Peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965

Prasasti Perisai Pancasila di Kedung Kopi

Seusai shalat Subuh berjamaah di Masjid dekat rumah pada Ahad pagi tadi (22 Oktober 2017), imam masjid naik ke atas mimbar menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum). Imam shalat yang berusia sekira 60an tahun itu menyampaikan sebuah hadis yang memperingatkan umat agar mewaspadai suatu zaman dimana Islam dan Al Quran tinggal hanya ajarannya, bangunan Masjid bermegahan tetapi tak ada kegiatan Islam di dalamnya, serta banyak ulama jahat yang terkenal berbicara membela buta penguasa hanya untuk memperoleh harta dan kesejahteraan semata. Ia pun menyinggung sedikit tentang suatu peristiwa di tahun 1965 saat PKI meneror masyarakat yang berlawanan ideologi dengan mereka yang tak mengindahkan ajaran agama bahkan melecehkannya tanpa takut terhadap ancaman neraka apalagi dosa.

Kultum yang disampaikan imam masjid seusai shalat Subuh itu mengingatkan penulis pada peristiwa tepat 52 (lima puluh dua) tahun silam di kawasan ujung timur kota Surakarta di tepian sungai Bengawan Solo, di perbatasan kampung Pucangsawit dan Sewu, yang disebut *Kedung Kopi*. Baca lebih lanjut

Solo & Gerakan 30 September

SOLO & GERAKAN 30 SEPTEMBER

Bendera merah putih berkibar setengah tiang di halaman Balaikota Surakarta pada Sabtu, 30 September 2017.

Lima puluh dua (52) tahun silam, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan Gerakan 30 September 1965 atau yang biasa disebut Gestapu atau G30S/PKI, Oetomo Ramelan -walikota Surakarta atau Solo- menyatakan dukungan terhadap gerakan tersebut yang kemudian memunculkan Dewan Revolusi. Sayang, gerakan tersebut gagal dan dengan mudah dan cepat dipatahkan oleh TNI. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: