatu yang dapat kita raih begitu saja tanpa berusaha.

Hal sederhana, minum misalnya, tak mungkin bisa kita lakukan tanpa adanya sebuah usaha. Kita perlu memiliki energi yang cukup untuk bisa menuangkan teko berisi air ke dalam gelas dan mengangkat gelas. Bagi kita orang yang sehat aktivitas minum air tentu terlihat biasa dan tak ada istimewanya. Tetapi bagi seorang anak bayi atau seseorang yang sakit, sebutlah stroke berat, aktivitas minum yang kita katakan sangat ringan itu bagi dia merupakan sebuah perjuangan yang membutuhkan energi besar. Iya khan? Itulah contoh sederhana tentang arti perjuangan dan berusaha. Demikian pula halnya dengan hal yang lebih komplek, tentu saja akan lebih keras usahanya.

Di sinilah peran huruf N menjadi sangat signifikan. Kita perlu ketahui bahwa alfabet abjad huruf N adalah sebuah abjad yang menjadi pembatas antara orang-orang yang mau berusaha dengan orang-orang yang enggan berusaha atau menyerah kepada keadaan yang ia peroleh begitu saja. Kok bisa? Baca lebih lanjut

Chat Bersama Pencipta “Facebook” Muslim Indonesia

Chat Bersama Pencipta “Facebook” Muslim Indonesia

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya di media, seorang putra kelahiran Riau berhasil menciptakan situs jejaring ala “Facebook” muslim Indonesia dengan mengusung nama CMnet (cybermoslem.net). Dolla Indra, demikian nama pemuda umur 25 tahun pencipta “Facebook” muslim ini mengutarakan, awal pembuatan CMnet hanya karena iseng akibat kejenuhan terhadap situs jejaring sosial facebook.
Sabtu lalu (14/08/10), aku berkesempatan mewawancarai sang
creator via YM, Dolla Indra. Berikut wawancara singkatku (AQ) dengan Dolla Indra (DI). Baca lebih lanjut

Benarkah “Setengah Isi” Lebih Baik Dari “Setengah Kosong”?

gelas

gelas

Dalam berbagai pelatihan dan acara-acara training, seringkali digambarkan oleh sang trainer tentang Gelas yang terisi air setangahnya. Beberapa orang diminta berpendapat tentang apa yang mereka lihat atas objek yang berada di depannya itu (gelas berisi setangah air_pen). Dan jawaban yang dianggap paling benar dan tepat serta dinilai ber aura positif adalah jawaban “Setengah Isi”.

Jawaban “Setengah Isi” sering dibaca sebagai jawaban yang memfokuskan pada “ketidakadaan” bukan fokus terhadap “yang ada” yang akan membuat kita memiliki rasa bersyukur. Orang yang menjawab “Setangah Isi” dianggap lebih memiliki sikap optimisme, sementara orang yang menjawab “Setengahnya Kosong” seringkali dianggap memiliki sikap pesimisme dan hal negatif lain.

Kalau persepsi jawaban atas objek “gelas yang terisi air setangahnya” tersebut dilihat dari sudut pandang seperti di atas saja barangkali tidak terlampau salah memang.

Namun ada sudut pandang, persepsi, serta alasan lain yang jauh lebih luas dari sudut pandang di atas. Persepsi itu tentunya dikembalikan kepada masing-masing orang yang memilih jawabannya. Dan jawaban itu sangat mungkin hanya bisa diketahui oleh yang menjawabnya saja. Singkatnya, aku memiliki pandangan bahwa jawaban “setengah kosong” juga memiliki makna kebenaran dan nilai positif bahkan spiritual yang tinggi. Baca lebih lanjut

[Biografi Orang Biasa] Sairun

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Tingginya berkisar 160 centimeter. Rambut di kepalanya hampir keseluruhan beruban menandakan dirinya telah berusia tua. Kumis yang memutih menghias diantara sela bibir dan hidungnya. Berperawakan sedang, orang ini menaiki motor xxx yang sudah butut setiap harinya ke kantor tempatnya bekerja.

Sebenarnya, ia sudah memperoleh MBT, masa bebas tugas. Namun karena perusahaan tempatnya bekerja masih membutuhkan tenaganya karena prestasinya selama mengabdi untuk perusahaan, maka ia masih memperoleh kesempatan bekerja dengan status pegawai kontrak pendek.

Lika-liku kehidupan pria ini menarik untuk kita jadikan sebagai sebuah pelajaran. Terlahir pada tahun 1952, orangtuanya memberi nama Sairun. Ia tidak tahu apa arti nama Sairun. Terlahir sebagai anak seorang yang bukan keluarga berkantong tebal, ia tidak bisa menghabiskan masa kecilnya dengan bermain-main.

Kampung halamannya di Tegal tidak terlalu memberikan memori yang menyenangkan untuk dikenang karena sejak bangku Sekolah Dasar, ia sudah harus belajar bekerja. Berjualan koran atau berjualan barang-barang tertentu yang bisa memperoleh uang akan dilakukannya. Baca lebih lanjut

Pilih Mana antara HASIL dan PROSES ???

Lebih penting manakah antara HASIL dan PROSES ???

Beberapa orang mungkin menjawab hasil sementara beberapa orang lainnya akan menjawab sebaliknya, PROSES. Manakah yang lebih tepat? Anda bebas untuk memilihnya. Namun, kali ini izinkan aku untuk sedikit bercerita tentang sebuah kisah antara seorang Ayah dengan anaknya.

Alkisah, ada seorang profesor doktor (Prof. Dr.) yang cukup ternama dan diakui kapabilitasnya di bidang akademisi serta beberapa kalangan. Beliau masih berusia cukup muda dan memiliki seorang istri yang juga bekerja sebagai seorang akademisi dan mengajar di sebuah universitas. Istrinya pun juga seorang yang smart dan cukup sibuk di institusinya. Hampir sepanjang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk “pengabdian” kepada keilmuan dan akademik.

Pasangan dosen tersebut memiliki seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Sayangnya, mungkin dikarenakan alasan kesibukan kedua orangtuanya, sang buah hati ini memiliki kelemahan di bidang matematika. Ia selalu kesulitan untuk bertanya kepada orangtuanya jika memperoleh PR Matematika karena PR dari sekolah lebih sering dikerjakan oleh orangtuanya. Orangtuanya kesulitan untuk menyempatkan waktu mengajari buah hatinya bagaimana menjelaskan sebuah proses perhitungan matematika sehingga sang anak seringkali hanya mengetahui hasil sebuah soal. Orangtuanya terlalu mempercayakan proses belajar anaknya tersebut kepada sekolah si buah hati. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: