Ketangkasan Orang Madura

madura-angkat-di-kepalaSaya kagum dengan kemampuan orang-orang Madura seperti pada foto ini. Mereka bisa mengusung berbagai macam barang di atas kepala sambil berjalan biasa. Saya kira kearifan lokal seperti ini pasti diwariskan tiap generasi, dilatih terus menerus, dan dibiasakan dalam kehidupan sehari. Baca lebih lanjut

Iklan

Kok Bisa Sih, Orang Madura Bisa Bawa Barang Di Atas Kepala?

Bingung mau nulis apa, aku keinget kejadian beberapa pekan silam saat berangkat ke kantor. Kala itu aku ngelihat ada seorang mbak-mbak atau ibu-ibu yang bawa sebuah barang bawaan. Yang bikin menarik, ia tidak tenteng barang itu dengan tangan namun ia taruh di atas kepala begitu saja sambil lenggang kangkung begitu saja.

“Kok bisa ya?” kataku dalam hati. Terbesitlah ide untuk memotretnya. Dan hasilnya bisa dilihat di samping. Kalau kurang jelas atawa agak kabur ya mohon maaf karena aku pakai kamera HP aja yang resolusi rendah. Makanya, kasihlah donasi ke gue biar bisa beli kamera digital yang bisa bidik gambar-gambar dengan jelas. 🙂 dan selanjutnya bisa berbagi info dengan kawan-kawan semua.

Kurasa ga perlu tak jelasin siapa ibu itu karena aku ga sempet kenalan. Yang pasti anda pasti sudah tahu orang apa yang bisa dan punya bakat seperti itu. Yup, betul sekali! Orang Madura.

Heran aku sama orang Madura (kebanyakan), kenapa suka sekali membawa barang dengan cara ditaruh di atas kepala. Take a look at para pedagang sate keliling yang dijual ibu-ibu orang Madura. Kalau di Solo (dan aku yakin di kota-kota lain pun juga pasti ada) rata-rata mengusung ‘perlengkapan perang’ yang penuh dagangan satenya di atas kepala. Sementara tangannya membawa kompor / angklung (setelah dikoreksi oleh Yusri Iin, yg bener ANGLO) yang dipakai untuk tempat membakar sate. Pertanyaanku,”kok bisa ya?”

Berbicara mengenai orang Madura, dalam banyak hal yang tergambar di sebagian benak masyarakat adalah sebuah suku yang memiliki “prototype” (emange motor) dan “stereotype” kasar, gampang naik darah, jorok, dan prasangka-prasangka buruk lainnya.

Terkadang, prasangka-prasangka itu di satu sisi memang seolah-olah terasa benar. Apalagi jika melihat kebanyakan profesi yang dijalani kebanyakan orang Madura adalah profesi-profesi yang oleh sebagian masyarakat dianggap “rendahan” dan sarat kehidupan “kasar”. Bahkan ketika orang etnis atau suku lain sama sekali tidak bersedia mengambil profesi “rendah” itu, mungkin hanya orang Madura yang siap mengembangkan profesi itu. Sebagai contoh, profesi “pemulung”.

Banyaknya para “pemulung” dari suku Madura yang membangun sebuah profesi yang dianggap ‘rendah” itu ternyata memberikan berkah kepada mereka. Berkahnya, banyak orang Madura yang kini menjadi juragan pengumpul besi tua dan kapal-kapal karam. Hingga salah-salahnya, banyak tuduhan dialamatkan kepada mereka ketika diisukan banyak hilangnya baut-baut di jembatan Suramadu. Padahal, ternyata setelah ditelusur, yang hilang bukan baut yang menempel di jembatan besi namun besi yang tersisa yang dionggrokkan begitu saja selepas proyek selesai.

Beberapa hal itulah yang membuat stigma terhadap orang Madura selalu buruk, minimal kebanyakan dianggap buruk. Apakah benar bahwa orang Madura gampang naik pitam dan mudah mengangkat kelewang serta clurit kepada orang yang membuatnya merah padam? Dulu waktu SD, banyak temen-temenku yang berasal dari suku Madura. Rata-rata mereka tidaklah seperti yang dianggap oleh masyarakat itu. Bahkan, kini seorang tokoh Madura berhasil menjadi tokoh yang terkenal di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Mahfudz MD, Ketua MK. Agaknya, perlu kusampaikan juga beberapa poin catatan tentang orang Madura yang dibuat oleh seorang kawan bernama Ary Amhir berdasarkan ‘penelitian’ dan ‘observasinya’ langsung di pulau garam Madura.

Berikut beberapa poin kesimpulan yang kupersingkat: Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: