[HIDUP MANUSIA] Antara Mengisi Cangkir dengan Kerikil atau Pasir?

Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Kita seringkali melihat pada diri kita betapa kita telah sempurna atau mendekati sempurna. Segala cita-cita yang kita raih seolah-olah semakin menambah kebanggan pada pencapaian kita dan kesempurnaan itu. Bagi seorang pelajar, memperoleh nilai maksimal pada mata pelajaran atau ujian atau memperoleh peringkat 10 besar bahkan terbaik menjadi kebanggan tersendiri tentunya. Bagi seorang mahasiswa, kesempurnaan itu mungkin bisa terlihat dari betapa cepatnya kita lulus kuliah dengan nilai yang memperoleh predikat summa cumlaude.  Dan bahkan kemudian langsung melanjutkan untuk studi S2 bahkan S3.  Sementara bagi seorang karyawan atau pegawai, kesempurnaan itu mungkin dikesankan dengan kedisplinan berangkat pagi dan pulang petang meskipun hanya membawa penghasilan pas-pasan. Atau bagi sementara karyawan lain bisa saja diartikan dengan jabatan yang kita terima serta gaji yang lebih dari cukup untuk kebutuhannya bersama keluarganya.

Demikianlah mungkin sebagian orang ketika telah melakukan sesuatu sebagaimana hal di atas merasa bahwa dirinya telah sempurna. Si A, seorang mahasiswa yang sangat berprestasi dengan peroleh IPKnya yang tak pernah kurang dari 3,5. Aktivitasnya pun tak kurang dengan ikutbeberapa organisasi kegiatan mahasiswa. Asisten dosen merupakan sambilannya di sela-sela prosesnya menyelesaikan skripsi. Ia paun terbilang berasal dari keluarga yang cukup kaya serta memiliki paras yang cukup cantik. Seolah-olah si A atau orang-orang di sekitarnya melihat bahwa ia seperti Cangkir yang penuh dengan pasir. Baca lebih lanjut

Peci dan kepala

Peci dan kepala

Suatu saat, ada seorang santri pesantren yang melihat peci putih yang dikenakannya terasa sempit. Ia coba beberapa kali, pecinya masih saja terasa sempit saat dikenakan. Akhirnya, tanpa pikir panjang, santri pesantren tersebut pun segera berangkat ke pasar. Ia pergi ke pasar untuk membeli peci baru yang pas dikenakan di kepalanya. Apa yang dilakukan oleh santri pesantren itu tentu saja benar. Ia memutuskan membeli peci baru untuk menggantikan peci lama yang dimilikinya karena sudah terasa sesak saat dikenakan. Akan kelihatan bodoh jika si santri justru mengecilkan kepalanya agar peci yang dikenakannya pas saat dipakai. Bukankah demikian? Baca lebih lanjut

[Biografi Orang Biasa] Sairun

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Foto Sairun Belum Tersedia (Insya Allah Menyusul Kalau Memang Diperlukan)

Tingginya berkisar 160 centimeter. Rambut di kepalanya hampir keseluruhan beruban menandakan dirinya telah berusia tua. Kumis yang memutih menghias diantara sela bibir dan hidungnya. Berperawakan sedang, orang ini menaiki motor xxx yang sudah butut setiap harinya ke kantor tempatnya bekerja.

Sebenarnya, ia sudah memperoleh MBT, masa bebas tugas. Namun karena perusahaan tempatnya bekerja masih membutuhkan tenaganya karena prestasinya selama mengabdi untuk perusahaan, maka ia masih memperoleh kesempatan bekerja dengan status pegawai kontrak pendek.

Lika-liku kehidupan pria ini menarik untuk kita jadikan sebagai sebuah pelajaran. Terlahir pada tahun 1952, orangtuanya memberi nama Sairun. Ia tidak tahu apa arti nama Sairun. Terlahir sebagai anak seorang yang bukan keluarga berkantong tebal, ia tidak bisa menghabiskan masa kecilnya dengan bermain-main.

Kampung halamannya di Tegal tidak terlalu memberikan memori yang menyenangkan untuk dikenang karena sejak bangku Sekolah Dasar, ia sudah harus belajar bekerja. Berjualan koran atau berjualan barang-barang tertentu yang bisa memperoleh uang akan dilakukannya. Baca lebih lanjut

Semua Hanya Wang Sinawang….

Wang Sinawang

Wang Sinawang

Pada sebuah kesempatan kumpul bareng. Taufik, Arief, Wawan dan Bayu (bukan nama sebenarnya) terlibat obrolan santai seputar keadaan mereka dengan masing-masing aktivitas keseharian mereka.

“Enak ya kamu…, gaji lumayan besar. Status tetap. Sudah dapat remunerasi. Tunjangan masih dapat macam-macam. Belum uang plus-plus yang lain yang bisa diperoleh..”, ujar si Taufik, pegawai honorer sebuah perusahaan swasta kepada Arief yang bekerja di Kantor Pajak.

“Ah, nggak juga. Kamu lebih enak. Kerjanya tidak terlalu bersinggungan dengan hal yang syubhat. Bersih dan barokah. Santai dan masih bisa kemana-mana. Masih berada di pulau Jawa. Dekat dengan orang-orang yang dicinta. Sementara aku harus berada di luar Jawa dan berada di daerah yang jauh dari aktivitas perkotaan.” Jawab Arief.

“Tapi, kalau dipikir-pikir, paling enak dan beruntung itu Wawan. Lulus kuliah langsung bekerja dicarikan orangtua. Tidak perlu susah-susah mencari. Orangtua mu sudah cukup lebih dari kaya. Mobil sudah dibelikan. Motor disediakan. Rumah dibuatkan. Posisi sangat dekat dan tinggal sekota bahkan serumah dengan keluarga di Solo. Masuk pagi biasa pulang kantor sore hari. Kalau malam masih bisa angkringan. Betapa nyamannya ya Wan.” Ujar Bayu memotong pembicaraan antara Taufik dan Arief sekaligus mengungkapkan pendapatnya yang beda dengan keduanya.

“Wah, kalau dilihat dari luar sih memang begitu Bay. Seolah-olah aku ini di mata kalian memang enak. Semuanya serba disiapkan orangtua. Tapi hatiku merasa tidak nyaman bro. Apapun itu, kerja dengan melalui proses nepotisme itu tetaplah tidak mengenakkan ghati dan selalu bertentangan dengan hati nurani. Apalagi perusahaan itu bukanlah perusahaan keluargaku sendiri. Selain itu, justru dengan banyaknya bantuan orangtuaku membuat hidupku ini seolah tidak pernah bisa lepas dari kebebasan. Aku cenderung didikte mereka. Mau gini tidak boleh, gitu tidak boleh. Aku tidak menjadi diri sendiri. Bahkan di usiaku yang sudah mau menginjak umur 30 tahun ini pun aku belum memperoleh sinyal perizinan untuk menikahi seorang wanita. Sementara kalian khan sudah menikah dan menikmati keluarga. Apapun itu, yang enak hidup dengan kebebasan tanpa ada paksaan bro. Kebebasan yang biasa saja lah sudah cukup. Aku bisa menjadi diriku sendiri bukan menjadi wayang bagi kedua orangtuaku.” Jawab Wawan, merespon pendapat Taufik.

“Paling enak justru kamu Bay. Hidup bebas. Kerja tidak di bawah tekanan siapapun. Mau berangkat jam 7 bisa, jam 9 pun tidak apa-apa. Kebebasan kamu itu sebenarnya justru merupakan hal yang paling indah Bay. Jika aku, Taufik, dan Arief harus bekerja dengan durasi waktu rutin begitu-begitu saja dan masih sering kena marah atasan. Kalau kamu khan bebas. Kamu-lah yang mungkin justru memarahi anak buah kamu. Masalah uang juga, kamu memperoleh penghasilan yang tidak sedikit dari usahamu. Setiap hari bisa nongkrong di Angkringan. Mau mencari pacar atau calon istri punya keleluasaan akses. Kamulah yang beruntung Bay.” Tambah Wawan mengungkapkan pendapatnya tentang Bayu, yang memiliki sebuah usaha sendiri.

***

Diskusi di atas adalah sebuah diskusi biasa yang sering kulihat dan kusaksikan serta kualami pada obrolan-obrolan antar teman atau sahabat yang memiliki aktivitas keseharian yang berbeda-beda yang biasanya muncul saat pertemuan bersama atau reuni (kecil-kecilan atau besar-besaran). Baca lebih lanjut

[Inspiratif] Hari Ini Aku Belajar Dari Seekor Siput [A Must Read]

Siput

Siput

Hari Ini Aku Belajar Dari Seekor Siput

Jangan pernah meremehkan siapa dan apapun di segala bidang! Demikian sebuah pesan yang benar-benar kutanamkan dan kupertahankan dalam dadaku. Kalimat itu menurutku perlu kutanamkan kuat-kuat karena kecenderungan seseorang yang mudah meremehkan orang yang dianggapnya lebih rendah dalam hal tertentu.

Sebuah ungkapan yang selalu kuingat untuk meredam dan mengikis sikap meremehkan orang lain dari dadaku adalah dengan melihat peran sebuah rantai, mur, baut, roda, atau sekedar karet pentil pada sebuah sepeda atau motor. Meskipun peran organ-organ kecil itu seolah remeh, namun tanpa mereka sebuah sepeda atau motor tidak bisa berjalan dengan lancar dan baik.

Nah, hari ini aku diberikan banyak pelajaran dari seekor siput kecil yang menjijikkan bagi sebagian orang. Silakan anda memerhatikan foto-foto atau gambar-gambar di bawah ini. Foto ini pertama kali kulihat di sebuah forum (KASKUS-klik di sini) yang di-post oleh seorang “Kaskus Addict” ber-ID VodkaHijau, seorang bonek Surabaya yang menjadi member fanatik Kaskus. Entah darimana VodkaHijau memperoleh foto itu aku tidak menanyakannya. Namun dugaanku sih yang lebih awal meng-upload foto ini adalah seseorang ber-ID creacker_october, di situs Photobucket. So, jika ada yang mengklaim foto di bawah ini adalah karya anda, maka aku mohon maaf sekaligus minta izin untuk menampilkannya di blog ini. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: