If It Is a Destiny, It Will Never Flee

Tampilan Akun Facebook Putri

Tampilan Akun Facebook Putri

Seperti biasa, menjelang akhir pekan setiap Jumat, saya pulang ke kota Solo naik kereta. Mengunjungi anak dan istri. Bedanya, jika biasanya KA Progo, tetapi kali ini KA Brantas relasi Pasar Senen-Kediri yang menemani perjalanan.

Sekira pukul 16.00 WIB tepat, KA Brantas mulai melaju meninggalkan Stasiun Pasar Senen. Saya duduk di gerbong 6 kursi 21B bareng-bareng sedulur PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Sebelah kiri saya, Bu Nunuk dari Gemolong sedangkan kanan saya, Mas Danang dari Solo. Sementara 2 kursi di depan saya ditempati mba Vina dari Madiun dan mas Adi dari Wonogiri. Kita berlima duduk di kursi 21ABC dan 22AB. Sedangkan kondisi kursi lainnya, seperti kursi 23DE ditempati sepasang suami istri. Lalu di depannya, kursi 24 D ditempati seorang pria paruh baya dan kursi 24E diduduki seorang gadis jilbab hitam dengan baju gamis bermotif bunga. Baca lebih lanjut

Perlukah PT. KAI Membuat Musholla di Gerbong Kereta?

Seorang Penumpang Kereta Tengah Shalat di Bordes

Seorang Penumpang Kereta Tengah Shalat di Bordes

Akhir-akhir ini kereta api di Indonesia kerap menjadi sorotan karena prestasi. Mulai dari penataan stasiun sampai penataan gerbong kereta dan penumpang. Namun sepertinya masih ada yang perlu ditambahi. Kalau ditanya bukankah kereta api saat ini sudah jauh lebih nyaman dibanding 5 tahun atau lebih lalu, maka saya akan jawab iya. Ya sekarang memang kereta sudah lebih nyaman.

Namun demikian, nyaman tentunya belum cukup. Perlu ada peningkatan lebih lagi dari sekedar ‘nyaman’. Peningkatan seperti apa? Misalnya seperti memberikan fasilitas ruang atau gerbong untuk shalat (musholla), ruang ibu menyusui, atau gerbong tidur.

Ahad, 12 Januari 2015 lalu, saya melihat di bordes gerbong kereta, sejumlah penumpang menunaikan shalat secara bergantian saat datang waktu Maghrib. Satu per satu, sejumlah penumpang shalat secara bergantian di atas karpet yang digelar sebagai alas shalat (sujud).

Pemandangan para penumpang menunaikan shalat dengan menggelar karpet atau sajadah sebenarnya sudah bukan pemandangan asing. Setiap saya naik kereta yang melewati waktu shalat, biasanya ada beberapa penumpang yang shalat. Ada yang duduk di kursi penumpang, ada yang berdiri seperti shalat biasa di lorong gerbong, ada yang berdiri di bordes.

Jadi, melihat banyaknya para penumpang yang menunaikan shalat di kereta, sepertinya PT. KAI perlu membuat ruang atau gerbong khusus untuk musholla. Selain itu juga perlu membuat tempat wudhu khusus yang jauh dari tempat najis. Sekarang ini, para penumpang kalau wudhu di toilet. Sementara toilet kereta sebagaimana diketahui merupakan tempat buang air kecil dan besar, yang najis.

So, gimana menurutmu sob?

(Foto diambil pada Ahad, 12 Januari 2015 di kereta Brantas dari Solo Jebres Pasar Senen)

PSO (Subsidi) 2015 Ditetapkan, Ratusan Penumpang KA Progo Kumpulkan Uang Syukuran

Penumpang Kereta Ekonomi Progo 'Urunan' Duit Syukuran Atas Turunnya PSO 2015

Penumpang Kereta Ekonomi Progo ‘Urunan’ Duit Syukuran Atas Turunnya PSO 2015

Ratusan penumpang kereta ekonomi Progo relasi Pasar Senen (Jakarta)-Lempuyangan (Yogyakarta) urunan mengumpulkan sejumlah uang untuk menggelar syukuran atas ditetapkannya anggaran Public Service Obligation (PSO) untuk kereta ekonomi jarak jauh. Aksi simpatik yang diinisiasi Komunitas Pejuang Pulang Jumat Kembali Ahad (PJKA) pada Jumat (9/1), berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp 1.412.000. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: