Kopet

Kopet

Sudah lama aku berkeinginan jalan-jalan di kawasan bantaran sungai Bengawan Solo di ujung timur kota Solo. Setelah lama sekali tidak blusukan di bantaran Bengawan Solo, terakhir usia SD kelas 6, pada akhirnya aku menuntaskan klangenan lamaku itu meski aku belum merasa puas. Dikarenakan ada keperluan dengan salah seorang kawanku yang tinggal di kawasan Semanggi, Pasarkliwon, Solo, aku bisa sejenak jalan-jalan menyusuri bantaran Bengawan Solo, bulan lalu. Secara kebetulan, ternyata rumah kawanku berada tak lebih dari 100 meter dari Bengawan Solo. Pas sekali tentu saja.

Tak banyak keadaan yang berubah di kawasan bantaran Bengawan Solo antara saat aku masih SD dengan bulan lalu. Masih banyak penduduk miskin di sepanjang bantaran sungai. Masih nampak ada remaja-remaja yang menenggak minuman keras tradisional yang dikenal dengan nama Ciu berpesta semalaman hingga paginya masih terkapar lemas di jalan setapak. Masih banyak rumah-rumah penduduk yang belum (atau memang enggan) memiliki WC (water closet) sehingga tak sedikit diantara warga di sepanjang bantaran yang buang hajat di tepi Bengawan Solo dan di tempat lain. Baca lebih lanjut

Memanfaatkan Liburan Untuk Silaturrahmi

Silaturrahmi

Setiap pulang kampung ke Solo, hal yang selalu tidak boleh kutinggalkan adalah kegiatan berkunjung silaturahmi dengan kawan kerabat dan lain-lain. Kegiatan ini sengaja selalu kuagendakan setiap pulang kampung ke Solo karena silaturrahmi merupakan sebuah kegiatan yang sangat positif.

Kali ini, aku bersilaturrahmi ke beberapa kawan dan saudara. Pertama ziarah dan silaturahmi ke rumah bulik, paklik, simbah, dan ziarah kubur ke rumah simbah buyut. Silaturahmi berikutnya adalah mengunjungi keluarga anak-anak SDK, karena selama ini secara langsung maupun tidak langsung, aku juga banyak merepotkan mereka selama tinggal di Solo. Baca lebih lanjut

Pernahkan Kamu Jatuh Cinta Dengan Kawan Blogger-mu?

Sumber Gambar klik saja !

Sumber Gambar klik saja !

Pernahkan Kamu Jatuh Cinta Dengan Kawan Blogger-mu?

Orang Jawa bilang bahwa witing tresno jalaran soko kulino (terjemah bebasnya: timbulnya perasaan jatuh cinta bisa terjadi karena intensitas interaksi yang sering). Atau di dalam istilah lain kita juga mengenal peristilahan Cinlok (cinta lokasi). Kedua istilah tersebut memiliki kedekatan makna.

Nah aku rasa kita sering dengar cerita tentang orang-orang yang jatuh cinta lokasi di dunia nyata. Yang umum cinlok karena teman satu kelas, teman satu sekolah, atau teman satu kampus. Jatuh cinta antar teman sekampung atau teman sedesa pun juga sering kita lihat. Itu sudah umum terjadi.

Di masa kini, saat era informasi sudah sangat maju hingga menjadikan jaringan internet sudah seperti kebutuhan primer, jatuh cinta pun ternyata bisa terjadi di dunia maya. Jika hal ini terjadi sepuluh tahun lalu, barangkali akan dianggap tidak umum. Namun sekarang kurasa sudah banyak orang yang mengalami jatuh cinta di dunia maya. Bahkan tak hanya sekedar jatuh cinta, menikah setelah berkenalan di dunia maya pun sudah jamak terjadi di masa kini. Baca lebih lanjut

(Pura2) Ngamen di Perempatan Taman Menteng

(Pura2) Ngamen di Perempatan Taman Menteng

Ceritanya, setelah kurang lebih sejam berlari-lari main futsal aku kecapekan dan memutuskan istirahat. Setelah sekiranya badan cukup segar kembali, aku ambil kamera saku di dalam tas dan motret-motret objek bareng seorang kawan. Dan entah kenapa juga tiba-tiba kepikiran untuk ngelakuin hal yang ‘gokil’ dan nekad. Istilahnya “Berani Malu” gitu lah.

Setelah mencari-cari ide ‘kreatif’ motret gokil, barulah aku kepikiran untuk ngambil gambar saat ‘ngamen’ di lampu merah perempatan Taman Menteng. Aku beranikan diri dan aku siapkan mentalku untuk berani malu. Setelah berada di posisi yang diinginkan, kamera dipegang kawanku sementara aku ‘acting’ selayaknya pengamen di perempatan. Ku angkat tangan di depan dada seolah seperti tengah bertepuk sambil bernyanyi di samping pintu kemudi Mobil Jazz. Sang sopir hanya memandangku seolah penuh tanya, “Ini anak ngapain? Ngamen kok nggak niat gitu?” barangkali demikian yang terlintas di pikirannya. Sementara di jok belakangnya kulihat beberapa SPG Djarum cekikian senyum-senyum gak jelas. Kawanku beberapa kali mengambil gambar saat aku ‘beraksi.’ Baca lebih lanjut

Bus Tingkat Akan Hadir Kembali di Solo

 

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku terparkir di kawasan sumber

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku 'terparkir' di kawasan sumber

Bus Tingkat Akan Hadir Kembali di Solo

Kemarin karena libur long weekend peringatan hari Maulud Nabi SAW, aku sengaja pulang mudik ke Solo. Salah satu tujuannya tentu saja adalah berlibur dan yang utama tentu saja silaturahmi kepada orangtua. Saat jalan-jalan keliling kota yang disebut kawanku sebagai city of divine science and movement (entah apa lasannya_pen) ini, pesona Solo tak pernah luntur. Kemajuan zaman dan modernisasi seperti berjalan beriring dengan pesona klasik kota pewaris tahta kerajaan Mataram Islam ini. Bahkan barangkali pesona kota Solo justru lebih meningkat dibandingkan sepuluh tahun silam.

Sesampai di kota Solo, aku diberitahu kabar bahwa Solo akan kembali mengaktifkan serta mengeksiskan atau mengoperasikan kembali bus tingkat yang selama beberapa tahun telah menghilang. Kabar ini tentu saja sangat menggembirakanku. Dan aku yakin seluruh warga dan masyarakat kota Solo dan sekitarnya pasti merasa senang dan bangga mendengar kabar ini. Bus tingkat atau bus tumpuk, yang telah lama dirindukan kembalinya, itu akan menambah daya tarik dan pesona kota Solo Berseri (Bersih Sehat Rapi Indah). Baca lebih lanjut

Sejarah Bus Tingkat di Kota Solo

 

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku terparkir di kawasan sumber

Bus Tingkat Solo Yang Telah Jadi Besi Tua (Rongsokan) - Seingatku 'terparkir' di kawasan sumber

Nostalgia Naik Bus Tingkat Kota Solo

Satu lagi keistimewaan dan keunikan kota Solo yang tidak dimiliki kota lainnya. Yaitu keberadaan Bus Tingkat atau yang lebih dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan bus tumpuk atau bis tumpuk. Sayangnya, keunikan itu kini sudah tidak dijumpai lagi di kota bersumbu politik pendek itu. Bersama dengan kota Jakarta, Surabaya, dan Makassar, dulu bus tingkat pernah eksis cukup lama di empat kota tersebut. Hanya Solo lah satu-satunya kota kecil yang memperoleh keistimewaan itu.

Semasa masih SD, aku masih ingat dulu sering naik bus tingkat itu dari Pasar Kleco dan turun di Kusuma Sahid saat berangkat ke sekolah jika tidak ada yang mengantar. Terkadang, aku juga sengaja pulang naik bus tingkat dari Matahari Beteng (sekarang jadi Pusat Grosir Solo) dan turun di Toserba Relasi (Mendungan). Perjalanan pulang ini yang menarik karena menempuh rute lebih panjang dan lebih lama serta lebih sepi. Kalau naiknya pas berangkat sekolah, bus tingkat sering dijejali penumpang. Sementara kalau naiknya pas pulang sekolah, penumpangnya relatif lebih sedikit sehingga biasanya aku sengaja naik ke lantai dua dengan tujuan sambil melihat-lihat pemandangan sekitar rute yang dilalui bus siput itu (sengaja kusebut bus siput karena jalannya relatif sangat pelan dan lama). Baca lebih lanjut

Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan

Usaha PT. KA Mengurangi Dampak Kecelakaan

Tanggal 2 Februari lalu, aku dan beberapa kawan pulang ‘mudik’ ke Solo. Dari Stasiun Senen – Jakarta, kami menumpang kereta Sawunggalih kelas bisnis jurusan Kutoarjo. Pukul 07.10 WIB, kereta mulai meninggalkan Senen. Singkat cerita, kami masih tertidur saat kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Kroya. Tidur kami terputus setelah ada pedagang asongan yang sedikit berteriak mengabarkan kedatangan Kereta Lodaya dari Bandung jurusan Solo yang akan berhenti di stasiun Kroya. Seketika juga aku dan kawanku terbangun dan segera mengemasi barang bawaan untuk turun dari kereta Sawunggalih dan berpindah ke kereta Lodaya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: