17 Agustus 1945 Bertepatan Dengan 17 Ramadhan 1364 H ?

Hari 17 Boelan 8 Tahoen '05

Hari 17 Boelan 8 Tahoen ’05

17 Agustus 1945 Bertepatan Dengan 17 Ramadhan 1364 H ?

Bermula dari pernyataan salah seorang penceramah Ramadhan yang sengaja diundang di mushala kantor bernama Habib Mahdi Al-Athas yang menyatakan bahwa 17 Agustus 1945 adalah bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1364 H, maka aku tertarik untuk meneliti lebih lanjut ke-shahih-an pernyataan beliau. Betulkah tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan tanggal Proklamasi Indonesia bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1364 H ?

Baca lebih lanjut

Bibi Kembali, Aku Sudah Tidak Perlu Nyuci

Bibi Kembali, Aku Sudah Tidak Perlu Nyuci

Beberapa orang di Jakarta dan kota-kota besar seringkali harus ekstra lebih repot dibanding hari-hari biasa pada saat lebaran. Pemicunya rata-rata karena bibi, mbak, atau pembantu mudik pulang kampung selama beberapa hari. Pada saat itulah orang-orang yang sudah terbiasa hidup tergantung dengan pembantu benar-benar dibuat pusing. Pada saat itulah mereka baru merasakan arti penting dan vital seorang pembantu di rumahnya. Tak jarang diantara mereka yang harus jatuh sakit karena kecapekan mengerjakan kerjaan rutin yang biasa dilakukan pembantu mereka di rumah, mulai dari nyuci, nyapu, ngepel, dan aneka pekerjaan rumah tangga lainnya.

Selama sepekan kemaren dari sejak 15 September – 21 September 2010, aku memiliki perasaan yang hampir sama dengan mereka-mereka itu. Meskipun tidak sebegitu dibuat pusingnya oleh ketiadaan bibi di kost, aku cukup merasakan hilangnya keseimbangan dalam rutinitas. Aku baru merasakan betapa bibi selama ini cukup membantuku, membantu kami seluruh penghuni kos. Selama sepekan, kami yang terbiasa dicucikan dan disetrikakan bajunya oleh bibi harus turun tangan sendiri melakukan dua pekerjaan yang terkesan mudah itu. Bukan persoalan mencuci atau menyetrikanya yang bagi kami sulit dan hilang “keseimbangan”, tetapi waktu lah yang menghambat kami. Baca lebih lanjut

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri

Setelah 1 bulan penuh umat Islam berpuasa guna meraih derajat ketakwaan, maka tibalah hari Idul Fitri. Hari dimana kita kembali berbuka sekaligus hari raya dimana kita memetik buah ketakwaan. Namun Idul Fitri bukanlah final dari aktivitas kita. Idul Fitri justru menjadi awal hari kita mempertahankan ketakwaan sekaligus ujian sebenarnya ketakwaan kita. Mampukah kita menjaga tingkat derajat ketakwaan yang telah kita rintis selama bulan Romadhon. Mampukkah kita mempertahankan amal ibadah yang selama bulan Romadhon kita lakukan dengan ringan pada bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya.

Terakhir kata, Ahmed Fikreatif mengucapkan kepada semua blogger sekalian –khususnya blogger muslim- :

Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum. Kullu ammin wa antum bi khoir. Minal aidin wal faizin.”

Ahmed Fikreatif

.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.

“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”

%d blogger menyukai ini: