Hati-Hati, Solo Rawan Penjambretan!!!

Jalan Siwalan, Jajar, Solo Rawan Kejahatan

Jalan Siwalan, Jajar, Solo Rawan Kejahatan

 “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Bu Yuni, tetangga depan rumah meninggal, kecelakaan, dikubur besok pk. 10.00”

Pesan singkat dari ibuku itu masuk di ponselku pukul 22:18 WIB, membuatku terjaga dari lelap perjalanan dari Jakarta menuju Solo naik kereta. Saat itu aku sudah sampai di Stasiun Telawa, stasiun kecil setelah Stasiun Semarang. Sekitar 2,5 jam kemudian, aku akan tiba di Stasiun Solo Jebres. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha,” ucapku lirih.

Segera kulipat matras yang menjadi alas tidur. Kuambil tas punggungku dan kuikatkan matras di samping tas. Kuambil air sekedar mencuci muka menghapus bekas kantuk lalu kusandarkan punggungku di kursi. Kuambil hela nafas panjang sementara pikiranku membayangkan musibah yang menimpa ibu Yuni. “Bu Yuni sudah meninggal. Begitu cepat Engkau memanggilnya Ya Allah.” Lintasan sketsa secara otomatis mengerakkan memori otakku tentang beliau bagai melihat slide gambar.

Beberapa jam sebelumnya, sekira ba’da maghrib, aku sebenarnya sudah menerima pesan singkat yang mengabarkan bahwa ibu Yuni mengalami koma di Rumah Sakit Panti Waluyo, Solo. Dikabarkan, ia mengalami koma setelah kecelakaan. Saat menerima pesan singkat pertama, aku masih berharap dan mendoakan kesembuhan untuk bu Yuni walaupun aku belum tahu bagaimana kondisi sebenarnya.

***

Begitu aku sampai di rumah dan masuk setelah mengucap salam, ibuku langsung memelukku hangat. Kelopak matanya berurai air mata. Sambil terisak dengan nada bergetar ibuku mengatakan, “le, ibu Yuni meninggal. Gusti Allah baru saja mundhut. Ngga ada yang tahu takdir-Nya. Pelajaran buat kita semua agar selalu mengingat Allah. Awakmu sehat-sehat to le?”

*** Baca lebih lanjut

Selamat Jalan Ustadz….

Ustadz Budi Prasetyo a.k.a Abah Zacky

Ustadz Budi Prasetyo a.k.a Abah Zacky

Selamat Jalan Ustadz….

Bagai petir yang terjadi di siang bolong, sekitar pukul 14.30 WIB. Ada pesan sms masuk di hp mengabarkan salah seorang ustadz yang pernah mengajariku bahasa Arab meninggal. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Beliau adalah ustadz Budi Prasetyo. Beliau merupakan seorang ustadz dan dai Solo yang selama ini malang melintang di dunia maya dengan nama Abah Zacky. Abah Zacky meninggal pada Kamis (9/12/2010) siang hari dalam sebuah kecelakaan di kawasan Yogyakarta.

Ustadz Budi, selama ini lebih dikenal sebagai ustadz dan ‘mujahid’ maya. Beliau aktif menulis sebagai blogger di blog http://abahzacky.wordpress.com/ dan http://bud1prasety0.wordpress.com/.

Kiprah dakwah beliau cukup banyak. Paling utama, ustadz Budi merupakan salah seorang ustadz pengajar di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Pabelan Sukoharjo. Beliau adalah Anggota Dewan Kyai PPMI Assalaam dan Alumni PPMI Assalaam Tahun 1990. Beliau juga tercatat sebagai pengurus pusat Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Beliau juga merupakan aktivis Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Tulisan-tulisan beliau selain menghiasi dunia maya juga tersaji secara rutin dalam kolom Tausiyah sebuah koran lokal Solo, harian Joglosemar. Baca lebih lanjut

Pentingnya Silaturahim

Alkisah, ada seorang ibu bernama Maria. Suatu saat Maria mendatangi rumah sakit Islam Surakarta (YARSIS) untuk menjenguk putranya yang tengah tergolek di salah satu bangsal rumah sakit ini. Dalam suatu kesempatan, Maria bertemu dengan saudara kandungnya, Marta namanya. Timbullah dialog kecil karena ‘kebetulan’ tersebut.

Lho, mbak. Kok jauh-jauh ke Solo dari Jakarta ini dalam rangka apa? Dan kok mampir ke rumah sakit, memangnya mau menjenguk siapa?” tanya Maria kepada Marta setelah salaman dan berpelukan karena secara kebetulan dipertemukan di Rumah Sakit Islam Surakarta (YARSIS).

Ini dek, saya mau nengok anak saya sendiri. Di ruang Al Qomar. Lha sampeyan sendiri nengok siapa ke sini, dek?” jawab Marta dan sekaligus berbalik Tanya kepada Maria.

Sama mbak. Saya kesini mau besuk anak saya juga. Di ruang Al Qomar juga? Sama dong dengan saya mbak. Ya sudah. Monggo bareng saja ke sana. Siapa tahu kamarnya bersebalahan.” Ujar Maria.

Ngomong-ngomong putera mbak Marta kenapa kok sampai masuk rumah sakit.” tanya Maria menambahkan.

Saya sendiri juga tidak tahu. Katanya berkelahi dengan temannya di pondok.” Jawab Marta.

Beberapa saat kemudian, kedua saudara dekat tersebut sampai di ruangan Al Qomar. Ternyata, kebetulan kembali terulang. Anak masing-masing keduanya ternyata berada dalam satu ruangan di ruang Al Qomar. Selidik punya selidik dan setelah saling bercerita, masing-masing anak kedua saudara tersebut ternyata merupakan korban perkelahian yang karena cukup parahnya sampai membuat kedua anak tersebut dirawat inap di rumah sakit. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: