Indonesia Memang Lebih Indah Tanpa Kehadiran JIL (Jaringan Islam Liberal) | #IndonesiaTanpaJIL

Ahad pagi (29/04) itu, seperti biasanya, Rinengga Tiyang Pamungkas (23) sedang mengayuh sepeda onthelnya melintasi kawasan Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo. Namun, ketika hendak melintasi Bunderan Gladag Solo, mahasiswa FISIP, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itupun menghentikan laju sepedanya. Ia tertarik dengan pemandangan yang dilihatnya.

Saat itu, di sekitar kawasan Bundaran Gladag yang menjadi ujung dari area CFD, ada puluhan anak muda berkaos putih bertuliskan “#IndonesiaTanpaJIL” sedang menggelar aksi. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye nasional untuk menolak ide liberalisasi agama yang selama ini sering dilontarkan oleh kelompok liberal, salah satunya Jaringan Islam Liberal (JIL). Ternyata, pegiat #IndonesiaTanpaJIL di Solo menggelar gathering dan silaturahmi serta aksi tebar flyer sebagai kampanye pewaspadaan atas paham liberalisme agama, Ahad pagi, 29 April 2012. Baca lebih lanjut

Mewaspadai Gerakan Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (Sepilis)

Indonesia Damai Tanpa JIL

Indonesia Damai Tanpa JIL

Mewaspadai Gerakan Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (Sepilis)

Bismillahirrahmanirrahim

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. At-Taubah:32)

Pendahuluan

Pernahkah Anda mendengar sebuah ‘fatwa’ yang menyatakan beberapa hal berikut ini:

  1. Bahwa homoseksual adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan sehingga dengan begitu homosexual diizinkan dan diperbolehkan dalam Islam?

  2. Bahwa menikah beda agama itu boleh?

  3. Bahwa murtad dari Islam itu boleh-boleh saja dan tidak berdosa?

  4. Bahwa semua agama itu sama menuju jalan kebenaran?

  5. Bahwa Al Qur’an adalah kitab saduran yang mengedit keyakinan dari kitab suci Kristen sekte Ebyon?

Kalau Anda pernah mendengar adanya seseorang yang mengatakan hal-hal demikian itu, maka apa kira-kira yang ada dalam pikiran Anda? Baca lebih lanjut

Indonesia Damai Tanpa Jaringan Islam Liberal

Indonesia Damai Tanpa JIL

Indonesia Damai Tanpa JIL

Baca lebih lanjut

Semua Agama Sama ?

 

Semua agama sama. Semua agama mengajarkan kebaikan. Semua agama baik dan benar. Tak ada agama yang menganjurkan kejahatan kepada pemeluk-pemeluknya. Oleh karena itu, kita harus menjunjung tinggi toleransi agama. Mengajarkan budi pekerti keluhuran.”

Terlampau sering sepertinya kita (khususnya aku) mendengar kalimat-kalimat ‘indah’ itu. Dulu sewaktu bersekolah di SD, aku sudah sering mendengarnya di pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) yang diajarkan bapak/ibu guru. Dan sekarang kalimat itu semakin sering lagi nyaring terdengar terutama disuarakan oleh tokoh-tokoh yang sering muncul di televisi.

Berdasarkan pemahaman mereka, agama itu tidak ada bedanya. Agama Islam sama dengan agama Kristen. Agama Kristen sama dengan agama Katolik, Agama Katolik sama dengan Budha. Dan Budha sama juga dengan Hindu. Sehingga semua agama itu sama. Yang membedakan antara semua agama itu hanya namanya saja. Semua agama hakekatnya menuju pada Tuhan yang sama, hanya jalannya saja yang berbeda-beda. Baca lebih lanjut

Mewaspadai Kebangkitan Generasi Nurnaningsih !!!

Raden Nganten Nurnaningsih - Generasi Artis Bom Sex Pertama Indonesia

Raden Nganten Nurnaningsih - Generasi Artis Bom Sex Pertama Indonesia

Siapa itu Nurnaningsih? Kok ada istilah Nurnaningsih dan Generasi Nurnaningsih segala? Mungkin bagi sebagian kawan-kawan, nama Nurnaningsih memang tidak terlalu dikenal dan terdengar asing di telinga kita. Padahal pada tahun-tahun 1950-1970an, nama Nurnaningsih adalah nama yang sangat populer di kalangan jagad hiburan dan perfilman tanah air, Indonesia. Nurnaningsih adalah seorang bintang film terkenal pada era-nya yang memiliki banyak penggemar. Ketenarannya mungkin seperti nama Dian Sastro yang sukses membintangi film Ada Apa Dengan Cinta saat ini.

Namun, bukan itu yang membuat Nurnaningsih (selanjutnya disebut Nur) terkenal dan menjadi topik pembicaraanku saat ini. Nurnaningsih menjadi sangat terkenal dan dikenal saat ia membuat kontroversi dengan berani beradegan setengah bugil pada sebuah film yang berjudul Harimai Tjampa. Akibat adegannya, film itu sempat menimbulkan kehebohan di masyarakat umum pada tahun 1950an. Ia menjadi bintang film Indonesia pertama yang BERANI beradegan setengah bugil, sesuatu yang sama sekali belum pernah dilakukan bintang lain dan dalam film-film pendahulunya. Sejak saat itu, ia menjadi pionir, simbol, dan pemuka bintang ‘panas’ Indonesia (baca: Artis Bom Sex).

Saking terkenalnya, ia memiliki banyak penggemar dan pengidola yang tidak sedikit. Namun, tak sedikit diantara penggemarnya yang kemudian menulis dan mengungkapkan keprihatinan atas ‘kemajuan’ Nur dalam akting. Hingga dalam sebuah majalah, ada seorang penggemar yang mengirimkan surat terbuka melalui surat pembaca di majalah tersebut. Seorang penggemar menulis surat pembaca yang dimuat di majalah Kencana edisi No. II Tahun 1954 halaman delapan yang memuat pernyataan keprihatinan seorang penggemar aktris film layar lebar Nurnaningsih (RIP).

Surat pembaca itu adalah buntut dari lontaran kontroversial icon bintang panas Indonesia era 50-an ini yang menyatakan: “Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia.”

Isi surat selengkapnya, Baca lebih lanjut

Wanita-Wanita Indonesia yang Lebih Hebat Dari Kartini

 

Dewi Sartika

Dewi Sartika

 

Selama ini kita lebih mengenal sosok Kartini dan pemikirannya yang kerap disalahartikan sebagai dasar pijakan pemikiran dan tokoh kaum feminisme. Padahal, jika melirik dari usaha, langkah, hasil, dan idealisme serta karya-karya yang diusung wanita-wanita di bawah ini, gerak lajunya telah berada jauh di depan Kartini. Hanya saja, nama-nama mereka tidak terlalu kita kenal. Kita lebih mengenal sosok Kartini yang justru menjadi terkenal karena dipromosikan oleh seorang noni Belanda.

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar, seorang sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia, menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan sebagai tokoh yang lebih pantas dibandingkan seorang Kartini, seperti Dewi Sartika di Bandung danRohana Kudusdi Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947), bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung.

Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama di negeri ini. Rohana lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Baca lebih lanjut

Bemo Sayang, Bemo yang Malang

Bemo (si Kecil yang Tersisa)

Aku yakin anda sudah tahu foto apa yang nampak di samping. Sebuah mode transportasi yang dikenal dengan sebutan Bemo (Becak Motor). Aku mengambil foto itu saat tengah berjalan kaki menuju Mall Mangga Dua pada sebuah kesempatan.

Menarik bagiku untuk mengambil gambar Bemo yang masih tersisa di Jakarta karena setahuku mode transportasi umum ini sudah dilarang beroperasi di Jakarta oleh pemerintah Jakarta sejak diterbitkannya Instruksi Gubernur Nomor 33 tahun 1996 tentang Peningkatan Pelayanan dari Kendaraan Bemo menjadi Bus Kecil. Tapi nyatanya kendaraan tua ini masih menunjukkan “pemberontakannya” melawan kebijakan pemerintah yang tidak mendukung keberadaannya. Hingga kini berarti perlawanan mereka masih belum terpatahkan pemerintah. Mereka masih eksis berseliweran di ruas-ruas jalanan tertentu di Jakarta meskipun tidak memiliki surat-surat karena memang STNK sudah tidak diterbitkan lagi untuk Bemo. (*geleng-geleng. ) Konon, pelarangan Bemo ini disebabkan karena mencemari lingkungan dari asap yang dikeluarkannya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: