[HIDUP MANUSIA] Antara Mengisi Cangkir dengan Kerikil atau Pasir?

Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Ilustrasi Cangkir (Source: Maramissetiawan)

Kita seringkali melihat pada diri kita betapa kita telah sempurna atau mendekati sempurna. Segala cita-cita yang kita raih seolah-olah semakin menambah kebanggan pada pencapaian kita dan kesempurnaan itu. Bagi seorang pelajar, memperoleh nilai maksimal pada mata pelajaran atau ujian atau memperoleh peringkat 10 besar bahkan terbaik menjadi kebanggan tersendiri tentunya. Bagi seorang mahasiswa, kesempurnaan itu mungkin bisa terlihat dari betapa cepatnya kita lulus kuliah dengan nilai yang memperoleh predikat summa cumlaude.  Dan bahkan kemudian langsung melanjutkan untuk studi S2 bahkan S3.  Sementara bagi seorang karyawan atau pegawai, kesempurnaan itu mungkin dikesankan dengan kedisplinan berangkat pagi dan pulang petang meskipun hanya membawa penghasilan pas-pasan. Atau bagi sementara karyawan lain bisa saja diartikan dengan jabatan yang kita terima serta gaji yang lebih dari cukup untuk kebutuhannya bersama keluarganya.

Demikianlah mungkin sebagian orang ketika telah melakukan sesuatu sebagaimana hal di atas merasa bahwa dirinya telah sempurna. Si A, seorang mahasiswa yang sangat berprestasi dengan peroleh IPKnya yang tak pernah kurang dari 3,5. Aktivitasnya pun tak kurang dengan ikutbeberapa organisasi kegiatan mahasiswa. Asisten dosen merupakan sambilannya di sela-sela prosesnya menyelesaikan skripsi. Ia paun terbilang berasal dari keluarga yang cukup kaya serta memiliki paras yang cukup cantik. Seolah-olah si A atau orang-orang di sekitarnya melihat bahwa ia seperti Cangkir yang penuh dengan pasir. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: