Dua Jam Kutoarjo-Yogya-Solo Bikin Badanku Lebih Sehat

Prameks

Prameks

Dua  Jam Kutoarjo-Yogya-Solo Bikin Badanku Lebih Sehat

Pulang ke Solo kali ini, aku tidak terlampau antusias sebagaimana pulang ke Solo sebelum-sebelumnya.  Alasan pertama dikarenakan sebelum pulang, aku tengah dalam posisi pusing, radang tenggorok, dan sedikit mual serta demam ringan. Alasan kedua, kawan-kawan dan sahabat-sahabatku dekat  yang tersisa di Solo hanya tinggal seorang, KangmasBoy. Namun, karena masih ada sedikit keperluan di Solo yang tidak perlu kujelaskan di sini, maka –mau ga mau- aku mesti harus pulang ke Solo. Disamping karena alasan tiket sudah terlanjur dibeli sebulan sebelumnya.

Sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Kutoarjo, badanku terasa meriang menahan demam. Kepalaku pusing dan tenggorokanku pun masih terasa perih. Dengan kondisi itu, aku memutuskan untuk segera tidur di atas lantai gerbong kereta di bawah kursi penumpang setelah kugelar tikar sebagai alasnya sejak dari Stasiun Jatinegara. Aku tak terlalu memperhatikan sepanjang perjalananku. Aku hanya berkeinginan segera bisa memejamkan mata dan istirahat serta berharap keesokan harinya badanku sudah cukup sehat untuk beraktivitas. Baca lebih lanjut

Kondisi Kereta Tak Jauh Lebih Baik Dari Tong Sampah

Sampah di Gerbong Penumpang Kereta Api

Sampah di Gerbong Penumpang Kereta Api

Dunia perkereta-apian telah menjadi bagian hidup sebagian masyarakat di Jawa secara umum, terlebih bagi yang merantau sehingga terpisah dengan keluarganya yang dengan berbagai macam alasan harus tetap berada di kampung halamannya. Setiap pekan sekali, bagi beberapa orang yang merantau di Jakarta harus selalu rutin bolak balik ke kota-kota tempat tinggal keluarga mereka. Tak heran jika setiap pekannya sarana-sarana transportasi dipenuhi dengan ribuan penumpang yang mengantarkan ke kota-kota seperti Purwokerto, Kutoarjo, Tegal, Semarang, Yogyakarta, Solo, Madiun, Kediri, dan beberapa kota lainnya. Tak salah jika keberadaan kereta api telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan bagi sebagian orang tersebut.

Sementara aku, meskipun tidak seintensif beberapa kawan yang setiap pekannya bolak-balik Jakarta – kota asalnya, namun selama ini aku rutin pulang ke kota asalku selama-lamanya 2 bulan sekali. Transportasi yang menjadi andalanku pun sama dengan beberapa kawan di atas, Kereta Api.

Pertama kali aku naik kereta api, yang kubayangkan adalah sebuah ruang gerbong yang berisi para penumpang yang duduk di atas tempat duduk yang telah disediakan. Aku tidak membayangkan adanya banyak orang yang duduk di jalan (koridor) diantara dua sisi tempat duduk gerbong kereta api. Baca lebih lanjut

Saat Aku di Atas Gerbong Kereta

Ilustrasi Suasana Gerbong Kereta Penumpang

Ilustrasi Suasana Gerbong Kereta Penumpang

Saat aku memposting tulisan ini, dan saudara membacanya sebelum 9 jam sejak waktu penerbitannya, aku sedang berada di dalam perjalanan malam menggunakan kereta api pulang kampung dari Jakarta menuju kota halamanku, Solo. Aku berada di gerbong nomor 4 Senja Utama Solo dengan nomor tepat duduk 1 A. Di sampingku, ada seorang kawan kuliah bernama Saputro Kesit yang berada di kursi tempat duduk no 1 B.

Kereta api merupakan media transportasi favoritku pulang kampung hingga saat ini dari Jakarta, kendatipun jika aku ditanya soal kenyamanannya, aku lebih memilih menggunakan bus AC atau Eksekutif. Rata-rata kereta api jarak jauh kelas bisnis dan ekonomi di pulau Jawa memang sangat terkesan kotor dan kumuh. Namun, pilihanku menggunakan kereta api sebenarnya lebih disebabkan karena faktor ketepatan dan kecepatan waktu tempuhnya saja yang lebih dapat diandalkan dibanding dengan menggunakan transportasi bus malam. Namun jika berbicara kenyamanannya, BUS MALAM merupakan pilihan yang lebih pas. Baca lebih lanjut

Gimana Sih, Pengumuman Stasiun Kok Ga Bener?

Tanggal 29 Desember 2010 kemaren, tepat hari Jumat sore, aku ceritane berniat mau ke Bandung naik kereta api. Karena Kantorku lebih deket ke Gambir, segera saja setelah pukul 16.00 WIB yang pertanda bagi jam pulang kantor, aku melangkah berjalan menuju Stasiun Gambir. Dari kantor, Stasiun Gambir bisa ditempuh dengan perjalanan 15-20 menit dengan berjalan kaki. Jika menggunakan Bus Kopaja atau jasa Ojek atau Bajaj, mungkin bisa lebih cepat tentunya dengan mengeluarkan beberapa ribu rupiah.

Rencana semula, aku berniat naik Kereta Parahyangan Bisnis yang berangkat pukul 16.30 WIB karena menurut informasi sebelumnya dari petugas tiket, jadwal itu merupakan jadwal terakhir hari itu. Sedikit mempercepat langkah, akhirnya aku sampai di stasiun sekitar pukul 16.15 WIB. Sesampainya di depan loket pembelian tiket, aku dibuat kaget dan terhenyak sedikit terheran. Di jendela kaca loket terpampang pengumuman kecil bertuliskan “TIKET TEMPAT DUDUK & BERDIRI KA PARAHYANGAN TELAH HABIS”. Baru kali ini aku membaca adanya tiket tanpa nomor tempat duduk atau tiket berdiri yang bisa-bisanya habis terjual. “Weleh…weleh… kok bisa sih?” batinku.

Untungnya, meskipun tiket KA Parahyangan yang berangkat pukul 16.30 WIB tersebut telah habis terjual, pihak Stasiun membuka keberangkatan kereta Parahyangan pukul 18.30 WIB. Menunggu waktu selama hampir dua jam kumanfaatkan untuk potret-potret suasana sekitar stasiun. Hasilnya lumayan.

Salah satunya adalah foto di atas samping. Apa yang menarik? Di dalam jadwal yang tertera dan terpampang di loket pembelian tiket disebutkan perihal jadwal keberangkatan kereta Parahyangan. Diantaranya menyebut waktu pukul 16.30 WIB dan 20.30 WIB. Anehnya, ketika ditanyakan oleh para penumpang seputar keberangkatan kereta pukul 20.30 WIB, petugas loket mengatakan tidak ada jadwal pemberangkatan KA Parahyangan untuk waktu pukul 20.30 WIB. Namun, ia menyebutkan bahwa setelah keberangkatan pukul 16.30 WIB, KA Parahyangan akan diberangkatkan lagi pada pukul 18.30 WIB dari Gambir. Pemberangkatan itu sekaligus merupakan pemberangkatan terakhir untuk hari itu. Baca lebih lanjut

Cikal Bakal Kereta Prameks (2-habis)

Kereta Prambanan Ekspress merupakan nama kereta yang sudah pasti banyak dikenal warga Solo, Yogkarta dan sekitarnya. Terlebih lagi bagi para komuter yang bertempat tinggal diantara Solo dan Yoyakarta. Jika Jabotabek a.k.a Jawa Bloon Tapi Beken (kata orang 😀 ) – maksudnya Jakarta Bogor Tangerang Bekasi (Tambah Depok), punya kebanggaan dengan Kereta Rel Listril (KRL), maka Solo-Jogja punya Prameks, moda transportasi kereta api yang secara rutin mengantar puluhan ribu penumpang setiap harinya bolak balik Solo-Jogja dan kini bertambah Kutoarjo. Saat ini Prameks beroperasi sepuluh kali pulang pergi dan dikelola oleh PT Kereta Api Daerah Operasi VI Yogyakarta.

Di tengah kebanggaan warga komuter Solo-Jogja, ada yang sedikit terlupakan dari sisi lain Prameks. Bagi ‘pengamat sejarah perkeretaapian komuter Solo-Jogja’, kelahiran Prameks sebenarnya telah melalui proses perjalanan panjang. Prambanan Ekspres bukanlah kereta komuter pertama yang melayani jalur Jogja dan Solo. Jika ditelisik jauh ke tahun 60-an dan 70-an ada kereta yang bernama Kuda Putih (lihat foto di atas), kereta yang menjadi cikal bakal kelahiran Prameks. Bagi para generasi cut bray dan penikmat musik ngek-ngok, serta orang-orang tua kita yang pernah tinggal di Jogja dan Solo mungkin tidak merasa asing dengan nama ini. Telisik dan telusuk, diketahui bahwa Kereta Rel Diesel (KRD) Kuda Putih adalah Kereta Rel Diesel pertama yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.

Dibuat di Jerman oleh Ferrostaal pada pertengahan 1960-an dengan menggunakan mesin General Motor, KRD ini dianugerahi nama-nama tokoh Pandawa Lima. Pada masa jayanya, Kuda Putih merupakan favorit bagi para penumpang untuk menempuh Jogja dan Solo. Namun Kuda Putih yang perkasa harus mati muda. Pada pertengahan 1970-an beberapa di antaranya mulai rusak karena tidak adanya suku cadang. Bahkan di sebuah foto yang diambil oleh railfan Inggris, Malcolm Wilton-Jones, pada tanggal 23 Oktober 1976 di stasiun Tugu ada sepasang Kuda Putih yang harus ditarik oleh lokomotif BB200. Seiring bertambahnya waktu, Kuda Putih pun mati perlahan-lahan. Kereta tersebut bernama “Kuda Putih” dikarenakan adanya logo bergambar kuda di bagian atas jendela masinisnya. Setelah Kuda Putih tidak aktif (dihentikan pada tahun 1980-an), tidak ada lagi kereta api komuter yang menghubungkan kedua kota itu. 😦 Baca lebih lanjut

Setengah Jam di Atas Kereta Ekspress Bekasi-Gondangdia

Setengah Jam di Atas Kereta Ekspress Bekasi-Gondangdia;

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dari Solo dan melelahkan karena kemacetan jalan serta menegangkan karena menyerempet mobil orang, singkat cerita aku nyampai Cibitung dan turun dari mobil kawan, di depan sebuah masjid yang kulupa namanya, sekitar pukul 05.30. Dengan langkah agak gontai dan sisa kantuk yang membayangi kulangkahkan kaki menuju tempat wudhu. Tas punggung yang berisi laptop Lenovo, beberapa helai pakaian dan sepatu serta pernak-pernik lain sebenarnya memberikan pesan agar aku kembali tidur lagi. Perasaan itu mau ga mau harus kulawan. Kudahulukan kaki kiri ku memasuki ruangan kecil bertuliskan WC segera kulepaskan racun-racun yang ada di tubuh dalam bentuk urine. Lega rasanya.. Segera kuambil air wudhu, dan memasuki ruangan masjid yang temboknya bercat putih bersih. Kuletakkan tas punggung yang cukup berat di depan tempat sujudku. Sholat jamaah telah beberapa menit sebelumnya usai. Aku gerakkan tanganku ke atas sejajar dengan telinga sambil mengucap takbir sendirian.

Selesai salam, kusaksikan jarum jam telah menunjukkan waktu pukul 05.45, tak ada kata lain bahwa aku harus segera meninggalkan masjid dan menyeberang jalan serta menyetop sebuah angkutan ELF yang bisa mengantarkanku ke Masjid Al Barkah Bekasi. Tak sampai 2 menit menunggu, angkot ELF dengan trayek Bekasi-Cikarang berhenti di depanku. Akulah penumpang pertamanya. Terkesan juga menjadi penglaris bagi pak Sopir yang kurasa orang Batak dari logat bicaranya. Berturut-turut, naiklah penumpang kedua, ketiga, hingga aku lupa berapa orang yang telah masuk ke dalam angkot ELF. Badanku masih terasa menggigil kedinginan meskipun telah kubungkus dengan jaket. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: