Kado Kesedihan Yang Hinggap Di Setiap Lebaran

Sumber Klik Saja Pada Gambar

Seharusnya, lebaran menjadi hari yang membahagiakan. Namun realitanya, tidak setiap orang merasakan kebahagiaan secara personal. Di tengah-tengah kebahagiaan merampungkan puasa Romadhon selama 1 bulan dan keindahan berkumpul bersama keluarga serta kenikmatan memetik hasil ‘pembakaran’ menjadi pribadi yang bertakwa, ada saja beberapa kisah kesedihan yang menjadi kado tak diharapkan oleh beberapa orang. Kisah tabrakan saat mudik misalnya, menjadi sebuah contoh kado yang tak pernah diharapkan oleh siapapun juga. Dan siapapun juga pasti tidak mau menerima kado kesedihan apapun bentuknya apalagi di hari yang istimewa. Namun hal itu terjadi pada seorang kawan, sebutlah namanya Rizal.

Selama tiga tahun terakhir,  Rizal selalu saja menerima sebuah kado kesedihan di tengah-tengah kebahagiaan di hari lebaran. Apakah sebuah kebetulan semata atau sebuah pelajaran yang seharusnya Rizal petik. Yang lebih membuat heran, kesedihan Rizal selalu berhubungan dengan urusan hati. Baca lebih lanjut

Semua Hanya Wang Sinawang….

Wang Sinawang

Wang Sinawang

Pada sebuah kesempatan kumpul bareng. Taufik, Arief, Wawan dan Bayu (bukan nama sebenarnya) terlibat obrolan santai seputar keadaan mereka dengan masing-masing aktivitas keseharian mereka.

“Enak ya kamu…, gaji lumayan besar. Status tetap. Sudah dapat remunerasi. Tunjangan masih dapat macam-macam. Belum uang plus-plus yang lain yang bisa diperoleh..”, ujar si Taufik, pegawai honorer sebuah perusahaan swasta kepada Arief yang bekerja di Kantor Pajak.

“Ah, nggak juga. Kamu lebih enak. Kerjanya tidak terlalu bersinggungan dengan hal yang syubhat. Bersih dan barokah. Santai dan masih bisa kemana-mana. Masih berada di pulau Jawa. Dekat dengan orang-orang yang dicinta. Sementara aku harus berada di luar Jawa dan berada di daerah yang jauh dari aktivitas perkotaan.” Jawab Arief.

“Tapi, kalau dipikir-pikir, paling enak dan beruntung itu Wawan. Lulus kuliah langsung bekerja dicarikan orangtua. Tidak perlu susah-susah mencari. Orangtua mu sudah cukup lebih dari kaya. Mobil sudah dibelikan. Motor disediakan. Rumah dibuatkan. Posisi sangat dekat dan tinggal sekota bahkan serumah dengan keluarga di Solo. Masuk pagi biasa pulang kantor sore hari. Kalau malam masih bisa angkringan. Betapa nyamannya ya Wan.” Ujar Bayu memotong pembicaraan antara Taufik dan Arief sekaligus mengungkapkan pendapatnya yang beda dengan keduanya.

“Wah, kalau dilihat dari luar sih memang begitu Bay. Seolah-olah aku ini di mata kalian memang enak. Semuanya serba disiapkan orangtua. Tapi hatiku merasa tidak nyaman bro. Apapun itu, kerja dengan melalui proses nepotisme itu tetaplah tidak mengenakkan ghati dan selalu bertentangan dengan hati nurani. Apalagi perusahaan itu bukanlah perusahaan keluargaku sendiri. Selain itu, justru dengan banyaknya bantuan orangtuaku membuat hidupku ini seolah tidak pernah bisa lepas dari kebebasan. Aku cenderung didikte mereka. Mau gini tidak boleh, gitu tidak boleh. Aku tidak menjadi diri sendiri. Bahkan di usiaku yang sudah mau menginjak umur 30 tahun ini pun aku belum memperoleh sinyal perizinan untuk menikahi seorang wanita. Sementara kalian khan sudah menikah dan menikmati keluarga. Apapun itu, yang enak hidup dengan kebebasan tanpa ada paksaan bro. Kebebasan yang biasa saja lah sudah cukup. Aku bisa menjadi diriku sendiri bukan menjadi wayang bagi kedua orangtuaku.” Jawab Wawan, merespon pendapat Taufik.

“Paling enak justru kamu Bay. Hidup bebas. Kerja tidak di bawah tekanan siapapun. Mau berangkat jam 7 bisa, jam 9 pun tidak apa-apa. Kebebasan kamu itu sebenarnya justru merupakan hal yang paling indah Bay. Jika aku, Taufik, dan Arief harus bekerja dengan durasi waktu rutin begitu-begitu saja dan masih sering kena marah atasan. Kalau kamu khan bebas. Kamu-lah yang mungkin justru memarahi anak buah kamu. Masalah uang juga, kamu memperoleh penghasilan yang tidak sedikit dari usahamu. Setiap hari bisa nongkrong di Angkringan. Mau mencari pacar atau calon istri punya keleluasaan akses. Kamulah yang beruntung Bay.” Tambah Wawan mengungkapkan pendapatnya tentang Bayu, yang memiliki sebuah usaha sendiri.

***

Diskusi di atas adalah sebuah diskusi biasa yang sering kulihat dan kusaksikan serta kualami pada obrolan-obrolan antar teman atau sahabat yang memiliki aktivitas keseharian yang berbeda-beda yang biasanya muncul saat pertemuan bersama atau reuni (kecil-kecilan atau besar-besaran). Baca lebih lanjut

Abdurrahman al Ghafiqi – Tombak Jihad Yang Terhunus

Kesyahidannya Membuat Mujahidin Berduka, Kafir Dzimmi pun Kehilangan

Ketika Umar bin Abdul Aziz mengemban amanah sebagai khalifah, orang pertama yang diangkat menjadi gubernur adalah Samh bin Malik al Khaulani. Gubernur Samh dipercaya untuk menangani berbagai daerah wilayah kekuasaan khalifah Islam yang sebagiannya mencakup wilayah Prancis saat ini.

Gubernur Samh tergolong seorang gubernur / pemimpin yang bijak dan adil. Ketika pertama kali dilantik sebagai gubernur maka ia mencari ulama pemuka kaum muslimin dari kalangan tabi’in yang masih hidup. Hingga kemudian bertemulah ia dengan seorang tabi’in bernama Abdurrahman al Ghafiqi. Dikarenakan kesalehan, kecerdasan, dan keberanian al Ghafiqi, Gubernur Samh pun menawarinya sebuah jabatan untuk menangani wilayah Andalusia (Spanyol).

Tawaran manis itu dijawab dengan jawaban yang sopan oleh al Ghafiqi, “Wahai gubernur, Aku hanyalah orang biasa, seperti yang lain. Aku datang ke daerah ini hanya untuk mengetahui batas-batas daerah kaum muslimin dan batas-batas daerah musuh mereka. Aku hanya meniatkan diriku untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Insya Allah, gubernur akan mendapatiku selalu mengikuti engkau selama engkau menegakkan kebenaran. Aku akan selalu mengikuti perintah, selama engkau taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya, walaupun aku tidak diberi kekuasaan dan perintah.” Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: