Peci dan kepala

Peci dan kepala

Suatu saat, ada seorang santri pesantren yang melihat peci putih yang dikenakannya terasa sempit. Ia coba beberapa kali, pecinya masih saja terasa sempit saat dikenakan. Akhirnya, tanpa pikir panjang, santri pesantren tersebut pun segera berangkat ke pasar. Ia pergi ke pasar untuk membeli peci baru yang pas dikenakan di kepalanya. Apa yang dilakukan oleh santri pesantren itu tentu saja benar. Ia memutuskan membeli peci baru untuk menggantikan peci lama yang dimilikinya karena sudah terasa sesak saat dikenakan. Akan kelihatan bodoh jika si santri justru mengecilkan kepalanya agar peci yang dikenakannya pas saat dipakai. Bukankah demikian? Baca lebih lanjut

Kado Kesedihan Yang Hinggap Di Setiap Lebaran

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Seharusnya, lebaran menjadi hari yang membahagiakan. Namun realitanya, tidak setiap orang merasakan kebahagiaan secara personal. Di tengah-tengah kebahagiaan merampungkan puasa Romadhon selama 1 bulan dan keindahan berkumpul bersama keluarga serta kenikmatan memetik hasil ‘pembakaran’ menjadi pribadi yang bertakwa, ada saja beberapa kisah kesedihan yang menjadi kado tak diharapkan oleh beberapa orang. Kisah tabrakan saat mudik misalnya, menjadi sebuah contoh kado yang tak pernah diharapkan oleh siapapun juga. Dan siapapun juga pasti tidak mau menerima kado kesedihan apapun bentuknya apalagi di hari yang istimewa. Namun hal itu terjadi pada seorang kawan, sebutlah namanya Rizal.

Selama tiga tahun terakhir,  Rizal selalu saja menerima sebuah kado kesedihan di tengah-tengah kebahagiaan di hari lebaran. Apakah sebuah kebetulan semata atau sebuah pelajaran yang seharusnya Rizal petik. Yang lebih membuat heran, kesedihan Rizal selalu berhubungan dengan urusan hati. Baca lebih lanjut

Semua Hanya Wang Sinawang….

Wang Sinawang

Wang Sinawang

Pada sebuah kesempatan kumpul bareng. Taufik, Arief, Wawan dan Bayu (bukan nama sebenarnya) terlibat obrolan santai seputar keadaan mereka dengan masing-masing aktivitas keseharian mereka.

“Enak ya kamu…, gaji lumayan besar. Status tetap. Sudah dapat remunerasi. Tunjangan masih dapat macam-macam. Belum uang plus-plus yang lain yang bisa diperoleh..”, ujar si Taufik, pegawai honorer sebuah perusahaan swasta kepada Arief yang bekerja di Kantor Pajak.

“Ah, nggak juga. Kamu lebih enak. Kerjanya tidak terlalu bersinggungan dengan hal yang syubhat. Bersih dan barokah. Santai dan masih bisa kemana-mana. Masih berada di pulau Jawa. Dekat dengan orang-orang yang dicinta. Sementara aku harus berada di luar Jawa dan berada di daerah yang jauh dari aktivitas perkotaan.” Jawab Arief.

“Tapi, kalau dipikir-pikir, paling enak dan beruntung itu Wawan. Lulus kuliah langsung bekerja dicarikan orangtua. Tidak perlu susah-susah mencari. Orangtua mu sudah cukup lebih dari kaya. Mobil sudah dibelikan. Motor disediakan. Rumah dibuatkan. Posisi sangat dekat dan tinggal sekota bahkan serumah dengan keluarga di Solo. Masuk pagi biasa pulang kantor sore hari. Kalau malam masih bisa angkringan. Betapa nyamannya ya Wan.” Ujar Bayu memotong pembicaraan antara Taufik dan Arief sekaligus mengungkapkan pendapatnya yang beda dengan keduanya.

“Wah, kalau dilihat dari luar sih memang begitu Bay. Seolah-olah aku ini di mata kalian memang enak. Semuanya serba disiapkan orangtua. Tapi hatiku merasa tidak nyaman bro. Apapun itu, kerja dengan melalui proses nepotisme itu tetaplah tidak mengenakkan ghati dan selalu bertentangan dengan hati nurani. Apalagi perusahaan itu bukanlah perusahaan keluargaku sendiri. Selain itu, justru dengan banyaknya bantuan orangtuaku membuat hidupku ini seolah tidak pernah bisa lepas dari kebebasan. Aku cenderung didikte mereka. Mau gini tidak boleh, gitu tidak boleh. Aku tidak menjadi diri sendiri. Bahkan di usiaku yang sudah mau menginjak umur 30 tahun ini pun aku belum memperoleh sinyal perizinan untuk menikahi seorang wanita. Sementara kalian khan sudah menikah dan menikmati keluarga. Apapun itu, yang enak hidup dengan kebebasan tanpa ada paksaan bro. Kebebasan yang biasa saja lah sudah cukup. Aku bisa menjadi diriku sendiri bukan menjadi wayang bagi kedua orangtuaku.” Jawab Wawan, merespon pendapat Taufik.

“Paling enak justru kamu Bay. Hidup bebas. Kerja tidak di bawah tekanan siapapun. Mau berangkat jam 7 bisa, jam 9 pun tidak apa-apa. Kebebasan kamu itu sebenarnya justru merupakan hal yang paling indah Bay. Jika aku, Taufik, dan Arief harus bekerja dengan durasi waktu rutin begitu-begitu saja dan masih sering kena marah atasan. Kalau kamu khan bebas. Kamu-lah yang mungkin justru memarahi anak buah kamu. Masalah uang juga, kamu memperoleh penghasilan yang tidak sedikit dari usahamu. Setiap hari bisa nongkrong di Angkringan. Mau mencari pacar atau calon istri punya keleluasaan akses. Kamulah yang beruntung Bay.” Tambah Wawan mengungkapkan pendapatnya tentang Bayu, yang memiliki sebuah usaha sendiri.

***

Diskusi di atas adalah sebuah diskusi biasa yang sering kulihat dan kusaksikan serta kualami pada obrolan-obrolan antar teman atau sahabat yang memiliki aktivitas keseharian yang berbeda-beda yang biasanya muncul saat pertemuan bersama atau reuni (kecil-kecilan atau besar-besaran). Baca lebih lanjut

Kisah Ayahku dengan “Wanita” Misterius Bercadar Hitam

Kisah ini diceritakan oleh kedua orang tuaku, sepulang beliau bedua dari tanah suci. Sak swijining dino (Pada suatu hari / once upon time ), ayah dan ibuku bersama-sama hendak melempar jumrah. Sesampai di lokasi, kedua orang tuaku melempari sebuah bangunan dengan kerikil-kerikil yang telah disiapkan sebelumnya dalam sebuah kantung.

Saat tengah melempari jumrah, tiba-tiba ada seseorang mendekap erat dan memeluk “mesra” ayahku. Tangan yang satu memegang pundak kanan ayahku, sementara tangan yang satunya lagi memegang erat pinggang kiri ayahku. Seseorang itu mengenakan pakaian dan jilbab serba hitam. Ia pun mengenakan cadar hitam. Dari atas hingga ke bawah, semuanya tertutup rapat dengan pakaian hitam. Entah ayahku keenakan (hehehehe, sory Dead…:) ) atau tidak tahu harus berbuat apa entah kaget semu bingung, ayahku hanya diam terbisu. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: