Setelah Trump Jadi Presiden AS

trump-2Donald Trump sudah bisa dipastikan bakal menjadi Presiden Amerika Serikat. Ia mengalahkan Hillary Clinton dalam pemilu setempat. Banyak publik Indonesia bahkan dunia yang terkejut, tapi faktanya demikian. Kemenangan Trump ini tentu memiliki implikasi terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia. Indonesia yang sejauh ini lebih dekat berhubungan dengan China berpotensi akan digoyang Amrik, kalau Presiden Joko Widodo tetap memilih dekat dengan China. Kecuali, jika China-AS membuat poros kerjasama baru. 🙂 Baca lebih lanjut

Iklan

Mia Audina, Antara Indonesia atau Belanda

mia-audina-ketemu-menporaMIA AUDINA, ANTARA INDONESIA ATAU BELANDA

Ia menjadi salah satu ‘pahlawan’ pengharum nama Indonesia di jagad olahraga. Torehan medali perak-nya di Olimpiade Atlanta 1996. Ia juga merupakan anggota peraih Piala Uber bagi tim Indonesia pada tahun 1994 dan 1996.

Delapan tahun kemudian, pada Olimpiade Athena 2004 ia kembali meraih medali perak. Namun kali ini bukan bersama tim Indonesia, melainkan di bawah bendera Belanda. Ia menjadi Warga Negara Belanda setelah menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda.

Awal Agustus 2016, Mia Audina menemui Menpora. Kedatangannya untuk menanyakan masalah tunjangan.

Seperti diketahui, Kemenpora baru saja membuat terobosan berupa pemberian tunjangan hari tua bagi para peraih medali Olimpiade; Emas Rp20jt/bulan, Perak Rp15jt/bulan, Perunggu Rp10jt/bulan selama seumur hidup.

“Saat ini saya memang WNA Pak Menteri, tetapi saya menanyakan penghargaan dan tunjangan untuk olimpiade waktu saya WNI saat meraih medali. Saya mohon kebijakan Pak Menteri agar saya mendapat penghargaan dan tunjangan itu,” kata Mia Audina.

Saat meraih medali perak pada Atlanta 1996, Mia Audina masih berstatus WNI. Karena itulah, Mia Audina menanyakan perihal tunjangan itu kepada Menpora. Sementara, atas keberhasilannya meraih perak di Athena 2004 dengan bendera Belanda, pemerintah Belanda hanya memberi bonus, tidak ada tunjangan hari tua seperti di Indonesia.

Bagaimana pendapat Anda?

Kesederhanaan Dalam Cengkaruk

cengkarukKESEDERHANAAN DALAM CENGKARUK

Cengkaruk, sejenis penganan yang dibuat dari nasi yang dikeringkan kemudian digoreng. Cengkaruk merupakan contoh konkret kesederhanaan masyarakat Jawa dalam bidang makanan dan kuliner karena pada dasarnya penganan ini adalah bagian dari makanan utama yang tersisa dan nyaris dibuang. Karakter cengkaruk renyah seperti kerupuk. Penganan ini contoh konkret tipikal masyarakat Jawa yang berusaha menghindari hal-hal yang mubazir. Cengkaruk telah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Silakan cekkbbi.web.id/cengkaruk

Kalau Indonesia Negara Islam, Tarif “Pajak” Ngga Segede Ini

pajak*KALAU INDONESIA NEGARA ISLAM, TARIF “PAJAK” NGGA SEGEDE INI*

Saya dapat simulasi perhitungan ini dari Twitter di antara tagar2#SayaBayarPajak yang jadi trending topic di Twitter. Mudahnya yang saya pahami, jika Anda punya penghasilan sebesar Rp600juta selama setahun. Maka pajak penghasilan (PPh) yang wajib dibayarkan singkatnya sebesar Rp125juta, atau sekitar 20%. Perhitungannya ada di gambar.

Menurut Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh, tarif perhitungannya seperti ini:
sampai dengan Rp50juta sebesar 5%
di atas Rp50juta s.d. Rp250juta sebesar 15%
di atas Rp250juta s.d. Rp500juta sebesar 25%
di atas Rp500juta sebesar 30% Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #4 [Habis]

 

HB IX

Masa Hidup di bawah (Ketiak) di bawah Belanda dan Pasca Proklamasi RI

Sepeninggal HB V, maka tongkat estafet kesultanan dipegang oleh adiknya, Raden Mas Ariojoyo yang bergelar Hamengkubuwana VI. Pada masa pemerintahannya terjadi gempa bumi yang besar yang meruntuhkan sebagian besar Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Tugu Golong Gilig, Masjid Gede (masjid keraton), Loji Kecil (sekarang Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta) serta beberapa bangunan lainnya di Kasultanan Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui, ketika HB V masih hidup dan bertahta, Ariojoyo dikenal sebagai penentang keras kebijakan politik Kasultanan yang menjalin hubungan dekat dengan pemerintah Hindia-Belanda. Namun setelah ia sendiri yang bertahta melanjutkan pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, ia justru menelan ludah sendiri.

Semasa pemerintahannya, dia justru melanjutkan kebijakan dari kakaknya yang sebelumnya dia tentang keras. Tapi lambat laun hubungan dengan pemerintahan Hindia-Belanda agak mulai menuai konflik terutama karena keraton Yogyakarta kala itu banyak menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh pemerintah Hindia-Belanda dan Kerajaan Belanda. Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #3

Masa Keharmonisan Yogyakarta dengan Belanda & Jatuhnya Pamor Keraton di Mata Rakyat

Perkembangan pemerintahan di Yogyakarta memang unik. Jika sebelumnya diceritakan bahwa HB II memerintah selama tiga periode, maka puteranya, Hamengkubuwana III menjadi raja selama dua periode. Periode pertama dijalani saat ayahnya dipaksa turun tahta oleh Belanda.

HB III memiliki nama asli Raden Mas Surojo. Ia putra Hamengkubuwana II yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Pada bulan Desember 1810 terjadi serbuan tentara Belanda terhadap Keraton Yogyakarta sebagai kelanjutan dari permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Herman Daendels. HB II diturunkan secara paksa dari tahta. Herman Daendels kemudian mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Hamengkubuwana III berpangkat regent, atau wakil raja. Ia juga menangkap dan menahan Pangeran Notokusumo saudara Hamengkubuwana II di Cirebon.

Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut jajahan Belanda terutama Jawa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hamengkubuwana II untuk naik takhta kembali dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Desember 1811.

Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya mengenai pertentangan HB II dan Thomas Rafles yang mengakibatkan HB II dibuang ke Penang, maka ia pun kembali kehilangan tahtanya. Maka secara otomatis, Hamengkubuwana III kembali naik sebagai raja Yogyakarta. Baca lebih lanjut

Rangkuman Sejarah Keraton Kasultanan Yogyakarta #2

Masa Intrik ‘Perang’ Saudara antara Yogyakarta dan Surakarta

Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari Kebanaran menuju Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer.

Dalam perkembangan berikutnya, Yogyakarta dan Surakarta memang belum bisa rukun. Paku Buwono IV mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama “Mangkubumi” untuk saudaranya. Memang dalam Perjanjian Giyanti tidak diatur secara permanen soal suksesi Kasultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung Jawab Kerajaan. PB IV ini lambat laun pun kemudian mulai berani melawan VOC dan berusaha mengalahkan Yogyakarta dan Mangkunegaran (Raden Mas Said). Melihat gelagat itu, VOC pun lagi-lagi menggunakan siasat adu domba-nya. VOC kemudian bersekutu dengan HB I dan Mangkunegara I (Mangkunegara I adalah Raden Mas Said yang setelah lama berjuang dalam pemberontakan akhirnya menyerah_pen). Persekutuan ini kemudian melakukan rencana penyerangan namun diawali dengan pengepungan istana Kasunanan Surakarta. Pakubuwana IV akhirnya mengaku kalah tanggal 26 November 1790. Berakhirlah pertikaian Surakarta dan Yogyakarta. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: