Aku, Anak Seorang Mulia

Sumber Gambar di Klik Saja !

Sumber Gambar di Klik Saja !

Aku, Anak Seorang Mulia

Suatu saat di sebuah forum pertemuan terbuka terlibatlah banyak orang dalam sebuah diskusi membicarakan tentang siapa yang harus dipilih sebagai pimpinan di forum tersebut. Muncullah kemudian seorang pemuda berpakaian rapi dan necis dengan rambut klimis. ”Hei kalian. Aku adalah anak seorang pejabat negeri ini. Aku anak seorang yang mulia di negeri ini. Aku lah yang seharusnya memimpin kalian. Apa ada yang menolakku?”

Mendengar perkataan si pemuda necis, membuat pemuda necis lainnya ikut naik bicara lantang, “Aku anak seorang panglima perang negeri ini yang menjadikan negeri ini menjadi merdeka. Lebih mulia mana ayahmu dengan ayahku? Akulah yang lebih layak memimpin!” kata si pemuda itu.

Suasana kemudian sunyi senyap beberapa detik sampai kemudian ada suara lantang berbicara dari sudut depan. “Lebih mulia aku,” ucap orang tersebut yang ternyata seorang pemuda tampan. “Aku anak seorang presiden di negeri ini. Orang yang paling besar dan mulia dan berkuasa di negeri ini. Apa ada yang lebih mulia dari aku? Sudah semestinyalah aku yang menjadi pimpinan,” ucapnya lantang. Baca lebih lanjut

Sumpah Pemuda: Wahai Pemuda, Nyalakan Semangatmu !!

 

Sekitar 82 tahun lampau, ratusan pemuda dari beraneka latar belakang suku, dan daerah berkumpul di sebuah bangunan di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat, sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. Pada rapat penutup di c di Jalan Kramat Raya 106 itu, para pemuda yang hadir mengucapkan suatu Sumpah Setia yang dikemudian hari dikenal dengan Sumpah Pemuda.

 

Sumpah Setia itu merupakan hasil rumusan Kongres Pemuda Kedua yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres Pemuda Kedua itu konon merupakan respon dan reaksi para pemuda atas Kongres Pertama di tahun 1926.

 

Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa ormas pemuda memboikot kongres tahun 1926 karena ditumpangi kepentingan Zionis atau Freemasonry dan Belanda. Lokasi Konggres Pertama yang berada di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg dan peran Theosofische Vereeniging (TV) sebagai penyandang dana Kongres Pemuda I (1926) itulah yang kemudian menjadikan para pemuda memboikot kongres (lihat: Jejak Sejarah Yahudi di Indonesia, Ridwan Saidi). Isi Sumpah Pemuda versi orisinal tersebut adalah

[1]:

Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Demikian isi Sumpah Pemuda yang merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, yang dibacakan pada 28 Oktober 1928. Selanjutnya, tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: