If It Is a Destiny, It Will Never Flee

Tampilan Akun Facebook Putri

Tampilan Akun Facebook Putri

Seperti biasa, menjelang akhir pekan setiap Jumat, saya pulang ke kota Solo naik kereta. Mengunjungi anak dan istri. Bedanya, jika biasanya KA Progo, tetapi kali ini KA Brantas relasi Pasar Senen-Kediri yang menemani perjalanan.

Sekira pukul 16.00 WIB tepat, KA Brantas mulai melaju meninggalkan Stasiun Pasar Senen. Saya duduk di gerbong 6 kursi 21B bareng-bareng sedulur PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Sebelah kiri saya, Bu Nunuk dari Gemolong sedangkan kanan saya, Mas Danang dari Solo. Sementara 2 kursi di depan saya ditempati mba Vina dari Madiun dan mas Adi dari Wonogiri. Kita berlima duduk di kursi 21ABC dan 22AB. Sedangkan kondisi kursi lainnya, seperti kursi 23DE ditempati sepasang suami istri. Lalu di depannya, kursi 24 D ditempati seorang pria paruh baya dan kursi 24E diduduki seorang gadis jilbab hitam dengan baju gamis bermotif bunga. Baca lebih lanjut

Iklan

Okoso-zukin, Jilbab Kekaisaran Jepang

Okoso-zukin

Okoso-zukin

Modelnya seperti jilbab. Pakaian ini disebut Okoso Zukin, salah satu model pakaian tradisional Jepang yang biasanya dipakai pada musim dingin oleh wanita-wanita Jepang. Menurut oldphotosjapan.com, Okosozukin pertama kali populer pada era Kyoho (1716-1736). Baca lebih lanjut

Sutarman Dipecat, Bagaimana Nasib Anggaran Jilbab Polwan Sebesar Rp 600 juta?

Anggaran Jilbab Polri Mencapai Rp600 juta (kutipan kliping dari Republika, 19/01/2015)

Anggaran Jilbab Polri Mencapai Rp600 juta (kutipan kliping dari Republika, 19/01/2015)

Kabar mengejutkan muncul setelah munculnya kabar mengejutkan sebelumnya seputar pencalonan Kapolri Budi Gunawan. Presiden Joko Widodo memecat Jendral Sutarman dari jabatan Kapolri. Untuk sementara, Jokowi menugaskan Wakapolri, Komjen Badrodin Haiti sebagai pelaksana tugas (Plt) Kapolri hingga Kapolri baru dilantik. Masa jabatan Sutarman berakhir di bulan Oktober 2015. Namun bukan ini bahasan saya.

Saya hanya ingin menyoroti bagaimana nasib rencana pembelian jilbab bagi Polwan yang mencapai sebesar Rp 600 juta. Akankah di tangan Kapolri yang baru nantinya, para Polwan yang ingin mengenakan jilbab sudah bisa secara resmi dan legal dilindungi instansi Polri? Maklum, sebelumnya mantan Kapolri Sutarman pernah menjanjikan anggaran pembelian jilbab Polwan akan selesai di bulan Agustus 2015. Masalahnya sekarang Sutarman sudah dipecat. Jadi gimana nasib jilbab Polwan? .

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

Duhai Sang Putri, Ajining Diri Gumantung Ono ing Busono lan Lathi

Menanggung dosa itu berat

Walau pun pada orang yang alim

Wajib manusia menutup aurat

Terutamanya pada wanita muslim

Ada sebuah cerita di sebuah kota di Jawa Tengah. Cerita ini kuperoleh dari seorang guru yang mengajar di sekolah menengah atas negeri di kota Solo. Alkisah, ada seorang mahasiswi yang hendak pulang dari kegiatan kampus. Pada saat itu, jarum jam menunjuk waktu pukul 9 malam. Meskipun di kota, bus-bus yang biasa berlalu lalang sudah waktunya pulang dan masuk ”kandang”nya. Begitu pula dengan angkot. Memang khusus untuk angkot, biasanya beroperasinya bisa nyampai pukul 12 malam. Hanya saja, sangat sedikit dan sulit untuk menemukan angkot di waktu malam, sekalipun di kota. Terlebih lagi, letak kampus si wanita tersebut berada di pinggiran kota. Untuk mencari taksi, dia setidaknya harus telepon ke taxi center terlebih dahulu. Dan dia sendiri tidak hafal nomor teleponnya.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil minivan menghampirinya. Mobil tersebut isinya pria semua. Hanya ada satu wanita usia tengah baya. Setelah membuka kaca mobil, salah seorang isi mobil tersebut lantas menawari tumpangan. Setelah berpikir sesaat, si wanita pun mengiyakan untuk ikut tumpangan mobil tersebut. Padahal waktu itu, si wanita sudah bingung dan dikecam rasa takut, apakah dia bisa pulang apa tidak. Ketika di mobil pun, si wanita tersebut juga masih merasa takut kalau ternyata dia justru salah masuk mobil. Dia takut jangan-jangan dia akan di”apa-apa”kan. Lantas, sang perempuan itu memberanikan untuk bertanya kepada para pria yang ada di dalam mobil di tengah perjalanan menuju rumahnya,

“kenapa mas-mas mau memberikan saya tumpangan?” ujarnya. Baca lebih lanjut

# Romadhon Kesepuluh: Mengenakan Jilbab Bukan Keistimewaan

Romadhon Kesepuluh: Jilbab Bukanlah Keistimewaan

Tempo hari di Romadhon Kedelapan, aku menulis tentang Jilbab* sebagai respon atas situasi dan kondisi yang kulihat di lingkungan sekitarku di awal bulan Ramadhan. Betapa banyaknya orang-orang berjilbab (selanjutnya kusebut jilbaber_pen) di waktu bulan puasa mengumbar kemesraan dengan pasangan, dan pacarnya saat jalan-jalan menungu beduk buka puasa atau di mall-mall kala siang hari tengah panas sekedar mencari suasana adem. Sebagian mereka tak malu bergandengan tangan dan berpeluk berkasih-kasihan.

Muncul pertanyaan di sebagian kawan, berjilbab kok pacaran? Berjilbab kok begitu? Berjilbab kok nge-gosip? Berjilbab tapi kok hatinya tidak dijilbabi? Selain itu, muncul pula fenomena -entah karena memang terpengaruh dengan stigma bahwa seorang yang berjilbab seharusnya laksana malaikat yang sempurna- atau hanya karena mencari alasan dari sekian ribu alasan untuk menjawab keengganan untuk berjilbab- yang menyatakan lebih baik menjilbabi hati terlebih dahulu daripada menjilbabi fisik. “Lebih baik saya menjilbabi hati saya dulu baru kemudian saya berjilbab beneran,” “Saya khan belum bisa membaca al Quran, jadi nunggu bisa baca al Quran dulu baru ntar berjilbab,” “Masak berjilbab tapi tidak bisa membaca Al Quran?” “Yang penting khan perbuatan dan hatinya, bukan pada jilbabnya,” “Aku ndak berjilbab yang penting sholat, puasa, bisa baca al Quran, dan taat pada ajaran Islam,” “Kalau aku berjilbab, aku takut ndak laku,” “Kalau aku berjilbab, aku bakal ndak bisa dapat pekerjaan yang kuinginkan,” “Aku akan berjilbab nanti kalau sudah bersuami,” “Aku akan berjilbab kalau nanti sudah punya anak,” “Aku akan berjilbab nanti kalau sudah tua,” dan aneka jawaban-jawaban serta pernyataan-pernyataan yang menjadi alasan untuk menunda mengenakan jilbab, bagi para muslimah.

Aku yakin kawan-kawan juga sering mendengar keluhan-keluhan semacam itu. Atau mungkin justru anda sendiri yang berkata seperti itu?

Pada prinsipnya, seorang muslimah berjilbab atau tidak berjilbab memang tidak bisa menjadi indikator utama kepemahamannya terhadap ajaran Islam atau indikator utama keimanan dan ketakwaannya. Bagiku, seseorang yang telah berjilbab tidaklah menjadikannya sebegitu istimewanya karena memang Jilbab tidaklah menjadikan seseorang “istimewa”. Kenapa? Baca lebih lanjut

# Romadhon Kedelapan: Jilbab

# Romadhon Kedelapan: Jilbab

Sampai sejauh ini, alhamdulillah puasa boleh dibilang masih terjaga. Dan sebagai permohonan semoga semakin ke depan, kualitas puasaku semakin meningkat. Amiin.

Kemaren, aku lihat status Facebook salah seorang kawan yang ada dalam list Facebook-ku. Namanya Nin Yasmine Lisasih. Adik tingkatku di Fakultas Hukum UNS. Dalam statusnya, ia menulis, “at BEC, upgrade HP sambil merhatiin org2 lewat.. Ada org pacaran, gandengan tangan, peluk2an.. Padahal bulan puasa begini.. Ironisnya lagi, tuh cewek pake jilbab lagi.. Dan nggak cuma satu pemandangan spt itu.. Masya Allah..” begitu tulisnya di status wall facebook-nya.

Aku cukup tertarik memperhatikan kalimat yang ia tulis dalam status FB-nya itu karena sangat sesuai dengan situasi dan kondisi yang juga aku lihat beberapa saat sebelumnya. Setelah minta izin copas sebagian materi status-nya, aku menulis dalam status Facebook-ku, “Ada org pacaran, gandengan tangan, peluk2an..; Padahal bulan puasa begini.. Ironisnya lagi, tuh cewek pake jilbab lagi..; Ada lagi yg pacaran cowoknya makan bakso, ceweknya pun juga makan bakso, pdhal ceweknya jilbaban. Dan msh byk lg pemandangan2 unik lainnya (pengin motret sbnre)…. Masya Allah..” demikian status yang ku tulis.

Fenomena sebagaimana yang ditulis oleh Yasmine di atas aku yakin juga sering kawan-kawan lihat di tempat-tempat umum. Pesatnya perkembangan pemakai jilbab di Indonesia bisa kita lihat fenomenanya sejak jatuhnya rezim Soeharto. Semenjak ambruknya rezim orde baru, kran kebebasan dalam segala bidang seolah dibuka selebar-lebarnya hingga menyebabkan euforia kebebesan (meminjam istilah Rhoma Irama). Salah satu yang memanfaatkan kran kebebasan itu adalah kaum jilbaber yang kemudian mulai bergerak mempopulerkan jilbab. Perkembangan jilbab pun boleh dibilang sangat pesat hingga sekarang. Hampir setiap langkah kaki kita berjalan tak sulit untuk menemukan wanita-wanita yang berbalut jilbab. Bahkan, aku pernah melihat seorang wadam pun juga memakai jilbab. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: