Bahagia Itu Bersama Keluarga

Me, my wife, and my daughter

Me, my wife, and my daughter

*BAHAGIA ITU BERSAMA KELUARGA* Baca lebih lanjut

Pohon Gundul diantara Pohon Subur

Pohon Gundul Diantara Subur

Pohon Gundul Diantara Subur

Pohon Gundul diantara Pohon Subur

Ada satu pemandangan unik di taman makam pahlawan (TMP) Bandung. Yaitu satu pemandangan pohon yang gundul dan sama sekali tidak memiliki daun tegak berdiri diantara puluhan pepohonan lainnya yang masih segar bermahkota daun hijau yang rindang.

Kalau kuibaratkan, pohon gundul ini seperti anak tiri yang berada di tengah keluarga besar namun tak dianggap sebagai bagian dari keluarga besarnya. Bahkan tak hanya itu, si pohon tiri ini pun tak cukup sekedar tak dianggap namun juga  tak diperhatikan, tak dikasih makan, tak dirawat dan tak disayangi oleh keluarga besarnya. Tapi ini cuma ungkapanku saja. He3x. Baca lebih lanjut

Pentingnya Silaturahim

Alkisah, ada seorang ibu bernama Maria. Suatu saat Maria mendatangi rumah sakit Islam Surakarta (YARSIS) untuk menjenguk putranya yang tengah tergolek di salah satu bangsal rumah sakit ini. Dalam suatu kesempatan, Maria bertemu dengan saudara kandungnya, Marta namanya. Timbullah dialog kecil karena ‘kebetulan’ tersebut.

Lho, mbak. Kok jauh-jauh ke Solo dari Jakarta ini dalam rangka apa? Dan kok mampir ke rumah sakit, memangnya mau menjenguk siapa?” tanya Maria kepada Marta setelah salaman dan berpelukan karena secara kebetulan dipertemukan di Rumah Sakit Islam Surakarta (YARSIS).

Ini dek, saya mau nengok anak saya sendiri. Di ruang Al Qomar. Lha sampeyan sendiri nengok siapa ke sini, dek?” jawab Marta dan sekaligus berbalik Tanya kepada Maria.

Sama mbak. Saya kesini mau besuk anak saya juga. Di ruang Al Qomar juga? Sama dong dengan saya mbak. Ya sudah. Monggo bareng saja ke sana. Siapa tahu kamarnya bersebalahan.” Ujar Maria.

Ngomong-ngomong putera mbak Marta kenapa kok sampai masuk rumah sakit.” tanya Maria menambahkan.

Saya sendiri juga tidak tahu. Katanya berkelahi dengan temannya di pondok.” Jawab Marta.

Beberapa saat kemudian, kedua saudara dekat tersebut sampai di ruangan Al Qomar. Ternyata, kebetulan kembali terulang. Anak masing-masing keduanya ternyata berada dalam satu ruangan di ruang Al Qomar. Selidik punya selidik dan setelah saling bercerita, masing-masing anak kedua saudara tersebut ternyata merupakan korban perkelahian yang karena cukup parahnya sampai membuat kedua anak tersebut dirawat inap di rumah sakit. Baca lebih lanjut

Kehangatan Sahur dan Buka Puasa Sunnah Bareng Keluarga di Rumah Setahun Silam

Suasana Ramadhan telah berlalu beberapa pekan lampau. Meskipun masih di bulan Syawal, namun warna kental suasana Ramadhan seolah terlalu cepat pergi hilang di telan bumi. Masjid-masjid kembali mengalami “kemajuan” shaff. Hiruk pikuk kaum muslimin yang berduyun-duyun menuju masjid sudah tak terlihat lagi. Masjid pun kembali terdiam sunyi.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, kondisi tersebut tidak terjadi di rumahku. Kendatipun aku rasakan memang mengalami penurunan sedikit semangat untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, namun penurunannya aku rasakan tidak terlampau parah. Dan aku mengharapkan di waktu yang dekat semangat “membakar” bulan Ramadhan kembali bergolak secepat mungkin.

Sepekan setelah lebaran, kami berusaha menghidupkan kembali suasana Ramadhan dengan berpuasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Faedahnya yang disebutkan seperti puasa selama satu tahun penuh mungkin memotivasi kami untuk menunaikan puasa sunah tersebut, kendatipun bukan hanya itu yang memotivasi kami untuk puasa.

Sejak memasuki pekan kedua itulah aku, ayahku, ibuku, dan adikku setiap hari bergantian puasa untuk menyelesaikan 6 hari Syawal. Kami memang tidak berpuasa enam hari syawal dengan langsung berurutan selama enam hari. Aku dan ayahku memang pernah melakukan puasa sunnah Syawal secara berurutan selama kurun waktu 3 tahun kemarin sejak tanggal 2 Syawal. Artinya setelah sehari berlebaran dan menikmati makan-makan dan minum-minum di sepanjang hari pada hari Idul Fitri, kami langsung melanjutkan sahur pada malamnya dan berpuasa pada hari setelahnya hingga tanggal 7 Syawal. Banyak sekali suka duka yang kurasakan saat aku melakukan puasa kala itu. Sukanya adalah aku bisa lebih cepat menyelesaikan puasa sunnah daripada orang lain. Sementara dukanya, banyak sekali. Karena pekan pertama bulan Syawal biasanya merupakan hari-hari yang biasanya diisi dengan acara silaturahmi ke sanak keluarga dan tetangga serta klien kerja, dan reuni kawan-kawan lama SD, SMP, atau SMA, maka mau tidak mau harus lebih kuat menahan lapar. Saat orang lain sedang merasakan nikmatnya makan-makan, kita mesti harus menahan untuk tidak makan dan minum. Selain itu, ternyata masyarakat kita belum terbiasa dengan kebiasaan puasa Syawal langsung pada hari kedua Syawal seperti yang kulakukan. Buktinya, aku sering dibilangin orang kalau aku tidak boleh puasa dulu sampai lebarannya selesai. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: