“Makan Gaji Buta”

Makan Gaji Buta”

Magabut,” kata salah seorang kawanku via Yahoo Massenger (YM) kepadaku. Magabut yang dimaksudkan kawanku yaitu ‘makan gaji buta’. Ucapan kawanku itu bernada canda namun juga sekaligus sindiran. Ia mengatakan demikian setelah sering melihatku online di YM dengan status aktif pada jam-jam kerja. Bahkan tak hanya itu, setiap kali ia mengajakku chatting aku hampir selalu stand by menjawab sapaannya. Karena itulah ia menyebutku sebagai pemakan gaji buta. Baca lebih lanjut

Baca, Baca, Baca & Internet

Baca, Baca, Baca & Internet

Hari pertama masuk kerja, saat itu hari menjelang sore, pak Alexander (atasanku langsung) baru saja masuk ruang kerjanya setelah seharian tidak berada di ruangan. Rapat katanya. Aku dan kawanku dipanggil masuk ruangannya. Dia pengin berkenalan dengan kami, bawahan barunya. Seperti perkenalan pada umumnya, kami berdua ditanyai asal tinggal, asal sekolah, dan latar belakang pendidikan tentang hal-hal lainnya. Sebagai perkenalan awal, aku hanya mengenalkan sedikit tentang diriku. Aku tidak ingin atasanku terlalu tahu seluk belukku. Informasi umum saja.

Setelah sedikit berkenalan, pak Alexander memberi kami arahan dalam bekerja di kantor. Sebagai awalan, kami diminta untuk mempelajari lebih dahulu berkas-berkas hukum yang ada di filling cabinet atau rak-rak lemari di ruangan. Melalui berkas-berkas dan dokumen-dokumen yang ada tersebut, kami diminta untuk bisa mengetahui kantor itu dan bagaimana perjalanan perusahaan itu. Dia meminta kami untuk lebih banyak belajar dan membaca terlebih dahulu selama beberapa waktu. Selanjutnya barulah ia akan mengajak diskusi bersama tentang perusahaan. Baca lebih lanjut

Seratus Sosok Karakter Dalam Satu Atap

Seratus Sosok Karakter Dalam Satu Atap

Tanggal 23 Juni 2009. Aku tiba di Gambir saat langit kota Jakarta masih gulita. Jam tangan menunjuk waktu 04. 23 WIB. Aku tak sendirian. Aku datang dengan tiga orang kawan yang baru kenal dua hari sebelumnya. Kami berangkat bersama dari Yogyakarta. Beberapa jam selanjutnya, kami akan masuk kerja hari pertama. Di Jakarta.

Setelah mandi dan sedikit rehat di kos adik salah satu teman baruku, kami berangkat menuju kantor baru kami. Dari Rawamangun naik Metromini 03 turun di Senen. Turun di Senen kami naik Metromini turun di Tugu Tani. Dari Tugu Tani kami menyusur jalan Menteng Raya. Setelah dua kali bertanya kepada dua orang Satpam yang berbeda, kami sampai juga di kantor. Kantor yang menjadi tempat kerja pertamaku setelah lulus kuliah.

Di depan gerbang kantor, seorang petugas berpakaian Satpam berdiri tegak dengan pandangan mata tajam. Badannya gempal, perut buncit. Dengan rambut kepala nyaris gundul dan kulitnya yang gelap makin menampakkan kesangarannya. Perlahan dengan sopan kami utarakan maksud kedatangan kami. Kemudian, ia meminta kami menunggu di sebuah ruang yang disebut Lounge.

Pukul 09.13 WIB. Kami terlambat 13 menit dari waktu yang ditetapkan. Beruntung kami masih diterima dengan keterlambatan itu. Di dalam Lounge, sudah menunggu seorang lelaki yang merekrut kami saat tes di Yogyakarta. Setelah berjabat tangan, kami pindah menuju ruang rapat di basement untuk diserahterimakan kepada urusan Sumberdaya Manusia (SDM) perusahaan tempatku bekerja. Proses rekrutmen kami memang melalui lembaga lain. Bukan langsung dari perusahaan. Baca lebih lanjut

Sampah Kertas di Sudut Ruangan Kantor dan Dunia Paperless

Sampah Kertas di Sudut Ruangan

Sampah Kertas di Sudut Ruangan (klik untuk perbesar gambar)

Sampah Kertas di Sudut Ruangan Kantor dan Dunia Paperless

Mewujudkan dunia paperless, ngirit, dan hemat ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Setiap hari, lebih dari 50 lembar kertas dalam keadaan normal terbuang sia-sia akibat seringnya salah cetak pada surat-surat, memo-memo, atau nota-nota dinas dan dokumen-dokumen lainnnya yang ku-print. Jumlah 50 lembar itu hanyalah jumlah kertas yang terbuang di ruangan bagian Corporate Secretary yang terisi oleh 6 orang saja. Dan itupun dalam kondisi kerja normal. Karena tak jarang pada posisi kerja tinggi, pernah aku menghabiskan lebih dari 1 rim sehari hanya karena dokumen-dokumen yang ku-print direvisi secara keseluruhan dan berulang-ulang oleh Manajer bagian-ku.

Foto di atas, adalah gambaran di ruangan bagian kantorku betapa banyak kertas-kertas yang terbuang percuma setiap harinya. Bayangkan jika sampah-sampah kertas ini dikumpulkan jadi satu dari keseluruhan sampah-sampah yang berada di bagian-bagian lain. Kemudian bayangkan juga jika seluruh perkantoran Jakarta membuang kertas-kertas nya seperti itu dan dikumpulkan jadi satu di sebuah lokasi. Dan bayangkan lagi jika seluruh kantor di Indonesia mengumpulkan sampah-sampah kertas seperti itu setiap harinya di satu lokasi tertentu. Barangkali, sampah-sampah kertas itu akan menumpuk setiap harinya mencapai puluhan ton setiap harinya. Mewujudkan dunia paperless agaknya masih terlampau sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat ini.

Lantas kenapa harus paperless?

Baca lebih lanjut

[Tepar] I Have No Idea Today

Tepar

Tepar

Hari ini aku benar-benar ga punya banyak waktu untuk menuliskan artikel atau sebuah postingan yang berbobot. Ide-ide untuk menuliskan postingan hari ini sih masih banyak terlintas di kepalaku. Cuman, waktu saja yang membuatku sulit untuk menuliskannya. Dari sejak pagi sampai kantor, kerjaan telah datang menumpuk. Siangnya pun tak kalah sedikit. Pekerjaan justru bertambah banyak. Puncaknya, sore hari aku justru dipanggil dua orang Manajer untuk membantu membuatkan matrik dan perubahan perjanjian serta menyelesaikannya malam ini karena keesokan hari Direksi akan menggunakannya untuk presentasi di depan klien untuk membicarakan dan melobi perjanjian yang harus kuselesaikan itu.

Sejak pukul 16.00 tadi, aku berada di depan laptop di ruang direksi untuk menyelesaikan kerjaan itu. Terpotong sholat maghrib yang dilanjutkan makan malam dengan sate padang yang dibeli dari depan masjid Cut Mutia, kerjaan pun masih harus dilanjutkan karena memang belum selesai. Barulah sekitar pukul 20.00 WIB, pada akhirnya kami berhasil menyelesaikan perbaikan-perbaikan dan revisi atas beberapa pasal dalam draft perjanjian yang disusun. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: